Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Yaqut dan Inspirasi Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Pengangkatan Gus Yaqut sebagai Menteri Agama mengakahiri era agama yang dijadikan sebagai alata aspirasi bukan inspirasi.

Gus Yaqut dan Inspirasi Islam Rahmatan lil ‘Alamin
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon 

Gus Yaqut dan Inspirasi Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Pengangkatan KH. Yaqut Cholil Coumas (Gus Yaqut) sebagai Menteri Agama (Menag) membawa angin segar. Di beberapa sosial media, seperti youtube, twitter, instagram, dan lainnya bermunculan apresiasi dari kalangan nonmuslim. Mereka menaruh harapan besar, dan yakin suara mereka akan betul-betul terwakili.

Sebenarnya, terlalu sempit melihat harapan besar itu hanya datang dari internal kita sendiri. Bulan lalu, Oktober, GP Ansor telah mempromosikan Pancasila dan Islam Moderat kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika, Mike Pompeo, berkunjung ke Indonesia. GP Ansor (NU) dinilai satu-satunya ormas yang selevel negara-negara internasional, karena menginspirasikan perjuangan menegakkan perdamaian dunia.

Secara politis, Keputusan Presiden Joko Widodo menempatkan representasi GP Ansor di posisi Menag, sudah tepat walau sedikit telat. Bukan saja karena memang habis-habisan (allout) menjadi timses pada Pilpres 2019, tetapi juga GP Ansor paling progresif dan lantang di media sosial berbicara deradikalisasi.
Semangat menggebu-gebu GP Ansor ini harus dilihat sebagai energi kebangsaan yang organik. Islam di mata GP Ansor adalah agama yang menginspirasi cinta tanah air, nasionalisme, dan menjadi rahmat bagi alam semesta.

Artinya, walaupun sebelumnya GP Ansor tidak pernah duduk di jabatan struktural pemerintahan, perjuangan menjaga tanah air dan perdamaian adalah tidak akan pernah berhenti, sudah mendarah daging. dan bukan alat politik untuk merebut kekuasaan. Inilah makna Islam sebagai inspirasi. Salah satu motto warga Nahdliyyin hubbul wathan minal iman, nasionalisme adalah bagian dari iman.

Selama ini, Islam di ruang publik dijadikan sebagai aspirasi, bukan lagi inspirasi. Mereka menuntut agar semuanya serba Islam. Negara harus Islam. Aturan perundangan harus Islam. Perilaku sosial harus Islam. Padahal, Islam yang mereka maksud adalah Islam versi aspirasi mereka sendiri, bukan aspirasi umat muslim yang mayoritas.

Pengangkatan Gus Yaqut sebagai Menag menandai awal berakhirnya proyek menjadikan Islam sebagai aspirasi, dan awal baru bagi Islam sebagai inspirasi. Islam sebagai inspirasi akan melahirkan politik kebangsaan, mendorong kehidupan sosial-politik yang harmonis, kerukunan antar umat beragama, penghargaan terhadap pluralitas, adat istiadat, dan kearifan lokal.

Melalui jabatan Menag ini, kepribadian Gus Yaqut dipandang akan mampu menyatukan umat beragama. Awal pidatonya paska pelantikan, dikatakan dengan tegas bahwa negara bukan milik umat muslim saja. Semua elemen bangsa yang beragam turut serta dalam merebut kemerdekaan dari kolonial. Jadi, aspirasi kebangsaan tidak boleh dimonopoli umat muslim semata, apalagi ormas tertentu.

Secara umum, pidato pembukaan Gus Yaqut sebagai Menag mencerminkan makna Islam rahmatan lil alamin. Hal ini akan menjadi modal besar bagi negara, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas