Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribunners
LIVE ●
tag populer

Tribunners / Citizen Journalism

Trudeau ke Trump: Tetangga Masa Gitu?

Kebijakan tarif impor yang diterapkan Trump membuat jengkel banyak orang, termasuk tetangga dekatnya, Kanada.

Editor: Tiara Shelavie
zoom-in Trudeau ke Trump: Tetangga Masa Gitu?
Facebook The White House
TARIF DAGANG AS - Foto ini diambil pada Kamis (3/4/2025) dari Facebook The White House memperlihatkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berbicara selama konferensi pers setelah menandatangani kenaikan tarif dagang baru antara AS dan negara lain di dunia, di Gedung Putih di Washington, DC, AS pada Rabu (2/4/2025). Kebijakan tarif impor yang diterapkan Trump membuat jengkel banyak orang, termasuk tetangga dekatnya, Kanada. 

Oleh: Xavier Quentin Pranata, kolumnis

TRIBUNNEWS.COM - Kebijakan tarif impor yang diterapkan Trump membuat jengkel banyak orang, termasuk tetangga dekatnya, Kanada. Dua negara yang selama ini sering disebut ‘serupa tapi tak sama’ ini meradang. Justin Trudeau, mantan PM Kanada, bahkan dengan nada garang mengatakan kebijakan Trump dengan “Dumb thing to do.” Bagaimana dengan Indonesia? Presiden Prabowo dalam waktu dekat diharapkan bisa mendiskusikan tarif impor dengan Trump. Hubungan dua negara ini memang tidak sedang ‘baik-baik saja’, apalagi dengan pencabutan visa warga asing termasuk Indonesia. KBRI di Washington pun buka suara: “Sehubungan dengan meningkatnya pengawasan dan penegakan aturan terhadap visa pelajar internasional oleh otoritas imigrasi Amerika Serikat, seluruh mahasiswa Indonesia pemegang visa F-1 dan/atau J-1 diimbau untuk lebih berhati-hati dan memastikan kepatuhan terhadap seluruh ketentuan imigrasi yang berlaku.”

Gerah dengan tetangga sebelah

Karena gerah dengan ulah tetangga yang dianggap gegabah, Kanada langsung ambil langkah. Negara dengan lambang daun maple itu tidak OMDO. Mereka langsung ‘Do’. Bagi yang suka belanja di pusat perbelanjaan di toko-toko di berbagai kota di Kanada, bisa menyaksikannya secara langsung. Para pegawai beramai-ramai menurunkan barang-barang ‘made in USA’ dari rak-rak toko mereka. Bukan hanya itu, untuk produk-produk yang tidak atau belum bisa disediakan oleh Kanada sendiri, mereka dengan terang-terangan memasang pengumuman dari mana produk tersebut berasal. Tindakan balasan tetanga ke took sebelah ini direspon positif oleh para pembelanja. Jika produk buatan negeri sendiri tidak tersedia, mereka memilih produk serupa dari negara lain asal bukan dari tetangga yang ngajak cekcok.

Buy Canadian and Canadiano

Seia sekata dengan PM-nya, warga negara pun mencuit dan menjerit patriotik. “Trump yang me[U1] micu lonjakan patriotisme Kanada. Bukan kami yang menciptakan cekcok,” ujar Dylan Lobo, pegiat kampanye daring Made in Canada.

Graham Palmatter bahkan langsung action gerakan ‘Buy Canadian’ ini. Dia bukan hanya berkata lantang, “At one point I just figured, that’s enough, I’m going to do this,” namun pemilik gerai Gram’s Pizza di Ottawa ini mengganti bahan baku pembuat cemilan asal Italia itu. Tomat pun tidak lagi impor dari California melainkan dari Italia sambil berbangga memakai bahan dari negeri asli pizza. Bisa jadi kalau saya berkunjung ke sebuah kedai sandwich yang selalu saya kunjungi tiap kali ke Vancouver, daging pepperoni pun bukan lagi buatan negeri Paman Sam.

Rekomendasi Untuk Anda

“Jika tidak ada selada Kanada, saya akan mencari selada Meksiko,” ujar Nikki Gauthier yang tinggal di Ontario.

Sebagai coffee lover, dua anak cowok saya biasa minum Americano. Kini kalau mereka ke Kanada, mereka harus menggantinya dengan Canadiano.

Tidak mudah pisah dengan sebelah

Memang tidak mudah bagi Kanada untuk berpisah dengan ‘saudara dekat’ yang sudah turun-temurun saling berbagi rezeki. Tahun lalu saja, perdagangan ‘antartoko’ yang bersebelahan ini mencapai $760 milyar!

Sebelumnya, David Eby menyimpulkan, “Hubungan ini telah berubah selamanya.” Perdana Menteri British Columbia ini menambahkan, “Kami memiliki teman, keluarga, dan hubungan yang telah terjalin selama beberapa generasi di seberang perbatasan. Kami mencintai anggota keluarga Amerika kami.” Namun, warga Kanada “tidak akan pernah lagi menempatkan diri dalam posisi yang sangat bergantung pada Amerika Serikat.”

Kebiasaan dua negara untuk saling mengunjungi, khususnya di saat liburan, sudah berjalan begitu lama. Saat berkunjung ke Seattle, seorang sahabat dari Washington DC menyambut saya dengan ucapan: “Lho kok kemari. Kami justru ingin ke sana.” Alam Kanada memang indah. Kalau bepergian dari satu kota ke kota lain, dari desa ke desa lain, saya lebih suka jalan darat. Selama perjalanan mata saya dimanjakan dengan hutan, gunung dan danau yang memukau.

Ogah ke negara ‘penjajah’

Kini peta liburan itu berubah. Banyak warga Kanada yang ogah ke Amerika. Mereka yang sudah merencanakan liburan pun merelakan uangnya hilang karena membatalkan perjalanan mereka ke tetangga yang sering bikin mereka resah. Puncaknya ketika Trump ingin ‘mencaplok’ tanah mereka. “Kebangetan dan bikin kami geregetan. Tetangga masa gitu?” mungkin itulah lava terpendam dalam tanah yang siap tertumpah lewat amarah.

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas