Komodifikasi: Pendidikan Lahan Transaksi Bisnis
Perubahan Haluan Pendidikan dari usaha memanusiakan manusia menjadi sektor bisnis disebut sebagai komodifikasi.
Editor:
Suut Amdani
Stigma ini mengancam eksistensi Pendidikan secara total.
Dalam perjalanannya, pelbagai praktik keliru seperti perjokian, penjualan sarana belajar demi keuntungan ekonomi, penipuan gelar, ijazah palsu,dan banyak lagi, menjadi sandiwara normal.
Pendidikan seakan menjadi ladang jual-beli (komersialisasi) kompetensi.
Para peserta didik dijadikan sumber daya yang harus tunduk pada pemodal, sebab mereka disiapkan bukan untuk menjadi manusia yang berpikir sendiri (Sapere aude), melainkan pemburu lapangan pekerjaan yang membutuhkan validasi (Ijazah).
Dalam banyak kesaksian, Lembaga Pendidikan menjadi lingkup yang tidak terjangkau oleh mereka yang tak cukup beruntung (baca: miskin).
Standar sekolah dengan biaya yang mahal menjadi alasan utama bagi mereka yang kesulitan secara ekonomi untuk mengakses Pendidikan.
Dengan kata lain, komodifikasi Pendidikan memperjelas kesenjangan antara kelas Masyarakat.
Pencederaan terhadap asas pemanusiaan manusia sebagaimana yang digambarkan oleh Freire hadir dalam bentuk komodifikasi di lingkup Pendidikan.
Pada akhirnya, mereka yang berijazah belum tentu berakal. Rocky Gerung menyebutkan paradoks pemahaman terhadap ijazah.
“Ijazah adalah bukti orang pernah sekolah, bukan berarti ia pernah berpikir.”
Rokcy menjelaskan esensi Pendidikan yang sebenarnya adalah usaha untuk berpikir sendiri (Sapere aude).
Transaksi yang tercipta akibat komersialisasi Pendidikan mengafirmasi kehilangan tujuan dan arah Pendidikan yang sebenarnya.
Lembaga Pendidikan mesti menjadi wadah yang bebas dari praktik keliru.
Artinya, output yang dihasilkan adalah manusia yang berkarakter serta berakal.
Sedangkan logika pasar menjelaskan bahwa ijazah adalah standar pengetahuan.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.