Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Belajar dari Amru bin Ash Menghadapi Wabah Seperti Covid 19

Tentu saja selain kita harus yakin, bahwa semua penyakit/wabah akan ada solusinya/obatnya, karena memang kita dilarang berputus asa

Belajar dari Amru bin Ash Menghadapi Wabah Seperti Covid 19
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Solusi Menghadapi Covid 19, Belajar dari Amru bin Ash
Oleh KH. Imam Jazuli Lc., MA.

Tak dipungkuri lagi korban Covid 19 di negeri yang kita cintai ini makin hari makin bertambah dan memprihatinkan, tetapi satu hal yang pasti, kita semua harus optimis, dengan kerjasama melawan dan atas izin Allah, insyaallah wabah ini akan segera berlalu. Amin.

Kenapa kita harus optimis? Karena Rasullah bersabda ﷺ:
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).

Rasulullah ﷺ, juga bersabda,
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءُ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ
 “Setiap penyakit pasti ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla.”

Tentu saja selain kita harus yakin, bahwa semua penyakit/wabah akan ada solusinya/obatnya, karena memang kita dilarang berputus asa, tentu saja, juga karena sudah ada janji dari Rasulallah Saw., orang yang dipilih Allah untuk memberi petunjuk, sebagaiman bunyi hadis di atas.

Selain itu, kita juga perlu membumikan petunjuk-petunjuk itu melalui fatwa ulama dan anjuran medis. Diantaranya harus menjaga kebersihan, menghindari kerumunan, selalu menggunakan masker, dan lain sebagainya.

Dalam kondisi seperti ini, sekiranya penting kita menilik pada sejarah umat islam ketika dilanda wabah dan mencari solusinya. Paling tidak ada dua judul buku yang mengkisahkan prihal itu. Pertama al-Wafi bi al-Wafayat karya al-Shafady, dan kedua buku Nihayah al-Arab fil Funun al-Adab karya al-Nuwairi.

Dua judul buku di atas, menjelaskan secara rinci kondisi geografi dan antropologi masyarakat arab zaman Khalifah, terutama zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang mendapat ujian berat, yaitu sekitar dua puluh lima ribu lebih umat islam di Syam meninggal akibat wabah thaun, sampai-sampai sahabat senior Nabi, gubernur Syam Abu Ubaydah bin Jarrahpun meninggal, serta penggantinya, yaitu sahabat Muadz bin Jabal.

Estafet kepemimpinan kemudian diambil alih oleh Amru bin Ash, yaitu gubernur Mesir, dan apa yang telah diupayakan oleh bin Ash ternyata sangat efektif dengan membuat kebijakan seluruh masyarakat wajib uzlah atau mengisolasi diri ke bukit-bukit, pegununungan dan lembah-lembah. Bagi yang tak punya bekal, Negara saat itu memberi jaminan akan kebutuhan pokoknya.

Saat itu bin Ash langsung berpidato: "...tidak bisa tidak, wabah ini seperti api, yang terus menjalar jika kita berkerumun, maka segera saja kalian semua harus memencar, uzlah, menjauh ke bukit-bukit, kalau tidak segera api-wabah ini melalap kita semua..." Lalu apa selanjutnya yang diminta bin Ash ketika masyarakat sudah uzlah? Tentu saja tiada hari selain lebih mendekatkan diri kepada Allah, dengan berbagai amalan. Ternyata kebijakan ini bisa mempengaruhi psikis yang buruk, setelah berbulan-bulan dilanda wabah.

Cara ini ternyata juga sejalan dengan teori medis, sebagaimana yang disampaikan oleh para dokter, bahwa psikis yang buruk (semakin cemas dan panik) organ tubuh akan melepas berbagai hormon stress (steroid group) yang itu justru akan mensupresi semua sel imun manusia, terutama NK sel dan CD8 Citotoksik.(baca: sel kekebalan tubuh) artinya dengan panik, dan cemas yang terlalu, maka tubuh akan kehilangan daya imunitasnya, akhirnya jagankan virus corona, virus flu aja akan menjadi susah bagi tubuh untuk melawannya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas