Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

LBM-NU, Cryptocurrency dan Kejumudan Nalar

Mengkultuskan kitab kuning tentu saja tidak benar. Hal itu sama saja mengkultuskan produk sejarah.

Editor: Husein Sanusi
LBM-NU, Cryptocurrency dan Kejumudan Nalar
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

LBM-NU, Cryptocurrency dan Kejumudan Nalar

KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

TRIBUNNEWS.COM - Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jawa Timur belakangan cukup mengejutkan. Ada kesan lembaga ini "mengkultuskan" kitab kuning, dan terperosok jatuh ke jurang kejumudan berpikir dalam menafsirkannya. Tidak heran salah satu bentuk fatwa keagamaan mereka mengharamkan mata uang kripto (cryptocurrency) dengan menyebutnya sebagai bukan komoditas yang boleh diperdagangkan (trading).

"Mengkultuskan kitab kuning" sejatinya tidak masalah, karena bagaimanapun kitab kuning adalah dokumen pemikiran keagamaan yang pernah diciptakan dalam rentang waktu sejarah hukum Islam tertentu. Karena kitab kuning adalah produk sejarah, sudah pasti tunduk pada hukum sejarah, yaitu perkembangan, evolusi ataupun revolusi. Sebagai sesuatu yang sifatnya historis, sudah tentu sangat profan dan sama sekali tidak sakral. Berbeda dengan Al-Qur'an dan Sunnah yang sudah pasti sakral dan suci.

Mengkultuskan kitab kuning tentu saja tidak benar. Hal itu sama saja mengkultuskan produk sejarah. Bila hal ini tidak didudukkan secara proporsional, maka konsekuensinya adalah mengkerangkeng realitas hari ini dan realitas masa depan dengan standar nilai masa silam. Kejumudan berpikir tidak dapat dihindari lagi. Kejumudan yang tak terhindarkan oleh metodologi Istinbath Al-Ahkam NU tersebut terlihat pada keputusan fatwanya tentang keharaman mata uang kripto.

Mata uang kripto divonis sebagai 'Ain Gahiru Musyahadah (entitas yang tak terlihat). Sesuatu atau barang atau entitas yang tidak terlihat, dalam pandangan kitab kuning, tidak dianggap komoditas dan pada gilirannya tidak boleh diperdagangkan. LBMNU Jawa Timur mendasarkan pemikirannya pada pandangan Syeikh Bujairamy (w. 1221 H) di dalam Hasyiyah Bujairamy ala al-Khathib, juz 3, halaman: 4, menjelaskan, bahwa:

(البُيُوعُ ثَلاثَةُ أشْياءَ) أيْ أنْواعٍ بَلْ أرْبَعَةٌ كَما سَيَأْتِي. الأوَّلُ. (بَيْعُ عَيْنٍ مُشاهَدَةٍ) أيْ مَرْئِيَّةٍ لِلْمُتَبايِعَيْنِ (فَجائِزٌ) لِانْتِفاءِ الغَرَرِ. (و) الثّانِي (بَيْعُ شَيْءٍ) يَصِحُّ السَّلَمُ فِيهِ (مَوْصُوفٍ فِي الذِّمَّةِ)

"Jual beli itu ada tiga perkara atau tiga macam, dalam satu pendapat lain, ada 4 macam. Pertama: jual beli barang fisik yang bisa disaksikan oleh dua orang yang saing melakukan akad, maka hukumnya adalah boleh karena ketiadaan gharar (penipuan). Kedua, jual beli sesuatu yang bisa ditunjukkan karakteritiknya dan berjamin."

Benarkah uang kripto tidak terlihat? Kripto (crypt) secara linguistik berasal dari akar kata Kripta (Crypta), ruang bawah tanah gereja yang dipakai untuk kegiatan keagamaan dan penyimpanan barang lainnya. Istilah historis ini dipakai untuk tujuan lain di era modern, salah satunya cryptocurrency. Sedangkan secara terminologi, cryptocurrency (uang kripto) adalah bentuk sekumpulan data biner
(collection of binary data), yang dipakai sebagai media pertukaran.

Jika menyebut sekumpulan data biner ini tidak termasuk 'ain musyahadah (sesuatu yang tidak terlihat) maka sungguh menggelikan. Bertentangan 180⁰ dengan disiplin ilmu yang sudah sangat massif diajarkan di sekolah dan kampus, ilmu komputer, koding, dan sejenisnya. Pada saat bersamaan, keputusan LBMNU ini menjadi signal bahwa NU tidak siap dengan dunia digital itu sendiri, karena pada hakikatnya dunia digital secara umum adalah persoalan data.

Halaman
12
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas