Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Prof T Jacob dan Usulan Hari Paleoantropologi Indonesia

Prof Dr T Jacob mengusulkan ekskavasi awal di Wajak 9 Juni 1890 oleh Dubois dapat dianggap permulaan penelitian paleoantropologi di Indonesia

Prof T Jacob dan Usulan Hari Paleoantropologi Indonesia
TRIBUN PEKANBARU/Theo Rizky
Museum Manusia Purba Sangiran dengan tema The Homeland of Java Man resmi diselenggarakan di Sadira Plaza Pekanbaru, Rabu (1/11/2017). Pameran yang menampilkan patung rekonstruksi Homo Erectus, fosil manusia dan berbagai hewan purba ini akan digelar hingga tanggal 5 November 2017 mendatang. Kota Pekanbaru merupakan satu dari lima Kota di Indonesia yang disinggahi dalam pameran yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran tersebut. TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY 

Ternyata yang mengejutkan koleksi itu ada yang berupa sebuah gigi Homo sapiens. Ternyata kejutan itu masih berlanjut, yakni kedua gigi itu berasal dari masa 73.000 – 63.000 tahun yang lalu.

Berita gembira yang ditunggu Eugène Dubois datang juga. CPh Sluiter dari Koninklijke Natuurkundige Vereniging in Nederlandsch-Indië (Perhimpunan Ilmu Alam Kerajaan Hindia Belanda) mengabarkan penemuan sebuah subfosil manusia di wilayah pertambangan marmer di kawasan Wajak, Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur.

Subfosil itu telah ditemukan seorang ahli geologi Belanda BD van Rietschoten yang bekerja di sana pada 24 Oktober 1888 seperti yang tertulis dalam suratnya yang bertanggal 31 Oktober 1888 kepada CPh Sluiter.

Surat itu telah dibacakan dalam pertemuan Koninklijke Natuurkundige Vereniging in Nederlandsch-Indië pada 13 Desember 1888.

Surat itu juga menjelaskan tentang tengkorak yang ditemukan tatkala sedang melakukan penambangan marmer rutin di kawasan Wajak tersebut.

Pada 21 Desember 1888, CPh Sluiter menulis surat kepada Eugène Dubois yang masih melakukan penyelidikan di Sumatera Barat atas temuan tersebut.

Surat tersebut juga menjelaskan kondisi temuan itu yang sangat menyedihkan karena hanya berupa kepingan-kepingan tengkorak.

Dalam pertemuan Koninklijke Natuurkundige Vereniging in Nederlandsch-Indië berkutnya pada 11 April 1889, CPh Sluiter membacakan reaksi Eugène Dubois atas kondisi tersebut.

Selama seminggu penuh Eugène Dubois bekerja keras untuk menyatukan kepingan-kepingan itu menjadi tengkorak utuh seperti masih dapat disaksikan sampai sekarang.

Reaksinya juga merekomendasikan lebih baik B.D. van Rietschoten dan penduduk di sekitar wilayah temuan tersebut untuk tidak melanjutkan aktifitasnya sampai ada ahlinya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Setya Krisna Sumarga
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas