Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Diskusi Kebudayaan dengan Ray Sahetapy, Mengkaji Gagasan Nusantara, Melacak Jati Diri Indonesia
Benarkah bayi bernama Indonesia itu lahir begitu saja tanpa melalui embrio yang bernama Nusantara?
Editor: Dewi Agustina

Dan sila kelima "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia", Ray memaparkan pengamalannya sebagai cara membagi secara jelas hasil kekayaan bumi nusantara, yaitu dengan komposisi 30 persen untuk negara, 30 persen untuk para pekerja, 30 persen bagi pemodal, serta 10 persen untuk lingkungan hidup dan kesehatan.
Usai menyimak bersama pemaparan Ray Sahetapy, Abdullah Taruna selaku moderator mempersilakan para peserta diskusi baik dari pengurus Rumah Gerakan 98, pegiat lembaga swadaya masyarakat, maupun dosen dan budayawan nusantara bertanya.
Di antaranya Hengky Irawan, Bendahara Umum Rumah Gerakan 98, mengungkapkan antusiasme dia dengan pelaksanaan diskusi budaya yang sudah langka.
Padahal, kata Hengky, sedari lahir hingga menjadi manusia dewasa, manusia pasti bersinggungan dengan budaya.
"Mendengar pemaparan gagasan Bang Ray Sahetapy tentang Nusantara dan konsep Pancadharma, saya merasa ini masuk ke dalam lubuk hati. Sebab, sejak menjadi aktivis 1998 hingga sekarang saya menyaksikan dan mendengar langsung bagaimana banyak orang yang tahu nilai-nilai kebaikan, tapi praktik hidupnya tidak mencerminkan hal itu. Apakah dengan melengkapi Pancasila dengan Pancadharma pandangan hidup manusia yang berbeda dengan perilakunya ini bisa dicegah?" ungkap Hengky.
Meski jarum jam sudah menunjuk ke angka 10.00 malam, diskusi bertambah hangat.
Ray Sahetapy, menjawab pertanyaan Hengky Irawan, bahwa terjadinya kesenjangan antara pandangan hidup manusia yang baik dengan perilaku hidupnya karena ketiadaan Pancadharma itu.
"Jika masyarakat Nusantara mengenali alam lingkungan Nusantara dengan segala potensi dan kekuatan, serta menjalankan Pancadharmanya, maka terpisahnya pandangan hidup dengan perilakunya tidak akan terjadi. Masyarakat akan berupaya menerapkan gagasan seimbang," kata Budayawan senior ini.
Dengan menangkap rumusan Pancadharma dan sistem operasi pedoman amal dari falsafah hidup bangsa yang dirumuskan dari hasil kontemplasi budaya Ray Sahetapy, Wahab Talaohu, Wakil Ketua Umum Bidang Kehormatan Rumah Gerakan 98 menilai betapa pentingnya Pancadharma ini.
"Gagasan Nusantara, pada bagian Pancadharma ini menjelaskan kepada kita semua, bahwa pandangan hidup tidak memiliki arti kalau tanpa diamalkan," kata Wahab.
Ray membenarkan penandasan Wahab.
"Gagasan Nusantara ini mengajak bangsa Nusantara untuk mengenali lingkungan alamnya dengan segala potensi alam, dan kekayaan ragam budayanya. Hal ini juga menuntut pentingnya bangsa kita memiliki ilmu pengetahuan berdasarkan pemahaman gagasan Nusantara. Banyak ekses negatif terjadi karena banyak orang-orang Nusantara yang belajar di luar negeri, pulang dan menerapkan ilmunya secara apa adanya. Kalau ini disinergikan dengan Pancadharma, maka akan mewujudkan keseimbangan, dan impian mengenai kedamaian hidup di Indonesia bisa diwujudkan," papar Ray Sahetapy.
Diskusi berlangsung hangat dan mendapat respon dari peserta dengan penuh antusias.
Saat jarum jam sudah menunjukkan angka 11.30 malam, moderator diskusi Abdullah Taruna dengan disaksikan oleh Sekjen Rumah Gerakan 98, Sayed Junaidi Rizaldi, membacakan 6 poin hasil diskusi, sebelum menutup Seri Diskusi Merawat Kebangsaan:

