Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Peran Besar BUMN Dalam Dunia Olahraga Kita

Di bulan politik yang menuju ke hari akhir pencoblosan, persilangan pendapat ini tampaknya belum akan reda.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Toni Bramantoro
zoom-in Peran Besar BUMN Dalam Dunia Olahraga Kita
ist
BUMN 

OLEH: M. Nigara

BELAKANGAN sedang ramai dibincangkan silang-pendapat terkait Kementerian BUMN. Ada pihak yang mengatakan akan dibubarkan, dan ada juga jawaban yang menegaskan BUMN akan tetap dipertahankan.

Di bulan politik yang menuju ke hari akhir pencoblosan, persilangan pendapat ini tampaknya belum akan reda. Kedua kubu tetap berpegang pada pendapat masing-masing. Sebagai wartawan olahraga senior, saya tidak ingin masuk dalam perdebatan itu.

Saya justru akan mengingatkan kita semua bahwa BUMN sejak lama, memiliki peran sangat besar dalam dunia olahraga nasional. Sejak era Pak Harto, Badan Usaha Milik Negara sudah memiliki peran penting untuk dunia olahraga nasional.

Catatan: Kementerian BUMN memiliki tugas pokok dan fungsi melaksanakan pembinaan terhadap perusahaan negara/BUMN di Indonesia.

Kementerian BUMN telah ada sejak tahun 1973, yang awalnya merupakan bagian dari unit kerja di lingkungan Departemen Keuangan.

Selanjutnya, organisasi tersebut mengalami beberapa kali perubahan dan perkembangan. Dalam periode 1973 sampai dengan 1993, unit yang menangani pembinaan BUMN berada pada unit setingkat eselon II. Awalnya, unit organisasi itu disebut Direktorat Persero dan PKPN (Pengelolaan Keuangan Perusahaan Negara).

Rekomendasi Untuk Anda

Selanjutnya terjadi perubahan nama menjadi Direktorat Persero dan BUN (Badan Usaha Negara). Terakhir kalinya pada unit organisasi setingkat eselon II, organisasi ini berubah menjadi Direktorat Pembinaan BUMN sampai dengan tahun 1993.

Selain mensponsori kegiatan-kegiatan, BUMN pun tidak ragu menampung para atlet. Hebatnya, bukan hanya atlet nasional berprestasi, atlet nasional yang belum mampu meraih prestasi pun diberikan tempat terbaik.

Tidak heran Sutjipto Suntoro, bomber sepakbola nasional yang ketenarannya mampu mencapai Tokyo, Seoul, New Delhi, Bangkok, Malaysia, dan Singapura tercatat sebagai karyawan Bank Bumi Daya, padahal BUMN sendiri baru resmi berdiri 1973.

Begitu pun Wailan Walalangi, peraih emas Ganda Putra tenis, Asian Games 1982, Icuk Sugiarto juara dunia bulutangkis. Dari cabor karate, Elong Chandra sempat mentereng karirnya di Bank Mandiri.

Begitu juga dengan Fredrick Lumanaw, karirnya cukup moncer di Kementerian BUMN. Dan, sederet pemain PSSI Garuda-1: Marzuki Nyakmad, Patar Tambunan, Azhari Rangkuti, Aji Ridwan Mas, dan banyak lainnya berkarir di Bank BTN, BNI, dan BU.

Ya, di BUMNlah mereka melanjutkan karirnya hingga memasuki masa pensiun.

Peran lain terjadi di lingkup sepakbola. PSSI, di masa Kardono 1983-91, lahir Liga Galakarya (event kompetisi antar perusahaan BUMN dan perusahaan swasta besar).

Kegiatan ini pula yang dijadikan contoh oleh klub-klub profesional di Jepang serta Korea Selatan. Maka berdirilah klub Matsushita, Hyundai, dan lainnya.

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas