Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Pak JO dan Penyelenggaraan Ilahi

Pak JO orang Jawa dan guru yang ngemong, sementara PK Ojong keturunan Tionghoa-Sumatera yang "straight-forward".

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Achmad Subechi
zoom-in Pak JO dan Penyelenggaraan Ilahi
KOMPAS/JB SURATNO
Jakob Oetama memberikan sambutan pada Kongres XIX SPS di Istana Negara (9/7/1994). Jakob mengemukakan, pemilihan tema Kongres ke-19 SPS "Meningkatkan kebersamaan lembaga-lembaga pers dalam mensukseskan pembangunan jangka panjang" bukan karena basa-basi atau anut grubyug (ikut-ikutan). Pemilihan itu dilakukan dengan kesadaran dan pemikiran yang disertai rasa tanggungjawab bagi peningkatan serta kesinambungan pembangunan nasional. 

Oleh: Andi Suruji

KABAR duka itu, meninggalnya Jakob Oetama, pendiri Kelompok Kompas-Gramedia bersama almarhum PK Ojong, segera tersiar di grup whatsapp "Keluarga Kompas" dan "Red Palm's".

Dua grup silaturahmi karyawan dan eks karyawan Kompas.

Grup Keluarga Kompas bercampur baur karyawan yang sudah pensiun, masih aktif dari berbagai bagian. Sementara Grup Red Palm's yang agak keren sedikit namanya, terbatas pada orang-orang lantai 3, sebutan untuk orang Redaksi.

Orang Redaksi adalah mereka yang bekerja atau pernah bekerja sebagai bagian redaksi. Lantai 3 sebutan untuk Redaksi karena seluruhnya dikuasai Redaksi Kompas.

Karena alamat Kompas di Jalan Palmerah Selatan, maka grupnya dinamakan Red Palm's, akronim dari Redaksi Palmerah Selatan.

Bercampur baur anggotanya, tukang tulis berita, tukang foto, tukang koteksi berita, tukang layout, tukang sunting, sampai yang ngatur-ngatur perjalanan dan kendaraan dinas semua ada.

Rekomendasi Untuk Anda

Begitulah memang nilai-nilai kekeluargaan yang selalu ditanamkan pendiri Kompas. Kebersamaan. Tidak ada yang merasa superior, lebih hebat dari yang lainnya.

Tetapi satu sama lain saling melengkapi membentuk tim yang kuat. Yang kuat menutupi yang lemah.

Seperti itu juga Pak JO, begitu kami orang-orang Kompas menyebut namanya. Duet JO dan PK Ojong juga dua talenta luar biasa yang bersinergi melahirkan Kompas-Gramedia (KG). Pak JO orang Jawa dan guru yang ngemong, sementara PK Ojong keturunan Tionghoa-Sumatera yang "straight-forward".

Sebagaimana kebiasaan di Kompas, khususnya redaksi (wartawan), yang sangat egaliter, umumnya karyawan wartawan dipanggil sesuai inisialnya.

Itulah inisial Pak Jakob, (JO). Seingat saya, hanya dua orang yang dipanggil Pak, yakni Pak JO dan Pak Swan.

Selebihnya dipanggil Mas untuk laki-laki dan Mbak untuk perempuan. Yang muda pun dipanggi mas dan mbak. Khusus wartawan disertakan inisialnya, seperti Mas AG (August Parengkuan almarhum), Mas RB (Robby Sugiantoro) dan sebagainya.

Tetapi Pak JO punya cara memanggil kami anak-anaknya. Bagi mereka yang berasal dari luar Jawa, dipanggilnya Bung.

Tetapi manakala dia memanggil kita Mas, berarti ada something wrong, apakah karena dia tidak nyaman, atau kesal.

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas