Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Analisis Dampak Kesehatan dan Dampak Ekonomi dari Tata Guna Lahan dan Hutan di 3 Provinsi

DALAM 25 tahun terakhir, sejumlah lahan hutan di Indonesia telah dibuka dan dikonversi menjadi jenis hutan tanaman dan jenis tutupan lainnya

Analisis Dampak Kesehatan dan Dampak Ekonomi dari Tata Guna Lahan dan Hutan di 3 Provinsi
tribun kaltim
ilustrasi hutan di Kalimantan Timur 

DALAM 25 tahun terakhir, sejumlah lahan hutan di Indonesia telah dibuka dan dikonversi menjadi jenis hutan tanaman dan jenis tutupan lainnya.

Pembukaan dan penggunaan lahan baru dari hutan berpotensi meningkatkan penyakit menular pada manusia dan menurunnya nilai ekosistem serta berdampak pada kerugian ekonomi.

Mempertimbangkan hal tersebut, Indonesia One Health University Network (INDOHUN) bersama dengan University of Minnesota dan Ecohealth Alliance melaksanakan sebuah penelitian berjudul Disease Emergence and Economic Evaluation of Altered Landscapes atau disebut dengan DEAL yang didanai oleh investasi USAID terhadap kehutanan dan keanekaragaman hayati.

Penelitian DEAL ini dilakukan di tiga provinsi di Indonesia yaitu Provinsi Riau, Kalimantan Timur, dan Papua Barat dengan tujuan untuk menganalisis bagaimana perubahan lahan terutama hutan berkontribusi terhadap malaria serta dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Penelitian ini menemukan bahwa perubahan penggunaan lahan hutan berkontribusi terhadap peningkatan jumlah kasus malaria serta dapat menimbulkan dampak kerugian ekonomi.

"Meskipun secara luas dipahami bahwa persentase penyakit yang muncul pada manusia yang berasal dari hewan memiliki angka yang signifikan dan bahwa perubahan pemanfaatan lahan berpotensi menjadi faktor pendorong terbesar yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko munculnya penyakit, pemahaman kita bersama tentang peran pemanfaatan lahan secara tepat dalam proses ini  dan apa yang harus dilakukan - masih terbatas," kata Tim Meinke, Senior Infectious Diseases Advisor, USAID Indonesia.

"Amerika Serikat bangga bisa memfasilitasi kolaborasi penelitian multisektor ini, dan kami percaya bahwa DEAL akan memberikan gagasan awal tentang keterkaitan antara pemanfaatan lahan, kesehatan, dan ekonomi, dan pada saat yang sama membantu memberikan masukan untuk dialog, penelitian, dan kebijakan di masa yang akan datang terkait berbagai permasalahan ini," tambahnya.

Prof. Wiku Adisasmito, DVM, M.Sc, PhD, Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang juga selaku principal investigator proyek penelitian DEAL menambahkan “Saat ini penelitian yang menganalisis dampak dari perubahan penggunaan lahan terhadap kesehatan dan beban ekonomi dari dampak kesehatan tersebut masih sangat terbatas di Indonesia. Penelitian DEAL ini merupakan penelitian kolaborasi internasional pertama yang menganalisis kontribusi dari perubahan penggunaan lahan terutama hutan terhadap malaria dan evaluasi ekonominya yang dapat menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya.”

Menurut hasil penelitian, rate malaria positif di Riau pada level kabupaten/kota akan meningkat 5 kasus per 100,000 orang/tahun ketika terjadi peningkatan satu fragmentasi hutan sekunder dengan luas lebih dari 5km 2 .

Sedangkan di Kalimantan Timur pada level kabupaten/kota, rate malaria positif akan meningkat 787 kasus per 100,000 orang/tahun jika terjadi deforestasi tutupan hutan primer sebesar 1%.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas