Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Jika Aku Pegawai dan Segera Masuk Kerja Lagi

Jika aku pegawai, karyawan, dengan jabatan atau tidak dengan jabatan, dengan anak buah atau tanpa anak buah, pekan depan adalah pekan yang bikin dagdi

Jika Aku Pegawai dan Segera Masuk Kerja Lagi
handout/tribunnews
Alois Wisnuhardana 

Oleh: Alois Wisnuhardana, konsultan komunikasi, mantan Asisten Juru Bicara Presiden

TRIBUNNEWS.COM - Jika aku pegawai, karyawan, dengan jabatan atau tidak dengan jabatan, dengan anak buah atau tanpa anak buah, pekan depan adalah pekan yang bikin dagdigdug. Bikin gelisah tak enak makan.

Orang-orang akan mulai diizinkan beraktivitas di luar secara terbatas. Meskipun virus Covid Sembilan Belas belum benar-benar bebas tuntas. Orang-orang akan kembali lalu lalang. Bekerja dan berjuang. Untuk orang-orang tersayang.

Aku paham, virus tidak akan benar-benar hilang. Yang akan ada adalah obat mujarabnya. Antivaksinnya. Sekarang semua pihak, banyak negara, tengah berjuang keras untuk punya vaksin untuk antivirus tersebut. Termasuk Indonesia.

Dengan kondisi virus tidak akan benar-benar hilang, aku butuh mengantisipasi. Situasi pasti tidak sama seperti ketika orang-orang seperti sebelum ada virus. Ketika virus menyerang, kami diminta bekerja dari rumah. Anak-anak disuruh belajar dari rumah.

Ketika aktivitas di tengah masyarakat akan dipulihkan, aku tahu, ada yang harus diubah merespons kondisi yang sudah berubah. Mungkin cara bekerjaku akan sama sekali berbeda. Mungkin juga sedikit berbeda. Yang jelas tidak akan sama seperti sebelum ada virus.

Orang-orang di luar sana mungkin juga berbeda-beda menanggapinya. Ada yang menganggapnya sama sehingga perilaku dan gayanya ketika berada di ruang publik tetap sama. Kelakuannya sama. Joroknya sama. Tapi itu bukan urusanku. Dan aku tak punya hak, apalagi kewajiban, mengatur atau mengubah mereka. Biar saja itu menjadi urusan yang berwenang. Dengan denda atau kurungan, yang jelas aku tak mau didenda atau dikurung. Yang bisa kuubah adalah caraku memandang kondisi normal baru ini. Juga caraku berpikir. Lalu cara bersikap mereaksi yang ada di tempat kerja atau ruang publik nantinya.

Yang perlu kupastikan tiap detik tiap waktu, aku harus selalu ingat bahwa virus tidak hilang. Atau belum hilang. Virus itu masih ada. Entah menempel atau dibawa siapa saja yang kutemui. Orang-orang yang tak kukenal di jalan. Kawan-kawan di kantor atau relasi yang selama ini berhubungan. Atasan atau teman kerja. Bawahan atau tamu kantor. Mereka semua, harus kupandang sebagai yang punya potensi menularkan.

Maka aku harus selalu waspada. Membawa masker ke mana-mana. Cuci tangan sesering mungkin. Selalu sadar jari tangan memegang apa dan segera cuci tangan. Cuci tangan lebih efektif ketimbang pakai semprotan sucihama. Aku juga harus menghindari kontak dengan orang seminim mungkin. Tidak salaman. Tidak cipika-cipiki.

Jika aku pegawai, aku akan bertanya pada pembuat aturan di kantor atau HRD. Bisakah saya bekerja dari rumah, minimal sehari atau dua hari? Semua konsekuensi yang timbul, enak atau nggak enak, aku harus terima. Disetujui syukur, tidak pun tetap butuh kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Aku sudah siap. Jika boleh bekerja dari rumah, pasti pulsa makin boros. Listrik makin besar tagihannya. Hasil pekerjaan juga harus diserahkan kapan saja tak kenal waktu seperti kalau bekerja dari kantor.

Halaman
12
Editor: Tiara Shelavie
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas