AS-Tiongkok Damai: Indonesia Jadi Pelanduk?
Sejak Presiden Donald Trump memproklamasikan "trade war" (perang dagang), dengan memasang tarif hingga 145%, Tiongkok terus melawan.
Editor:
Hasanudin Aco
Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
TRIBUNNEWS.COM - "Si vis pacem para bellum".
Bila mau berdamai, bersiaplah untuk perang.
Demikianlah. Tiongkok sudah membuktikan itu.
Kini negeri tirai bambu itu telah berdamai dengan musuh bebuyutannya: Amerika Serikat!
Sejak Presiden Donald Trump memproklamasikan "trade war" (perang dagang), dengan memasang tarif hingga 145 persen, Tiongkok terus melawan.
Perdana Menteri Tiongkok Xi Jinping pun membalasnya dengan memasang tarif tinggi pula bagi barang-barang AS yang mau masuk Tiongkok: 125%.
Akhirnya dalam perundingan yang berlangsung di Jenewa, Swiss, Sabtu (10/5/2025), kedua negara sepakat menurunkan tarif masing-masing sebesar 115%.
Kini barang Tiongkok yang mau masuk AS dikenai tarif 30%. Sedangkan barang AS yang mau masuk Tiongkok hanya dikenai tarif 10%.
Tarif yang akan berlaku mulai Rabu (14/5/2025) esok ini masih bisa turun lagi. Belum final.
Kesepakatan damai ini tercapai setelah Tiongkok bersiap perang dagang melawan AS. Tiongkok akhirnya menang. Donald Trump yang semula gagah berani dan heroik, akhirnya berlutut ke Xi Jinping.
Trump bingung sendiri. Ekonominya terancam bangkrut. Banyak komoditas yang selama ini harus diimpor dari Tiongkok.
Posisi politiknya juga terancam. Banyak warga AS yang demo menentang kebijakan tarif Trump. Xi Jinping makin di atas angin. Akhirnya Trump menyerah. Kepala batunya melunak.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Dua gajah bertarung, pelanduk mati di tengah. Tiongkok versus AS berperang dagang, akankah Indonesia "mati" di tengah laiknya pelanduk?
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan