Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Kritik Terhadap Film My Flag yang Dibintangi Gus Muwafiq, Tidak Mewakili Spirit NU

Film ini bukan hanya tidak mewakili spirit NU melainkan seperti menikam Nahdlatul Ulama dari belakang.

Kritik Terhadap Film My Flag yang Dibintangi Gus Muwafiq, Tidak Mewakili Spirit NU
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon. 

Kritik Terhadap Film My Flag yang Dibintangi Gus Muwafiq, Tidak Mewakili Spirit NU

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Belakangan muncul film berjudul "My Flag", yang dibintangi oleh salah satu dai muda dari Nahdlatul Ulama, Gus Muwafiq. Publik Nahdliyyin heboh, karena merasa film ini bukan hanya tidak mewakili spirit NU melainkan seperti menikam dari belakang.

Publik non-Nahdliyin harus mengerti bahwa sekalipun film pendek ini diposting oleh channel atau media sosial NU, ia mewakili pandangan personal Gus Muwafiq dan crew filmnya, namun tidak NU secara umum. Sehingga semua gagasan yang ada di dalam film harus ditempatkan sebagai bagian dari opini personal.

Penulis tidak handak mengomentari terlalu jauh tentang film yang menyudutkan fashion umat muslim yang bercadar. Hal itu sudah common sense dan rahasia umum bahwa Islam tidak melarang umatnya mengenakan cadar. Bercadar dan menutup aurat sudah bagian dari ajaran Islam. Hanya saja para ulama berbeda pendapat tentang batasan-batasan menutup aurat dan bercadar, karenanya persoalan ini adalah khilafiyah dan furu'iyah.

Film My Flag tidak hanya menyempitkan makna nasionalisme ke dalam urusan melawan orang bercadar melainkan juga Gus muwafiq menyempitkannya ke dalam bingkai militerisme. Penulis sempat mencatat tiga poin utama yang disampaikan di awal pembukaan film tersebut, semuanya tampak seperti gagasan 200 tahun silam.

Pertama, Gus Muwafiq mengatakan, "Keamanan sebuah bangsa dan negara, itu yang akan menjamin kebaikan manusia dan keberlangsungan iman kita." Gagasan ini menempatkan perspektif keamanan sebagai faktor utama keberlanjutan iman dan agama. Seakan-akan iman yang sifatnya spiritual dan bersemayam di dalam hati bergantung sepenuhnya kepada situasi dan kondisi material berupa keamanan negara. Paham materialisme lebih dominan dalam fikiran Gus Muwafiq dibanding kekuatan spiritual.

Kedua, Gus Muwafiq mengatakan, "Sejauh mana iman kita adalah sejauh mana kita ikut menjaga bangsa dan negara." Hipotesa ini adalah turunan dari materialisme religius di awal. Sehingga tidak ada pilihan lagi bagi manusia yang ingin mempertahankan keimanannya agar turut serta menjaga keamanan negara.

Tentu publik akan segera sadar tentang paradoks dalam dua hipotesa tersebut. Jika keamanan negara adalah penjamin bagi keberlanjutan keimanan, lantas untuk apa orang beriman harus balas budi menjaga keamanan negara? Bukankah subjek yang berkuasa untuk melindungi tidak butuh untuk dilindungi?!

Ketiga, Gus Muwafiq mengatakan, "Untukmu benderaku, untukmu tanah airku, cintamu dalam imanku." Poin ketiga ini terputus sepenuhnya dari 2 persoalan di atas. Dalam pernyataan ketiga sepenuhnya merupakan dimensi manusiawi, yaitu cinta seorang putra Bangsa kepada bangsa dan negaranya. Dengan kata lain, Gus Muwafiq tidak melibatkan persoalan spiritualitas, keimanan, keyakinan, dan agama dalam bersikap terhadap keamanan sebuah negara. Penulis rasa semua orang yang mencintai negara dan bangsanya pasti akan berbuat demikian.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas