Menyambut Arah Baru Muktamar NU 2020
Pada Muktamar NU ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin, Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari mengatakan, "telah sampai padaku hari ini kabar tentang kalian
Editor:
Husein Sanusi
Berdasar pada pernyataan Sri Mulyani sendiri, salah satu alasan tersendatnya pencairan dana pinjaman adalah karena terlalu besarnya jumlah unit usaha yang terafiliasi pada NU. Yakni, sekitar 5 sampai 10 juta. Pada saat bersamaan, Sri Mulyani menilai, banyak individu-individu jamaah NU yang tidak mampu pick up dana kredit. Ini artinya, jamaah Nahdliyyin memang layak menderita dan dibuat menderita, dimana bantuan pemerintah tidak layak diberikan pada mereka.
Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) telah lebih awal bergerak; melakukan advokasi dan perlawanan terhadap kaum oligarki dan sistem kapitalisme. Tetapi, tentu saja, mereka memiliki banyak kekurangan, keterbatasan, dan pendekatan-pendekatan yang masih parsial, belum komprehensif. Tetapi, animo masyarakat sangat antusias. Jamaah FNKSDA sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Keterpurukan NU di bidang ekonomi dan politik harus dituntaskan dengan cara yang komprehensif. Minimal, menyebarkan kader-kader terbaik di partai-partai nasional dan di posisi-posisi strategis. Atau, bisa juga, menggaet kementerian-kementerian yang sejalan dengan kepentingan dan visi-misi jamaah Nahdliyyin. Muktamar ke-34 harus menjadi ajang perbincangan serius terkait platform ekonomi dan politik NU ke depan.
Keterpurukan ekonomi dan politik NU di kancah nasional tidak akan sembuh-sembuh, jika NU tidak bisa melakukan pendekatan (approach) yang holistik. Bayangkan saja, di sana ada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang belum dimaksimalkan dengan baik. Atau, partai-partai lain yang sejalan dengan ruh perjuangan NU.
Tentu saja, Muktamar ini harus tetap berjalan dalam garis dan rambu-rambu Qanun Asasi yang Mbah Hasyim buat. Yakni, tentang persatuan dan kekompakan. Seluruh jamaah Nahdliyyin dari latar belakang partai politik yang berbeda, latar belakang pendidikan dan profesi yang berbeda, harus kompak dan bersatu padu dalam rangka mengatasi keterpurukan di bidang ekonomi dan politik lembaga bersama kita ini.
Pada Muktamar NU ke-11 tahun 1936 di Banjarmasin, Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari mengatakan, "telah sampai padaku hari ini kabar tentang kalian yang terbakar api fitnah dan perpecahan. Hal itu disebabkan mereka mengotak-atik al-Quran dan Sunnah. Padahal Allah berfirman: 'sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah saudara-saudara kalian itu.' Rasulullah saw. juga bersabda: 'jangan saling hasut, jangan saling benci, jangan bersaing, jangan saling menjatuhkan. Jadilah hamba Allah yang bersaudara'."
*Penulis adalah Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.