Untung Rugi "The Winner Take All" dalam Formasi Kepengurusan PBNU Gus Yahya
Ada pepatah lama yang mengatakan "the winner takes all". Pemenang akan mengambil alih semuanya.
Editor:
Husein Sanusi
Untung Rugi "The Winner Take All" dalam Formasi Kepengurusan PBNU Gus Yahya
Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*
TRIBUNNEWS.COM - Sejak Muktamar berakhir sampai hari ini, kesibukan elit NU Struktural tak lain memikirkan format ideal kepengurusan. Seperti pepatah, tak ada makan siang gratis, begitu juga tentang nama-nama yang akan dipasang sebagai pengurus. Inilah momennya bagi mereka yang telah berkontribusi pada pemenangan Gus Yahya dan Kiai Miftah Akhyar untuk mengabdi di PBNU.
Ada pepatah lama yang mengatakan "the winner takes all". Pemenang akan mengambil alih semuanya. Pemenang akan mengukir sejarah. Pemenang tahu cara mempertahankan kuasanya, dan menjalankan visinya sampai terwujud. Dengan melihat prosentase jumlah pendukung Gus Yahya pada pemilihan Ketum PBNU tempo hari, terlihat 60% lebih memilihnya. Ada kekuatan besar yang memungkinkan Gus Yahya mengambil alih NU seluruhnya.
Ada cara membaca kekuatan di balik kemenangan pasangan Gus Yahya dan Kiai Akhyar. Salah satunya membaca keberanian PWNU Jawa Timur sejak dini mengusulkan pasangan tersebut, yang kemudian memunculkan pernak-pernik kontroversi. Tetapi, terbukti kontroversi yang muncul belakangan mampu membawa perubahan, sampai Muktamar digelar, lalu prediksi PWNU Jatim benar, muncul sebagai pemenang.
Kemampuan prediktif semacam itu luar biasa. Dan juga bisa dibilang cukup rasional. Ada pepatah lama mengatakan: "cukup kuasai Jawa, maka Indonesia akan dikuasai". Ternyata prinsip ini tidak saja fungsional dalam konteks perubahan kekuasaan di tingkat nasional, semisal pemilihan presiden, tetapi juga terbukti efektif di tingkat yang lebih kecil, organisasi seperti NU. Kalau begitu, pembacaan atas pasangan Gus Yahya dan Kiai Akhyar juga bisa dibaca dari sudut pandang ini.
Kiai Miftachul Akhyar adalah representasi Jawa Timur, dan Gus Yahya Cholil Staquf merepresentasikan suara Jawa Tengah. Kolaborasi dua propinsi besar dari pulau Jawa ini sudah cukup sebagai modal menguasai NU. Artinya, dengan prinsip "the winner takes all" maka format ideal untuk kepengurusan PBNU pada periode ini diisi oleh orang-orang dari Jatim dan Jateng, yang telah berkontribusi pada pemenangan mereka di muktamar kemarin.
Tetapi, juga tidak tertutup kemungkinan untuk membaca formasi kepengurusan PBNU masa depan bukan dari sudut pandang kewilayahan. Bisa juga dari pertimbangan lain, yang hanya pihak internal team sukses Gus Yahya-Kiai Akhyar mengetahui. Yaitu, orang-orang militan yang betul-betul telah berjuang demi kemenangan Gus Yahya-Kiai Akhyar, sekalipun mereka tidak berasal dari Jatim dan Jateng. Karena tidak tertutup kemungkinan para pendukung fanatik mereka berasal dari luar Jatim dan Jateng.
Terlepas cara pertama atau cara kedua sebagai pertimbangan menyusun format kepengurusan, prinsip "the winner takes all" sangat berguna. Pertama, kepengurusan yang diambil sepenuhnya dari internal pendukung sendiri akan melahirkan soliditas kerja. Visi misi kepemimpinan Gus Yahya dan Kiai Akhyar akan mudah terimplementasikan, karena sumber daya manusia yang direkrut adalah para pendukung yang berjasa. Koordinasi kerja akan lebih efektif, dan disintegrasi internal dapat dihindari.
Kedua, keuntungan prinsip "the winner takes all" adalah memungkinkannya bagi warga Nahdliyyin di hari-hari mendatang untuk mengukur sejauh mana sukses-tidaknya periode sekarang. Publik tidak akan dikacaukan dalam memberikan penilaian oleh keberadaan oknum-oknum tertentu yang tidak berasal dari pendukung fanatik Gus Yahya dan Kiai Akhyar. Sehingga pada muktamar yang akan datang, warga Nahdliyyin bisa memutuskan dengan lebih jelas, apakah mau melanjutkan periode Gus Yahya ini atau mengakhirinya, tentu dengan penilaian objektif atas hasil kerja yang ada.
Jika pun tidak menunggu muktamar mendatang, jika prinsip "the winner takes all" diterapkan, maka publik (Nahdliyyin) juga akan lebih mudah untuk menilai sepanjang hari. Sejak kepengurusan baru dilantik sampai jelang muktamar mendatang. Kemudahan publik untuk menilai akan sangat terbantu apabila pengurus yang ada tidak tercampur-baur antara pendukung Gus Yahya dan mantan rivalnya. Bila ada kesalahan dalam proses implementasi kebijakan, maka peluang mengkambinghitamkan mantan rival yang diangkat jadi pengurus, tidak terbuka.
Semua hal di atas adalah sisi-sisi keuntungan menerapkan prinsip "the winner takes all". Namun, selain sisi positif yang menguntungkan, ada juga sisi negatif yang merugikan. Pertama, karakter kepemimpinan jatuh pada sifat monolitik. Nahdlatul Ulama (NU) akan menjadi organisasi dengan kekuatan tunggal dan sangat berpengaruh. Dalam budaya organisasi yang monolit, kekuatan oposan dan kontrol kekuasaan ditekan sampai batas terendahnya. Budaya monolit sangat sulit memberikan ruang bagi suara berbeda dan nilai demokratis lainnya.
Kedua, kegagalan membangun komunikasi dan motivasi sebagai prasyarat kepemimpinan dalam sebuah organisasi modern. Padahal, komunikasi tidak saja harus diarahkan pada kubu pendukung, melainkan juga pada kubu rival. Memotivasi kubu rival untuk turut urun rembuk dalam kepentingan yang lebih besar (organisasi NU) tidak bisa diimplementasikan. Akhirnya, komunikasi dan motivasi hanya tertuju pada satu arah, pihak pendukungnya sendiri.
Sampai detik tulis ini ditulis, formasi kepengurusan PBNU belum dipublikasikan. Hal ini menyebabkan memunculkan prediksi yang beragam, termasuk apakah organisasi NU akan diformat layaknya negara yang multi partai, atau seperti negara yang hanya punya satu partai penguasa. Tentu saja, NU bukan sebuah negara, dan analoginya pada negara yang multi partai atau tidak, cukup berlebihan. Tetapi, bagi warga Nahdliyyin, itu sangat terasa.
Perasaan itu muncul dengan melihat proses negoisasi pihak pemenang (Gus Yahya dan Kiai Akhyar), sebelum secara resmi mengumumkan struktur kepengurusan mereka. Lobi-lobi dengan tokoh pendukungnya mulai terlihat, kesana kemari. Selain murni demi tujuan silaturahmi yang diajarkan Islam, tentu pembicaraan tentang masa depan NU adalah bagian penting yang tidak dapat tidak dipikirkan. Bahkan itulah inti utama dari silaturahmi.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.