Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Gusdurian, Ayo Move On ! dari Fanatisme Genetik ke Fanatisme Ideologis

Kecintaan sebagai pribadi tidak bisa kita perdebatan lagi, karena komunitas Nahdliyyin sejati mempercayai beliau sebagai seorang kiyai.

Editor: Husein Sanusi
Gusdurian, Ayo Move On ! dari Fanatisme Genetik ke Fanatisme Ideologis
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Gusdurian, Ayo Move On ! dari Fanatisme Genetik ke Fanatisme Ideologis

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

TRIBUNNEWS.COM - Berbicara warga Nahdliyyin sangat tidak mudah, terlalu banyak variabel di dalamnya. Gusdurian adalah variabel yang sangat penting, karena komunitasnya terdiri dari seluruh lapisan masyarakat, mulai akar rumput, cendikiawan, darah biru, sampai elit politisi. Mereka tergabung dalam satu naungan yang sama, kecintaan dan penghormatan pada Gus Dur baik sebagai pribadi maupun sebagai gagasan ideal.

Kecintaan sebagai pribadi tidak bisa kita perdebatan lagi, karena komunitas Nahdliyyin sejati mempercayai beliau sebagai seorang kiyai yang sekaligus seorang waliyullah. Keberkahan hidup beliau dibawa sampai mati. Donasi pada masyarakat dari hasil kunjungan ziarah kubur beliau sangat besar, bahkan melebihi kita yang masih hidup. Bagi publik yang tidak percaya hal mistik, setidaknya tidak dapat mengabaikan sumbangan/kontribusi materiil makam Gus Dur ini kepada umat.

Sebagai sebuah gagasan, Gus Dur adalah idealisme kebangsaan. Rasa cinta yang primordial dan melekat dalam lubuk sanubari Gus Dur mengalir kemudian manifes menjadi kebijakan-kebijakan politik. Kelompok minoritas mendapatkan hak-haknya, atas nama humanisme. Misalnya sensitifitas pada etnis Tionghoa, karena sudah sangat menyejarah, tidak lagi muncul di era kepresidenan Gus Dur. Bahkan kepada musuh satu-satunya, Jendral Purn. H.M. Soeharto, Gus Dur tidak menaruh dendam dan permusuhan.

Gus Dur sebagai sebuah gagasan dapat pula dimaknai sebagai "NKRI Berjalan". Bagaimana wujud riil dari konsep persatuan kesatuan adalah figur Gus Dur itu sendiri. Periode kepemimpinannya walaupun singkat begitu sangat berharga. Hak kaum minoritas, antara lain, etnis Tionghoa betul-betul terpenuhi. Bahkan berani menyentuh aspek-aspek sensitif, seperti isu komunis dan Yahudi. Gus Dur ingin membuka jalur diplomatik dengan Israel, dan ingin mengembalikan mereka yang terusir karena dituduh berideologi komunis.

Gusdurian sebagai komunitas kultural mewarisi spirit ini. Gusdurian adalah sub-sistem dalam kehidupan sosial warga Nahdliyyin. Walaupun eksistensi Gusdurian tidak merepresentasikan seluruh komunitas Nahdliyyin, tetapi kekuatan massa Gusdurian sangat solid, besar, berpengaruh. Bertumpu kepada suara Gusdurian dalam rangka mewujudkan masa depan bangsa dan negara yang lebih baik adalah tindakan yang pantas dan tidak berlebihan.

Hanya saja, kelemahan Gusdurian adalah ruang lingkup gerakannya yang terbatas, yaitu gerakan intelektual dan kultural semata. Afiliasi politik Gusdurian tampak abu-abu. Hal itu bisa dilihat dari bagaimana sikap politik komunitas Gusdurian terhadap PKB selama di bawah kepemimpinan Cak Imin. Bagi mereka, PKB ala Cak Imin dinilai berbeda dari PKB ala Gus Dur. Belakangan mulai muncul gejala-gejala ganjil yang menyiratkan bahwa Gusdurian ingin PKB kembali ke pangkuan tangan keturunan Gus Dur. Ini gagasan absurd karena ingin mengubah Gus Dur sebagai fanatisme ideologi menjadi fanatisme kekeluargaan.

Fanatisme kekeluargaan bukan tidak pernah terjadi di panggung sejarah. Fanatisme kekeluargaan dalam wujud paling kontemporernya dapat dilihat dari prestasinya mewujudkan Rovolusi Syi'ah di Iran. Kecintaan pada Ali bin Abi Thalib RA, melahirkan Syi'isme, dan Syi'isme melahirkan revolusi di Iran. Di bawah ideologi Syi'ah, Iran modern menjadi lawan tanding yang sepadan dari Amerika Serikat cs. Gusdurian tidak boleh menjelma serupa Syi'ah yang fanatismenya bukan ideologis, melainkan genetis.

Gusdurian perlu menyadari bahwa menjadi Gus Dur secara ideologis jauh lebih baik dari pada menjadi Gus Dur secara genetik. Sebab, siapapun yang berideologi Gusdurian, sekalipun tidak fanatik membela semua pemikiran keluarga Gus Dur, maka ia layak mewarisi gagasan perjuangan Gus Dur. Hal ini memang akan sangat abstrak bila tidak dicontohkan dalam kasus yang sensitif, seperti persoalan afiliasi politik kepartaian.

Halaman
12
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas