Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Ustadz Yusuf Mansur, Mutiara NU yang Terlupakan

Ustadz Yusuf Mansur seorang yang multi talenta; pendakwah, motivator, penulis buku, pengusaha, sekaligus pimpinan dari pondok pesantren Daarul Quran

Ustadz Yusuf Mansur, Mutiara NU yang Terlupakan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Artis Deddy Corbuzier (kedua kiri) bersama Ulama Gus Miftah (kiri) dan Ulama Yusuf Mansur (kedua kanan) berjalan sebelum menemui Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nonaktif Ma'ruf Amin di kediamannya di Jakarta, Jumat (21/6/2019). Kedatangan Deddy Corbuzier menemui Ma'ruf Amin untuk meminta doa sekaligus agar lebih mengenal islam usai Deddy Corbuzier resmi memeluk agama Islam. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Ust. Yusuf Mansur, Mutiara NU yang terlupakan.

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Siapa yang tak mengenal Ustad Yusuf Mansur? Ustad kondang asal Betawi ini nama aslinya adalah Jam’an Nurkhatib Mansur. Lahir di Jakarta, 19 Desember 1976. Lahir dari keluarga yang sangat religius, pasangan KH. Abdurrahman Mimbar dan Nyai Hj. Humrifíah. Ia adalah seorang yang multi talenta; pendakwah, motivator, penulis buku, pengusaha, sekaligus pimpinan dari pondok pesantren Daarul Quran Ketapang, Cipondoh, Cikarang Tangerang dan pengajian Wisata Hati.

Sebelum sampai diposisi seperti sekarang, terutama kontribusinya pada ratusan Pesantren Daarul Quran yang dirintisnya di berbagai wilayah di Indonesia; menyekolahkan dan mentahfidkan ribuan santri dlu'afa dengan program wali asuhnya; membangun bisnis dan perekonomian umat; diantaranya PayTren, yang merupakan perusahaan penyedia finansial berbasis syariah dan teknologi yang dibawah perusahaan PT Veritra Sentosa International.

Serta yang sempat mencengangkan saat ia mengumumkan membeli 10 persen saham klub Polandia, Lechia Gdansk, senilai Rp 42 miliar dengan perusahaan Fintek Groupnya. Ustad Yusuf Mansur menambah daftar pengusaha Indonesia yang mempunyai saham di klub-klub olahraga di Eropa dan lainnya yang bertindak pada pemberdayaan ummat.

Ustad Mansur ternyata sejak belia sudah sarat dengan prestasi. Sebelum dikenal sebagai pendakwah kondang, bahkan LSI (2019) merilis namanya masuk dalam lima besar, sebagai pendakwah yang paling dinanti umat islam di Indonesia. Jejak prestasinya mula-mula sudah ditorekan sejak usia 9 tahun. Saat itu beliau masih kelas 4 MI (Madrasah Ibtidaiyah), tetapi ia sudah kerap tampil di atas mimbar untuk berpidato pada acara Ihtifal Madrasah yang diselenggarakan setiap tahun menjelang Ramadan. Saat tamat MI, ia kemudian melanjutkan ke MTs (Madrasah Tsanawiyah) Chairiyah Mansuriyah yaitu lembaga pendidikan yang dikelola keluarganya sendiri, KH. Achmadi Muhammad, kakak dari ayahnya. 

Saat itu, Yusuf Mansur adalah siswa paling muda dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Ia pun lulus dari MTs. Chairiyah Mansuriyah tahun pada tahun 1988/1989 sebagai siswa terbaik di usia 14 tahun. Lulus dari MTs. Chairiyah Mansuriyah, ia kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol sebagai lulusan terbaik. Lulusan Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat, tahun 1992 ini pernah kuliah di Fakultas Hukum, Jurusan Syari'ah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun, kuliahnya terpaksa berhenti di tengah jalan karena ia mengaku lebih suka balapan motor dan belajar bisnis. 

Mungkin tak banyak yang tahu, latar belakang pendidikannya sejak usia belia hingga remaja, yaitu saat di bangku MI dan di MTS itu adalah pendidikan berkultur Nahdliyin khas Betawi. Maka tidak mengherankan, kalau ia sejak remaja sudah sangat akrab dengan kitab kuning. Sebab dari kecil ia sudah terbiasa hidup sebagai santri di lingkungan keluarganya sendiri. Karena itu. kendati sudah menjadi tokoh Nasional yang cukup dikenal masyarakat Indonesia, Ia masih mempertahankan tradisi Nahdliyinnya dengan tetap tawadhu dan ta'zhim terhadap para guru dan kiyai-kiyaiya. Baik guru-guru Ibtidaiyah maupun Tsanawiyah. Hal ini terlihat dari caranya yang selalu mencium tangan mereka saat bertemu, serta acap kali ia menyempatkan diri untuk sowan ke Madrasah tempat ia dikenalkan kitab kuning.

Hal lain yang menarik untuk dijelaskan sedikit adalah lembaga pendidikan Islam Chairiyah Mansuriyah, dimana Yusuf Mansur pernah belajar dan tumbuh besar. Pendidikan ini adalah lembaga pendidikan Nahdliyin pertama di Jakarta, yang didirikan oleh Kakek-Buyutnya Ustad Yusuf Mansur (dari garis ibu) yaitu Guru Mansur bin K.H. Abdul Hamid bin Imam Damiri bin Imam Habib bin Abdul Muhit bin Pangeran Tjakra Jaya (Tumenggung Mataram), seorang ulama besar asal Betawi yang lahir Tanggal 31 Desember 1878, tepatnya di Kampung Sawah (Sawah Lio) atau yang kini termasuk wilayah administratif Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Bahkan sebelum tahun 1980-an, lembaga pendidikan yang beliau rintis ini langsung dinamakan Nahdlatul Ulama, atau An-Nahdlah. (muslimmederat.net, 19 Juni 2019). 

Kakek buyut Ustad Mansur ini pada usia 16 tahun 1894, Guru Mansur pergi ke Makkah bersama ibunya untuk menunaikan ibadah haji dan belajar agama di sana selama empat tahun. Disana dia berteman baik dengan santri-santri Nusantara lainnya, dan salah salah satunya adalah pendiri NU, yaitu Hadratus Hasyim Asy'ari, dan berguru dengan guru yang sama diantaranya pada sejumlah ulama terkemuka, antara lain, Syekh Mahfud At-Turmusi, Syekh Khatib Minangkabawi, Syekh Mukhtar Atharid Al Bogori, Syekh Umar Bajunaid Al Hadrami, Syekh Ali Al Maliki, Syekh Said Al Yamani, Syekh Umar Sumbawa, dan banyak lagi guru lainnya. 

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas