Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Napoleon Bonaparte, Adolf Hitler, dan Nafsu Perang Emmanuel Macron

Presiden Macron menyatakan barat akan melakukan segala cara untuk mencegah Rusia memenangkan perang di Ukraina. Bila perlu mengirim tentaranya Eropa.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Setya Krisna Sumarga
zoom-in Napoleon Bonaparte, Adolf Hitler, dan Nafsu Perang Emmanuel Macron
SERGEI SUPINSKY / AFP
Presiden Prancis Emmanuel Macron berjabat tangan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kiri) diapit oleh Perdana Menteri Italia Mario Draghi (kiri) dan Kanselir Jerman Olaf Scholz (kanan) di Istana Mariinsky, di Kyiv, pada 16 Juni 2022. 

Pasukan Prancis gagal menemukan logistik baru, dan berakhir kemunduran memalukan. Raja Swedia, Jenderal Bernadotte yang tadinya menyokong Napoleon, berbalik arah.

Kekalahan di Moskow menjadi rangkaian pamungkas sejarah kekuasaan Napoleon Bonaparte sebelum jatuh.

Dua tahun kemudian, pasukan Rusia berbalik ikut mengepung Paris, dan pada 31 Maret 1814, skuadron kavaleri Kaisar Rusia Alexander I memasuki ibu kota Prancis.

Jatuhnya ibu kota Prancis menyebabkan turunnya Kaisar Bonaparte dan mengakhiri perang Napoleon yang telah berlangsung lama.

Prancis di berbagai palangan tempur harus menghadapi gabungan kekuatan militer kerajaan Inggris, Belanda, dan Prusia.  

Pengepungan dan pertempuran Paris berlangsung 18 jam, sebelum pasukan Napoleon mengibarkan bendera putih.

Serangan terakhir terhadap Paris dimulai pada pukul 6 pagi pada 30 Maret. Penyerahan kota ditandatangani pada pukul 2 pagi pada 31 Maret di La Vilette.

Rekomendasi Untuk Anda

Jumlah petempur Prancis yang menyerah di Paris diperkirakan mencapai 45 ribu orang. Serangan sengit musuh mematahkan keinginan mereka untuk terus bertarung.

Alexander I teringat apa yang dilakukan Prancis terhadap Moskow dan menyatakan pasukannya tidak akan menyerbu ibu kota Prancis hanya jika tentara Prancis meninggalkannya.

Perjanjian damai yang disetujui oleh para pemenang tidak mengatur pembayaran reparasi.

Paris adalah kota terbesar di Eropa dengan jumlah penduduk 714.600 jiwa.

Sekutu mendekatinya dari timur laut dalam tiga kolom utama yang berjumlah 100.000 tentara, termasuk 63.000 tentara Rusia.

Saat pasukan bergerak menuju pusat kota Paris, suasana hati penduduk setempat berubah.

Warga Paris, yang semula menduga akan terjadi pembalasan gila-gilaan oleh pasukan Rusia, akibat kehancuran Moskow pada 1812, melihat unit-unit Rusia berperilaku menahan diri dan bersahabat.

Setelah Paris direbut, pada 6 April 1814, Napoleon, yang kehilangan pasukan besarnya, turun tahta di Fontainebleau dan diasingkan ke pulau Elba.

Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas