Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Refleksi HUT TNI: Bukan Rambo, Bukan Sambo

Wacana lama kembali mencuat: “Haruskah TNI kembali ke barak?” atau “Apakah Dwifungsi TNI masih relevan?”

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dodi Esvandi
zoom-in Refleksi HUT TNI: Bukan Rambo, Bukan Sambo
HANDOUT
Rinatania Anggraeni Fajriani, Executive Director, EVIDENT Institute 

NATO mendirikan Defence Innovation Accelerator for the North Atlantic (DIANA) untuk mendorong kolaborasi teknologi sipil dan militer melalui pengembangan dual-use technology.

Amerika Serikat membentuk Defense Innovation Unit (DIU) sebagai jalur cepat adopsi teknologi komersial seperti drone, AI, dan IoT ke dalam sistem militer.

Inggris melalui UK Defence Innovation (UKDI) mengonsolidasikan berbagai kementerian dan lembaga riset untuk memperkuat inovasi pertahanan.

Singapura membangun The Alliance for Digital Transformation (ADX), kolaborasi antara GovTech, MINDEF, dan Singapore Armed Forces—model kemitraan antara pemerintah, masyarakat sipil, dan militer.

Di panggung global, militer modern tak lagi berebut panggung politik. 

Mereka justru menjadi simpul inovasi yang merangkul akademisi, industri, dan masyarakat sipil untuk memperkuat ketahanan nasional.

Baca juga: Geger Dentuman Misterius di Cirebon, TNI Bantah Meteor Jatuh di Dekat Tol Ciperna

TNI di Persimpangan

Indonesia kini berada di titik pilihan: terus terjebak dalam perdebatan lama, atau melangkah ke masa depan. Ada beberapa langkah strategis yang bisa ditempuh:

Rekomendasi Untuk Anda

Membentuk unit inovasi nasional—“DIU versi Indonesia”—untuk mempercepat integrasi teknologi dual-use seperti AI, drone, dan sensor maritim.

Akselerasi talenta siber dengan memobilisasi komunitas IT nasional sebagai bagian dari pertahanan siber.

Membangun akselerator publik-swasta agar kolaborasi antara BUMN, universitas, dan startup bisa mendorong riset pertahanan keluar dari laboratorium menuju aplikasi nyata.

Langkah-langkah ini memperkuat profesionalisme TNI tanpa harus terlibat dalam politik praktis.

Antara Rambo dan Sambo

Metafora ini sederhana namun penting. TNI tidak boleh menjadi “Rambo”—tentara macho era 1980-an yang serba otot dan individualis. 

Pertahanan modern membutuhkan prajurit yang berpikir sistemik, berbasis data, dan bekerja dalam jejaring teknologi.

Di sisi lain, TNI juga tidak boleh menjadi “Sambo”—mengacu pada kasus perwira tinggi Polri yang terlibat pembunuhan berencana. 

Penyalahgunaan wewenang semacam itu mencederai integritas dan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas