Tunisia, Sejarah dan Pengaruh Revolusi Melati pada Dunia Arab
Tunisia merupakan simbol peradaban besar di masa lalu. Ia adalah rumah bagi budaya Capsian, budaya Mesolitik, sejak 10.000 hingga 6.000 tahun SM
Editor:
Husein Sanusi
Tunisia, Sejarah dan Pengaruh Revolusi Melati pada Dunia Arab
*Dari Catatan Perjalanan, KH. Imam Jazuli, Lc. MA.
TRIBUNNEWS.COM - Sore kemarin, Minggu (11/12/2022) waktu Tunisia, saya diajak Dubes RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi ( saya memanggilnya "Gus Dubes') mengunjungi Avenue Habib Bourguiba, yang merupakan Jantung Kota Tunis. Dulu dimulai dari tempat inilah revolusi Arab Spring bergulir dengan kejatuhan presiden Tunisia Rezim Bin Ali pada tahun 2011, yang telah berkuasa 23 Tahun. Kemudian revolusi itu merambah ke berbagai negara arab.
Mengunjungi tempat yang bersejarah ini ternyata sangat mengagumkan, suasananya mirip seperti di Eropa, baik tata kota, bangunan, maupun fashion orang-orangnya. Pemandangan yang sedikit eksotis dan paradoks, sebab muslim 98 persen, tapi nampak sangat sedikit perempuan yang berhijab.
Tepat jam 15.30, kami diajak ke sebuah Cafe konon termewah dan termegah di Tunisia, yaitu Cafe 716 Lak 2, dengan ruangan Indor dan Outdor yang bisa menampung 700 pax, tentu dengan menu lezat yang beragam, dan menghadap ke laut mediterania.
Lantas kami memesan aneka makanan dan yang paling khas yaitu makanan asli Tunisia bernama Kus-kus yang super lezat. Kedatangan kami kesini yang paling utama bukan untuk makan, tapi Nobar Piala Dunia pertandingan Brazil dan Kroasia, yang dimulai pukul 16.00 waktu Tunisia. Sesuai harapan saya, Brazil pun tumbang, saya memang selalu mendukung tim underdog dalam setiap pertandingan Bola, kebetulan saya tidak suka status Quo.
Sesuatu yang menarik ditengah pertandingan itu, Duta Besar RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi (Gus Dubes) diwawancara wartawan televisi Tunisia terkait pertandingan Brazil, sayapun terheran-heran ternyata para wartawan sangat kenal dengan Gus Dubes, dalam perjalanan kami dalam sehari saja, 2 kali Gus dubes diwawancarai wartawan televisi, saya baru tau setelah ngobrol dengan wartawan tadi ternyata Gus Dubes pengamat olahraga, sosial dan politik yang sering tampil di media Tunisia.
Jujur, saya bangga memiliki sahabat yang bukan hanya memberi warna untuk Indonesia tapi untuk dunia Arab. Pelayanan beliau kepada kami sebagai tamu sangat luar biasa, sungguh kami merasa tersanjung. Semoga beliau kedepan menjadi salah satu menteri yang memberi warna lebih baik untuk Indonesia. Itulah doa kami untuknya.
Selanjutnya terkait Tunisia, ia merupakan simbol peradaban besar di masa lalu. Ia adalah rumah bagi budaya Capsian, budaya Mesolitik, yang berlangsung sejak 10.000 hingga 6.000 tahun SM. Saat itu, Tunis dikenal sebagai kota Gafsa. Tunisia juga menjadi tempat lahirnya peradaban Kartago, yang mencapai puncaknya pada abad ke-3 SM. Kemudian, ia menjadi bagian Kerajaan Berber Numidia Bersatu, provinsi penting Kekaisaran Romawi, di bawah dominasi Vandal selama beberapa dekade.
Berbicara tentang penyebaran Islam, Tunisia tidak bisa diabaikan. Ekspedisi Arab pertama kali ke Tunisia berlangsung pada masa Khalifah Usman bin Affan tahun 650. Tentara Arab berhasil menghancurkan tentara Bizantium Patrice Grégoire di dekat Sbeïtla di bawah komando Abdullah bin Sa’ad. Serangan kedua ke Tunisia dipimpin oleh Mu'awiya ibn Hudaij, pada masa khalifah Umayyah, tahun 666. Mu'awiya I berhasil merebut kota-kota seperti Sousse dan Bizerte. Pulau Djerba juga direbut pada 667.
Ekspedisi ketiga dipimpin oleh Uqbah bin Nafi’ al-Fihri pada tahun 670. Pertempuran ini sangat menentukan. Uqbah juga mendirikan kota Kairouan pada tahun yang sama, dan kota ini menjadi basis ekspedisi melawan wilayah Maghreb Utara dan Barat. Menyusul kematian Uqbah bin Nafi’ pada tahun 683, invasi gagal. Lebih-lebih muncul serangan Kepala Suku Berber Koceïla di selatan Aurès.
Pusat pendidikan agama di Kairouan diorganisir menjadi lebih sistematis. Penyelenggaraan pendidikan agama ditempatkan dalam ribat-ribat baru. Namun, banyak juga orang Berber yang menolak asimilasi ke dalam Islam garis utama. Banyak dari mereka menganut mazhab Khawarij, yaitu aliran agama Islam yang lahir di Timur dan secara khusus memproklamirkan persamaan semua Muslim, tanpa membeda-bedakan ras atau kelas.
Dari 767 hingga 776, Suku Berber Khawarij berusaha merebut semua wilayah di bawah komando Abu Qurra’. Namun, mereka kalah dan mundur ke kerajaan Tlemcen, setelah berhasil membunuh Umar bin Hafsh (bergelar Hezarmerd), penguasa saat itu. Pada tahun 800, Khalifah Abbasiyah Harun ar-Rasyid mendelegasikan kekuasaannya di Ifriqiya kepada Emir Ibrahim ibn al-Aghlab, dan memberi Al-Aghlab hak meneruskan fungsinya secara turun-temurun.
Tunisia menjadi provinsi Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1534, di bawah kepemimpinan Jenderal Khairuddin. Walaupun sempat jatuh ke tangan armada Charles Quint, Raja Spanyol, pada tahun 1535, Turki Usmani kembali mengambilnya pad tahun 1574. Tunisia memperoleh otonomi terbesarnya pada era Ahmed I Bey, yang memerintah dari tahun 1837 hingga 1855.
Pada 12 Mei 1881, Tunisia berada di bawah protektorat Prancis. Baru pada tanggal 20 Maret 1956, Tunisia menjadi negara dengan sistem monarki konstitusional. Pada 25 Juli 1957, konsep negara republik diproklamasikan menggantikan konsep monarki konstitusional. Saat itu, pemimpin nasionalis pertamanya adalah Habib Bourguiba, presiden pertama Republik Tunisia, sekaligus teman baik Ir. Soekarno.
Habib Bourguiba memodernisasi Tunisia selama tiga puluh tahun. Pada akhirnya, Tunisia ditandai dengan klientelisme dan kebangkitan Islamisme. Pada tahun 1987, Habib Bourguiba digulingkan oleh Perdana Menteri Zine el-Abidine Ben Ali. Ben Ali mengejar tujuan utama "borgubisme" sambil meliberalisasi ekonomi. Tetapi, Ben Ali menjalankan kepresidenannya dengan otoriter dan koruptif. Pada 14 Januari 2011, Ben Ali dilengserkan oleh revolusi rakyat, dan memaksanya mencari perlindungan di Jeddah, Arab Saudi.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan