Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Konstruksi Berfikir di Balik Pro Kontra Pelaksanaan Pilkada

Tarik menarik soal waktu pelaksanaan pilkada berjalan cukup alot hingga menimbulkan polemik di ranah publik.

Konstruksi Berfikir di Balik Pro Kontra Pelaksanaan Pilkada
Tribun Jakarta
Ilustrasi 

Pun demikian, banyak faktor yang menyebabkan kekalahan dalam kontestasi elektoral. Ferdi Akbiyik dan Ahmet Husrev Eroglu dalam artikelnya bertajuk “The Impact of Local Political Applications on Voter Choices” memaparkan bagaimana berbagai faktor dapat mempengaruhi dukungan.

Dalam konsep political marketing menurut Ferdi Akbiyik dan Ahmet Husrev Eroglu setidaknya ada tiga konsep yang dapat mempengaruhi pemilih yakni kredibilitas kandidat, program kerja kandidat serta partai politik.

Pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo
Pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo (Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda)

Anies memang sudah menjadi tokoh yang diperhitungkan dalam kancah politik nasional. Namanya selalu masuk dalam radar surcapres (survei calon presiden) meskipun dalam sejumlah survei, elektabiliitasnya menurun dalam setahun terakhir. Tapi terlepas itu, Anies masih memiliki peluang untuk menjadi kandidat presiden.

Seandainya pilkada dilaksanakan pada 2024, banyak pihak berasumsi Anies akan kehilangan panggung. Hemat saya, asumsi tersebut terlalu sederhana dan sumir. Dengan modal politik saat ini, bagi Anies tidak terlalu sulit untuk tetap tampil di depan publik. Belum lagi para pendukungnya tentu tidak akan tinggal diam.

Kuncinya adalah seberapa kuat elektabilitas Anies. Jika memang memiliki dukungan kuat, tentu Anies dan pendukungnya akan berusaha menciptakan panggung agar Anies bisa "menari" di hadapan khalayak.

Baca juga: Jokowi Nilai PPKM Tak Efektif, IDI Sarankan Pemerintah Terapkan PSBB Ketat

Anies merupakan tokoh nasional yang memiliki magnet dan sudah sampai pada level sebagai "media darling". Popularitas Anies semakin melejit. Dengan modal itu, bisa menjadi daya tarik untuk mencari dukungan partai.

Dengan demikian , asumsi yang menyatakan Anies akan kehilangan panggung politik jika pilkada dilaksanakan 2024 masih terlalu dini.

Baca juga: Saksi Ahli di Kasus Djoko Tjandra: Yang Punya Kewenangan Cekal Adalah Menkumham

Banyak jalan menuju Roma, begitu kata pepatah yang muncul kali pertama dari bahasa latin mīlle viae dūcunt hominēs per saecula Rōmam. Tidak sedikit cara yang bisa ditempuh Anies agar bisa lolos di pilpres, meskipun pilkada dilakukan pada 2024.

Sukses di Pilkada  Belum Tentu Linear di Pilpres
Demikian pula jika Pilkada dilakukan pada tahun 2022, tidak otomatis menjamin kesuksesan (baca kemenangan) Anies Baswedan dalam kompetisi pilpres 2024. Anies masih harus berjuang keras untuk memenangkan pilkada DKI Jakarta. Dan itu pasti tidak mudah. Anies mungkin akan berhadapan dengan sejumlah figur yang tidak bisa dianggap remeh. Figur Tri Rismaharini, Sandiaga Uno, dan sejumlah tokoh lain berpotensi menjadi lawan kuat Anies.

Selain itu, faktor kinerja Anies sebagai gubernur juga akan menjadi salah satu faktor penting yang turut menentukan. Sementara, ada kecenderungan penurunan tingkat kepuasan publik dalam dua tahun terakhir, meski tingkat kepuasan kinerja Anies berdasarkan sejumlah hasil survei masih di atas 60 persen.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Rachmat Hidayat
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas