Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Reshuffle Kabinet

TGB Zainul Majdi dan Yusril Ihza Mahendra dalam pusaran Reshuffle Kabinet

Jika bulan ini atau bulan-bulan depan reshuffle itu terjadi, Jokowi sedang melihat potensi bisnis lain.

TGB Zainul Majdi dan Yusril Ihza Mahendra dalam pusaran Reshuffle Kabinet
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

TGB Zainul Majdi dan Yusril Ihza Mahendra dalam pusaran Reshuffle Kabinet

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Isu reshuffle kabinet yang mencuat menghentak kesadaran publik. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, presiden Jokowi sudah memastikan tidak ada reshuffle apapun. Namun, dinamika politik memang selalu berembus lebih kencang dari angin. Karenanya, patut direspon dengan mempertimbangkan kelayakan TGB Zainul Majdi dan Yusril Ihza Mahendra dalam pusaran politik reshuffle ini.

Terlebih dahulu, penting disampaikan bahwa pengertian politik menurut Winston Churchill (mantan perdana menteri Ingris) adalah: not a game, but a serious business. Bukan permainan dan hiburan, melainkan 'bisnis' dan perdagangan yang amat serius. Para politisi, dengan demikian, para saudagar-saudagar yang serius mencari laba. Dalam politik, apapun (termasuk jabatan) adalah komoditas yang diperjual-belikan.

Pengamat Politik Universitas al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, memprediksi Bambang Brodjonegoro pasti tergeser sebagai Menristek. Bambang tampak akan dipasang sebagai Kepala Otoritas Ibu Kota Negara (IKN). Bagi Ujang, Nadiem Anwar Makarim pun layak direshuffle. Sebagai gantinya, banyak potensi dari Tokoh NU, muhammadiyah atau lainnya.

Jokowi sebagai mantan pengusaha dari Solo, sebuah kota dengan peradaban tua, lihai dalam berbisnis. Pada Kamis, 18 Februari 2021, Jokowi mengatakan: “enggak ada. Saya tegaskan, enggak ada reshuffle. Pemerintah masih fokus menangani pandemi.” Dalam nalar bisnis, tidak ada reshuffle kala itu berarti kebijakan reshuffle tidak mendatangkan laba.

Jika bulan ini atau bulan-bulan depan reshuffle itu terjadi, Jokowi sedang melihat potensi bisnis lain. Reshuffle ditaksir sebagai komoditas politik yang setidaknya mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, memulihkan ekonomi paska pandemi, atau mengatasi amburadulnya dunia akademik sebagai tulang punggung bernegara. Reshuffle dihitung dalam timbangan untung-rugi menghadapi persoalan negara.

Dalam paradigma bisnis politik dan perdagangan jabatan ini, patutlah kita menimbang nama-nama besar seperti Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, Yusril Ihza Mahendra (YIM), atau Ustad Yusuf Mansur (UYM). Tiga tokoh Islam ini adalah pendukung berat Jokowi di Pilpres 2019 kemarin, dan rela mendapatkan hujatan kelompok Islam urban/pendukung prabowo yang sebelumnya pendukung mereka. Namun, Jokowi hingga hari ini belum mengapresiasi pengorbanan dan jerih payah mereka.

Tentu klise bila hari ini masih bicara jargon idealis: “kacang lupa kulitnya.” Jokowi tidak sedang melupakan para pendukungnya. Sebab, rival politiknya saja (Prabowo-Sandi) diberi tempat terhormat di kementerian. Tetapi, untung-rugi macam apa yang dipikirkan Jokowi adalah misteri politik. Mengapa tokoh-tokoh besar seperti TGB Zainul Majdi dan Yusril Ihza Mahendra yang berjuang begitu luar biasa untuk Jokowi belum diberi posisi?

Yusril politisi senior. Ketika tidak dapat posisi dalam kabinet, namanya masih moncer di luar kekuasaan. Yusril berinovasi, memberikan saran agar PPP dan PKS membentuk poros sendiri. Yusril berjanji akan membawa PBB untuk bergabung. Ide koalisi partai-partai Islam adalah inovasi pemikiran, yang menunjukkan dirinya sebagai politisi kawakan.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas