Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Medan Baru Perlawanan NU pada Oligarki dan Intoleransi Ekonomi

Jamaah Nahdlatul Ulama resmi membuka medan perjuangan baru, yakni melawan kelompok oligarki dan sistem ekonomi kapitalis.

Medan Baru Perlawanan NU pada Oligarki dan Intoleransi Ekonomi
Pesantren Bina Insan Mulia/Istimewa
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli (kanan) bersama Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj. 

Medan Baru Perlawanan NU pada Oligarki dan Intoleransi Ekonomi

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A.*

Jamaah Nahdlatul Ulama (NU) resmi membuka medan perjuangan baru, yakni melawan kelompok oligarki dan sistem ekonomi kapitalis.

Di hadapan tokoh-tokoh pesantren dan politisi Cirebon, pada Haul ke-6 ayah kami, almarhum almaghfurlah, KH Anas Sirojudin di PP Bina Insan Mulia, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj (Ketum PBNU) mengkritik pemerintahan Jokowi yang “didalangi” oleh kaum oligarkis (Tribunnews, 22/12/2019).

Ceramah Kiai Said ini adalah “gong” penyempurna. Sejatinya, pemuda-pemuda Nahdliyyin sudah lebih dahulu bergerak.

Contohnya, Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Mereka telah lama berjuang melawan pemerintahan yang kapitalis-oligarkis ini.  Medan juang mereka adalah menjaga kedaulatan sumber daya alam (www.fnksda.or.id).

Musuh utama FNKSDA juga segelintir orang kaya yang berkuasa penuh atas kekayaan alam Indonesia. Atau, dalam istilah Kiai Said Aqil, orang-orang yang menjadi kaya raya karena mendapat kesempatan di era Orde Baru Presiden Soeharto. Kekayaan itu digunakan untuk kepentingan politik di era reformasi ini.

FNKSDA sudah jauh melangkah sebelum Kiai Said berpidato di Cirebon beberapa hari lalu. Tidak hanya menyerang sistem negara kapitalis dan kelompok oligarkis, tetapi juga bersuara soal Hak Asasi Manusia, isu-isu lingkungan hidup, hukum, dan advokasi.

Pidato kebangsaan Kiai Said Aqil tersebut dapat dibaca sebagai satu langkah lebih maju dan berani, untuk fokus melawan intoleransi ekonomi, bukan saja intoleransi beragama, terorisme dan radikalisme. Satu langkah lebih maju dalam menerjemahkan Pancasila dan Kebinekaan.

Terminologi “intoleransi ekonomi” yang Kiai Said Aqil perkenalkan ditujukan untuk mengajak kaum muda Nahdliyyin berjuang lebih masif di “medan-medan baru”, di luar wacana pluralisme, radikalisme, terorisme. bahkan, pidato kebangsaan Kiai Said dimaknai sebagai seruan kepada Nahdliyyin untuk menggarap domain-domain perjuangan yang belum tersentuh selama ini.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas