Happy Santri, Kulkas Diisi Skin Care
Pelajaran terpenting dari Pesantren BIMA adalah bagaimana pesantren ini mampu menemukan shortcut sistem pembelajaran yang efektif dan efisien.
Penulis:
Husein Sanusi
Akhir 2019 adalah awal mengenal Kyai Imam Jazuli, sebagai Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia rasanya memang beda. Beliau punya mimpi besar dengan ide-ide gila tentang dunia pesantren yang menurut beliau harus berubah total dalam banyak hal.
Kyai Imam Jazuli memilih jalannya sendiri dalam mendidik santri-santrinya. Sesuai dengan perubahan zaman dengan perilaku anak-anak masa kini yang sejak lahir sudah akrab dengan gadget dan media sosial.
Kyai Imam Jazuli sadar betul bahwa santri-santri tersebut sebelum masuk pesantren sudah akrab lebih dulu dengan gadget dan media sosial yang menyediakan banyak pengetahuan bahkan pengetahuan yang melebihi pengetahuan para pengajar.
Kemudahan akses informasi di era digital membuat para calon santri tahu lebih dulu banyak hal sebelum mereka nyantri.
Contoh misalnya, mereka sudah biasa melek fashion kekinian, busana yang sedang ngetrend di medsos, tapi kemudian semua pengetahuannya tentang fashion termasuk trend kosmetik yang sedang viral untuk bersolek tiba-tiba dilarang di pesantren atau menjadi hal yang tabu.
"Kita tidak bisa melawan keniscayaan ini, pesantren harus peka dengan memperhatikan perubahan perilaku anak masa kini. Saya pernah membuka kulkas di kamar santri, ternyata isi kulkas santriwati bukan makanan tetapi diisi skin care," kata Kyai Imam Jazuli sambil tersenyum.
"Itulah anak zaman sekarang, zaman kita fungsi kulkas untuk simpan makanan. Tapi anak sekarang mengubah fungsi kulkas untuk menyimpan skin care. Santri zaman sekarang ingin tetap tampil glowing meski di pesantren," kata Kyai Imam Jazuli.
Menurut Kyai Imam Jazuli mengetahui kebiasaan anak-anak masa kini serta mengikuti kebiasaan mereka jadi hal terpenting bagi pengelola pesantren.
Setelah diikuti apa yang menjadi kesukaan mereka barulah dimasukkan pelajaran yang sesuai dengan nilai-nilai dan tradisi pesantren.
"Costumer pesantren sekarang sudah berubah, beda dengan zaman kita dulu ketika nyantri, maka perubahan sistem sangat penting sekali dilakukan oleh pesantren," kata Alumni Pesantren Lirboyo, Kediri ini.
Lewat ide-ide gila tersebut, Kyai Imam Jazuli sama sekali tidak bermaksud akan meruntuhkan value pesantren, yang dikenal sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia serta akrab disematkan dengan sistem pendidikan tradisional.
"Perhatikan pesantren ini! saya bisa katakan inilah pesantren paling salaf. Santri disini mayoritas pengamal tirakat, bahkan puasa setiap hari selama tiga tahun. Membaca kitab kuning takhossus, ditambah hafalan Qur'an tetapi saya tidak mau jualan program tahfidz Qur'an. Ada istighosah setiap bulan dan haul tahunan yang dihadiri ribuan jamaah," kata Kyai Imam Jazuli.
Pelajaran terpenting dari Pesantren BIMA adalah bagaimana pesantren ini mampu menemukan shortcut sistem pembelajaran pesantren yang efektif dan efisien dengan karakter generasi era digital.
Yaitu dengan metode berbasis program. Seluruh santri akan menerima program pelajaran berjenjang dengan fokus mata pelajaran tertentu dalam waktu tertentu pula. Ada tujuh program unggulan di Pesantren BIMA yang merupakan program unggulan pesantren ini.
Ketujuh program tersebut antara lain Tahsin Al-Qura’an Bimaqu, Tahfizh Al-Qur'an Bimaqu, Fiqih Bimaku, Bahasa Arab Bimaku, Qiroatul Kutub, English Bimaku, dan Program Eksak.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.