Geopolitik Rusia dalam Konflik Iran-Israel
Rusia manfaatkan konflik Iran-Israel untuk kepentingan geopolitik, tapi risikonya bisa picu krisis global dan ekonomi hancur.
Editor:
Glery Lazuardi
Geopolitik Rusia dalam Konflik Iran-Israel
Oleh: Achmad Firdaus H.
Mahasiwa Doktor Hubungan Internasional dari University People’s Friendship of Russia
TRIBUNNEWS.COM, MOSKOW- Konflik antara Iran dan Israel yang terus memanas telah menempatkan Rusia pada posisi yang unik sekaligus kontradiktif.
Di satu sisi, Moskow secara terbuka menyalahkan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas eskalasi kekerasan, terutama setelah serangan terhadap kedutaan Iran di Suriah.
Namun di balik retorika perdamaiannya, Rusia justru memperkuat kerja sama militer dengan Teheran, mulai dari transfer teknologi persenjataan hingga perlindungan diplomatik di forum internasional.
Sikap ambivalen ini terlihat jelas dalam kebijakan Rusia di PBB.
Moskow dengan tegas memveto setiap resolusi yang mengecam Iran, sambil bersikeras menawarkan diri sebagai mediator - tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Barat karena dianggap tidak imparsial.
Pada dasarnya, Kremlin sedang bermain api: memanfaatkan krisis untuk mengalihkan perhatian dunia dari kegagalannya di Ukraina, sekaligus memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah melalui aliansi dengan Iran.
Namun strategi ini mengandung risiko besar. Rusia sebenarnya tidak menginginkan perang terbuka antara Iran dan Israel, karena akan mengancam kepentingannya di Suriah dan berpotensi memicu krisis energi global yang bisa menghancurkan ekonomi Rusia yang sudah terpuruk.
Solusi nyata membutuhkan pendekatan multilateral yang melibatkan aktor-aktor netral. PBB perlu membentuk tim mediasi khusus yang benar-benar independen, terdiri dari negara-negara tanpa kepentingan langsung di kawasan, seperti Swiss atau Brasil.
Mekanisme pengawasan senjata yang lebih transparan juga harus segera diterapkan, termasuk inspeksi terhadap program nuklir kedua belah pihak oleh badan internasional yang kredibel.
Di tingkat regional, negara-negara Arab moderat seperti Arab Saudi dan Mesir bisa memainkan peran krusial sebagai penengah.
Sementara itu, masyarakat internasional harus mengurangi ketergantungan energi pada kawasan Timur Tengah, karena minyak dan gas sering kali menjadi akar dari intervensi asing.
Tekanan dari masyarakat global melalui kampanye damai dan petisi online bisa menjadi pengingat bagi para pemimpin dunia bahwa perang bukanlah solusi.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.