Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Bantu Tenaga Medis
Dewasa ini, seiring dengan perkembangan teknologi, tidak sedikit perubahan yang terjadi dalam keberlangsungan hidup masyarakat terlebih di negara berk
Penulis: Debora Naomi
Ditulis oleh : Debora Naomi S P, S1 Sastra Prancis Universitas Gajah Mada
TRIBUNNERS - Dewasa ini, seiring dengan perkembangan teknologi, tidak sedikit perubahan yang terjadi dalam keberlangsungan hidup masyarakat terlebih di negara berkembang seperti Indonesia.
Meskipun begitu, ditinjau dari kebutuhan mendasar sebuah negara, bidang dan masalah kesehatan tetap menjadi yang perhatian utama untuk menunjang seluruh proses pengembangan suatu negara.
Oleh sebab itu, rumah sakit di Indonesia tidak hanya dituntut untuk menyediakan pelayanan kesehatan dengan baik, tetapi juga dengan penanganan yang tepat dan cekatan.
Akan tetapi, meskipun pihak rumah sakit dapat dikatakan sudah menyadari hal ini, pada kenyataannya tetap sulit menyediakan tenaga medis yang cekatan dan bekerja efisien dalam menangani pasien karena jumlah pasien yang cenderung lebih banyak dibandingkan tenaga medis yang tersedia.
Ketidakseimbangan yang terjadi dapat mengakibatkan dampak buruk bagi keberlangsungan proses perawatan dan pemulihan pasien di rumah sakit.
Salah satu peristiwa yang dapat diangkat menjadi fenomena akibat ketidakcekatan tenaga medis dalam menangani pasien, yaitu terjadinya kasus emboli.
Secara medis, emboli berarti suatu kondisi dimana terdapatnya gelembung udara pada pembuluh darah.
Emboli dapat berakibat fatal hingga meninggal dunia karena gelembung udara dalam pembuluh darah tersebut dapat tersalurkan ke otak maupun jantung.
Padahal, jika ditelaah emboli terjadi karena hal yang sangat sederhana, yakni keterlambatan dalam mengganti cairan infus.
Sampai saat ini belum terdapat solusi yang efisien untuk menangani masalah ini, mengingat perawat masih berpedoman pada perlakuan konvensional seperti memantau pasien secara berkala.
Padahal cairan infus merupakan kebutuhan krusial yang dengan kata lain, digunakan oleh hampir setiap pasien di rumah sakit.
Maka dari itu, penulis menawarkan sebuah alat bernama Warning Nurse Notification (WARNET) sebagai solusinya.
Alat ini akan bekerja menggunakan sensor berat dan tekanan, sehingga ketika infus sudah mencapai berat minimum, alat ini akan menghasilkan respons berupa sinyal yang dikirimkan ke ruang perawat dalam bentuk alarm.
Melalui aplikasi yang dioperasikan di ruang perawat, perawat akan dengan efektif mengetahui pasien mana sajakah yang membutuhkan pergantian infus dengan segera kemudian hal tersebut dapat segera dilakukan dengan cukup satu kali saja mengunjungi kamar pasien.
Selain terdapat informasi mengenai volume infus yang tersisa serta jenis cairan infus, terdapat juga beberapa data pasien seperti nama, tempat tanggal lahir dan jenis penyakit.
Dengan begitu, pihak rumah sakit serta pasien tidak perlu khawatir peristiwa emboli akan terulang kembali karena dengan alat sederhana ini keefektifan kinerja perawat semakin meningkat dan pasien pun dapat beristirahat tanpa khawatir mengenai kondisi cairan infus.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.