Inspirasi Cinta Lingkungan dari Lapangan Banteng
Meskipun digelar di pusat kota, jauh dari rimba dan laut lepas, Flona menyajikan miniatur keragaman hayati yang semakin langka di kehidupan urban
Editor:
Eko Sutriyanto
Flona, dalam lanskap urban Jakarta, bisa dibaca sebagai manifestasi kecil dari semangat ekologi integral yang digaungkan Laudato Si’. Paus Fransiskus menyatakan bahwa segala sesuatu saling berkaitan, yakni lingkungan hidup, keadilan sosial, budaya, dan spiritualitas. Maka, merawat bumi bukan hanya agenda para pecinta lingkungan, tetapi juga panggilan moral bagi siapa saja yang percaya bahwa hidup manusia tidak terlepas dari makhluk lainnya.
Pertobatan ekologis, istilah yang digunakan dalam ensiklik itu, bukan berarti perubahan religius semata, tetapi perubahan cara pandang dan cara hidup. Kita diajak untuk tidak lagi memandang bumi sebagai “milik manusia” yang bisa dieksploitasi sesuka hati, melainkan sebagai rumah bersama (common home) yang perlu dijaga dan dihormati.
Baca juga: Keunikan Bentang Alam Indonesia, Keindahan Surga Tropis yang Patut Dijaga
Flona, dalam skala mikro, menunjukkan bahwa relasi resiprokal itu mungkin. Ketika warga merawat tanaman dan hewan, mereka sesungguhnya sedang membangun peradaban yang lebih beradab.
Sayangnya, di tengah krisis iklim global dan degradasi ekologis akut, kesadaran seperti ini masih menjadi wacana pinggiran. Dunia pendidikan dan kebijakan publik belum menjadikan spiritualitas ekologis sebagai kerangka utama. Sementara itu, generasi muda makin terjebak dalam gaya hidup digital yang membuat hubungan mereka dengan alam makin renggang.
Pameran Flona di Lapangan Banteng mungkin hanya berlangsung sesaat, tidak sampai bulanan, namun ia menyimpan potensi pembelajaran yang tak lekang waktu. Ia memperlihatkan bahwa di tengah kota, ruang perjumpaan antara manusia dan alam masih mungkin terjadi. Namun, perjumpaan itu akan sia-sia bila tidak disambut dengan kesadaran dan tindakan nyata.
Sudah saatnya pameran semacam ini dijadikan bagian dari ekosistem pendidikan ekologis nasional. Pemerintah daerah, sekolah, komunitas, dan lembaga keagamaan perlu membangun sinergi yang lebih serius dalam menumbuhkan budaya cinta lingkungan. Laudato Si’ telah memberikan arah spiritual dan etis; Adiwiyata memberi kerangka kelembagaan; dan pameran seperti Flona memberi ruang konkret untuk menghidupi semuanya.
Jika kita sungguh ingin meninggalkan bumi yang layak huni bagi generasi mendatang, maka langkah pertama bukanlah menunggu perubahan global, melainkan menumbuhkan perubahan lokal—dari ruang publik, dari sekolah, dari taman kota, dari hati masing-masing.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan