Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Terawan dan Chairil Anwar

Perseteruan “abadi” dokter Terawan Agus Putranto versus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memasuki babak baru.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Terawan dan Chairil Anwar
Kolase foto Tribunnews
Kolase dr Terawan Agus Putranto, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) 

Tak mau kalah, Komisi IX DPR pun mengundang IDI untuk didengar keterangannya, salah satunya soal pemecatan Terawan, Selasa (29/3/2022).

Sayangnya, dengan dalih sedang mempersiapkan berkas Muktamar ke-31 di Banda Aceh, IDI tidak datang. 

Sederet pejabat dan elite politik telah membuktikan keampuhan metode DSA kreasi Terawan.

Diantaranya Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, mantan Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud Md, dan mendiang Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono.

Kecuali Ny Ani yang memang sudah wafat, rata-rata mereka tak setuju terhadap langkah IDI memecat Terawan.

Sajak “Aku”

Kreativitas memang kerap tak mendapat tempat dalam sebuah komunitas. Ibarat baris-berbaris, Terawan dianggap telah keluar dari barisan.

Rekomendasi Untuk Anda

Ibarat sekawanan domba, Terawan telah menjelma menjadi serigala. Supaya domba-domba itu tidak terancam, sang serigala harus diusir dari kawanan. 

"Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang," tulis Chairil Anwar (1922-1949) dalam sajaknya, "Aku" (1943) yang tampaknya representatif untuk menggambarkan keberadaan Terawan di IDI.

Ya, Terawan mirip dengan Chairil Anwar yang karena kreativitasnya sempat ditolak oleh komunitasnya.

Dengan dalih sajak “Aku” terlalu individualistis, saat itu banyak majalah atau penerbit yang menolak memuat sajak karya Chairil Anwar itu.

Sikap pemerintah kolonial Jepang yang saat itu represif dijadikan alasan. Akhirnya terbukti eksistensi Chairil Anwar tak terelakkan. Bahkan dia dinobatkan sebagai sastrawan pelopor Angkatan 1945.  

Keberadaan vaksin Nusantara juga akan mengancam vaksin-vaksin lain yang dibeli dengan impor.

Ada banyak pihak yang berkepentingan dengan impor vaksin. Maka sempurnalah penyingkiran Terawan dari IDI. 

Tapi, Terawan bukanlah anak bawang. Jenderal bintang tiga TNI itu kerap melakukan perlawanan untuk mempertahankan eksistensinya atau bahkan sekadar survive.

Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas