One Word, One Peace, One Hope: Indonesia Emas
Belakangan banyak pakar menyatakan bahwa mereka bukan didalangi tetapi ditunggangi oleh mereka yang memang sengaja bikin rusuh
Editor:
Suut Amdani
Bukankah ungkapan ‘ayam mati di lumbung padi’ pas untuk menggambarkan istilah ini?
Mengapa bisa begini? Mengapa bisa begitu?
Tidak usah bertanya kepada Dora untuk menemukan petanya.
Gambar besarnya sudah terpampang di depan mata: pengelola yang tidak becus.
Itulah PR yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah.
Permintaan maaf yang tidak disertai tindakan konkret justru menimbulkan luka parah di atas luka lama.
Jika terus dibiarkan, percikan ketidakpuasan itu bisa membesar menjadi api yang menghanguskan.
Masih ada harapan
Saat bertanya kepada artificial intelligence satu kata apa yang mengubah dunia, akal imitasi ini menyodorkan empat kata: Iman, Pengharapan, Kasih, Perubahan.
Pas sekali dengan ucapan Rasul Paulus: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1Kor 13:13).
Rakyat yang ingin suaranya didengar dan ditindaklanjuti, dan bukan hanya ditampung.
Mereka memiliki iman dan pengharapan bahwa pemerintah bisa mengatasi kesenjangan antara si kaya dan si miskin.
Semua aspirasi itu dituangkan dengan langkah konkret: demo penuh kasih. Katakan dengan bunga—memberikan bunga kepada aparat TNI-POLRI—membuat mata saya membasah oleh rasa haru yang membuncah.
Bunga—bukan lemparan batu dan api—bisa jadi kekuatan dahsyat untuk sebuah perubahan asal diresponi dengan tindakan nyata, bukan bahasa berbunga-bunga yang basi dan penuh manipulasi seperti penggalan lagu “Flower”—Jisoo Blackpink:
I fly away like a blue butterfly
It's all on you, you didn't hold on
Even the times that we were in full bloom
To me where a lie, lie, lie
Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lady Bird Johnson. Istri presiden AS Lyndon B. Johnson ini dengan brillian berkata, “Ketika bunga bermekaran, demikian juga harapan.”
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan