Filateli Pemicu Bahasa Asing di Era Dijital, Kegiatan Membaca Lebih Menarik
Seorang filatelis biasanya melakukan penelitian mendalam tentang benda – benda pos koleksinya, mulai dari sejarah penerbitan sampai detail teknis penc
Editor:
Johnson Simanjuntak
Oleh: Gilang Adittama *)
TRIBUNNEWS.COM - Berbeda dengan sekedar mengumpulkan prangko, filateli yang berasal dari kata philos dan ateleia menuntut para penggiatnya untuk lebih mencintai dan mengekspresikan kegemarannya pada bidang yang lebih luas.
Seorang filatelis biasanya melakukan penelitian mendalam tentang benda – benda pos koleksinya, mulai dari sejarah penerbitan sampai detail teknis pencetakan.
Berbekal pengetahuan ini, biasanya seorang filatelis akan bisa berpartisipasi dalam kompetisi berskala internasional dengan berbagai kelas seperti postal history, thematic, modern philately, aerophilately, postal stationery, maximaphily, literature, dan sebagainya. Bukan hanya diberi kebebasan mengekspresikan kecintaannya pada benda – benda pos, seorang filatelis juga dihadapkan pada peluang besar untuk menguasai bahasa asing dengan mudah.
Jika belajar bahasa umumnya dimulai dari mengusai kosa kata, maka dalam proses penguasaaan ini akan sangat terbantu oleh hobi filateli. Setiap prangko ataupun benda lainnya pasti mengandung informasi verbal dalam bahasa resmi negara penerbitnya.
Banyak dan intensnya pajanan bahasa asing yang diterima oleh seorang filatelis melalui pengamatan terhadap benda – benda pos, maka proses akuisisi kosa kata akan terasa seolah otomatis atau lebih dikenal dengan istilah ‘incidental acquisition’.
Di tingkat kompetisi internasional, para filatelis biasanya mencari lebih banyak informasi dari berbagai literatur filateli maupun non-filateli untuk mengembangkan studi di koleksinya.
Pada aktivitas membaca, memahami makna, dan menerjemahkan beberapa bahasa asing inilah terjadi proses ‘deliberate learning’. Dengan demikian, filateli dapat berperan sebagai pemicu bagi tumbuhnya wawasan bahasa asing dan literasi di kalangan pelajar di era teknologi dan distraksi ini.
Ketika hobi ini semakin digeluti hingga ke tahap kompetisi, maka akan terbuka kesempatan bagi para filatelis, khususnya remaja, untuk mengembangkan kemampuan menulis dalam bahasa asing.
Dalam berbagai kompetisi di bawah naungan F.I.P (Federeation Internationale de Philatelie), F.E.P.A (Federation of European Philatelic Associations) dan F.I.A.P (Federation of Inter-Asian Philately) koleksi harus disusun dengan deskripsi dalam beberapa bahasa resmi: Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan Spanyol.
Tidak berhenti di situ, kemampuan mengorganisir ide juga sangat dibutuhkan terutama dalam kelas filateli tematik. Seorang filatelis harus mampu menyajikan koleksinya dengan teks pendamping yang menunjukkan kepaduan struktur koleksi, alur cerita, dan deskripsi singkat lagi padat bagi setiap benda yang ditampilkan. Nilai lebih akan diberikan bagi filatelis yang mampu menggunakan ‘stylistic technique and rhetoric skills’ untuk menghasilkan judul yang menarik.
Bila sebuah koleksi telah layak dipamerkan di kelas kompetisi, maka si pemilik koleksi (‘exhibitor’) akan diberi kesempatan untuk hadir di lokasi penjurian.
Para juri di kompetisi filateli berasal dari setidaknya lima puluh negara di berbagai benua. Dalam sesi ‘jury critique’, seluruh juri maupun peserta wajib menggunakan bahasa Inggris.
Dengan beragamnya latar belakang linguistik para juri maupun peserta, jelas saja terbuka peluang bagi seorang filatelis untuk mempertajam kemampuan menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi lintas bangsa ‘English for international communication’ pada ranah yang sangat spesifik ‘English for specific purpose’.
Lebih spesifik lagi, dalam kesempatan ini para peserta akan mendengar saran dan kritik serta bertukar pendapat dengan juri sehingga secara otomatis keterampilan mendengarkan (‘listening skills’) dan berbicara (‘speaking skills’) akan terasah. Secara umum, kesempatan ini sangat baik untuk memupuk kompetensi komunikatif (‘communicative competence’).
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.