Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Jumlah Pengungsi Gempa Maluku Bertambah Akibat Hoax

Berikut isi lengkapnya, sekaligus mengajak jiwa jiwa muda Pattimura bangkit melawan Hoax.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Jumlah Pengungsi Gempa Maluku Bertambah Akibat Hoax
Ist/Tribunnews.com
Anak anak SD kelas satu belajar di tenda pengungsian di Negeri Oma, Kepulauan Haruku Maluku. 

TRIBUNNEWS.COM, MALUKU - Gempa Ambon Maluku yang terjadi 26 Sep 2019 menyisakan cerita.

Seorang netizen menulis surat terbuka menyampaikan bahwa jumlah pengungsi terbanyak akibat berita berita bohong yang menyatakan akan ada gempa dan tsunami besar pada tanggal sekian jam sekian.

Padahal berita itu sama sekali tidak benar.

Sang netizen tersebut kemudian menulis surat terbuka.

Baca: Wiranto Kesal Pernyataannya soal Gempa Maluku Diputarbalikkan

Berikut isi lengkapnya, sekaligus mengajak jiwa jiwa muda Pattimura bangkit melawan Hoax.

Surat Dari Bumi Maluku

Sobatku,

Rekomendasi Untuk Anda

Aku menulis surat ini sambil mengunyah sukun goreng ditemani secangkir kopi. Kota Ambon sedang hujan pagi ini, udara nyaman.

Izinkan aku berkabar Sobat, Gempa Ambon Maluku yang terjadi 26 September 2019 menyisakan cerita. Lebih 10 hari berlalu, lonjakan pengungsi meningkat tajam. Data terakhir (10 Okt 2019) angkanya di atas 170 ribu lebih bertebaran di puluhan titik.

Aku kabarkan sobat, pengungsi ini setidaknya bisa dibagi menjadi tiga kategori.

Pertama, adalah warga yang mengungsi karena memang rumah, tempat tinggal mereka rusak ringan sampai berat dan tak bisa dihuni lagi. Ada juga yang rumahnya berpotensi rubuh bilamana ada gempa susulan yang hebat, karena lokasinya berada di tebing atau lahan yang labil, misalnya. Perkiraan jumlah ketegori ini dalam kisaran 10 ribuan jiwa.

Kategori kedua mereka yang mengungsi akibat trauma, ketakutan. Kita maklum, meski rumahnya tidak rusak namun muncul ketakutan dan trauma yang membuat mereka terpaksa mengungsi. Pengakuan trauma dan takut ini terucap sendiri dari sejumlah pengungsi yang aku temui di sejumlah lokasi. Untuk kategori ini mungkin ada sekitar 50 ribuan jiwa.

Yang mengejutkan sobat, dan yang terbanyak adalah kelompok yang mengungsi akibat termakan HOAX.

Sobatku, saya dan kawan kawan di Maluku sungguh prihatin dan sedih akan maraknya berita Hoax ini. Siapapun pelakunya, manusia yang memproduksi Hoax itu semoga terlaknat tujuh turunan dan digrogoti kecoa.

Sobatku, rakyat Maluku menjadi korban berita berita bohong. Diantaranya menyebutkan bahwa akan ada gempa besar diikuti tsunami pada tanggal sekian, jam sekian. Kategori inilah yang paling banyak, mendekati angka 100 ribu jiwa.

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas