Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Tribunners / Citizen Journalism

Wajah Buram Kebebasan Pers Indonesia: Dari Kepala Babi ke Kartu Pers Dicabut

Intimidasi jurnalis kian marak. Dari pencabutan kartu pers hingga ancaman nyawa, kebebasan pers dan demokrasi terancam punah.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Wajah Buram Kebebasan Pers Indonesia: Dari Kepala Babi ke Kartu Pers Dicabut
Srihandriatmo Malau/Tribunnews.com
SEBASTIAN SALANG - Seorang jurnalis memegang kamera di tengah demonstrasi, simbol perlawanan terhadap intimidasi dan upaya membungkam kebebasan pers di Indonesia. 

Apa akibatnya, Presiden sosok yang mestinya menjadi nahkoda bangsa, disuguhkan narasi semu yang membohongi dirinya sendiri.

Dalam labirin informasi palsu itu, kegagalan pemerintah disembunyikan, rakyat menderita tanpa disadari, dan jarak antara penguasa dan rakyat kian lebar, bagaikan jurang tanpa jembatan.

Ketika sang pemimpin percaya begitu saja, bahwa segala sesuatu berjalan baik-baik saja, padahal rakyat tengah dirundung susah.

Pada saat yang sama, ketidakadilan semakin kentara ketika kehidupan elit semakin mewah sementara rakyat semakin sengsara.

Pada titik ini, tak heran bila kemarahan yang lama terpendam, tiba tiba meledak tak terhindarkan.  

Api amarah itu bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, namun melalui proses panjang penderitaan dan kekecewaan. Cermin dari kegagalan negara dan pemimpin dalam mendistribusi  keadilan sosial.

Membaca Sikap Batin Prabowo

Rekomendasi Untuk Anda

Di tengah semua ini, muncul pertanyaan penting sekaligus menakutkan. Apakah tindakan intimidasi yang dilakukan staf istana merupakan instruksi langsung Presiden?

Apakah Presiden Prabowo benar-benar anti-kritik, anti-kebebasan pers, dan anti-keterbukaan? Jika jawabannya iya, kita tidak saja menyaksikan kematian pers, tapi juga sedang merayakan kematian demokrasi.

Namun jika sebaliknya, Presiden harus menunjukkan keberanian sejati. Sebuah sikap tegas harus segera tercermin, bukan hanya dalam pidato manisnya pada hari pers, tetapi dalam tindakan nyata untuk melindungi jurnalis dan media dari intimidasi.

Komitmen terhadap demokrasi dan kebebasan pers harus menjadi nafas yang menghiasi setiap langkah pemerintahannya, bukan sekadar slogan kosong di setiap mimbar pidato.

Pers sejatinya adalah mitra strategis pemerintah, bukan musuh yang harus dilumpuhkan. Media adalah mata yang melihat dan mulut yang bicara bagi rakyat.

Mereka adalah garda depan yang mengungkap kebenaran, mengawal keadilan, dan menjaga keseimbangan kekuasaan. Membungkam pers berarti membekap suara rakyat dan menutup mata bagi ketidakadilan yang merajalela.

Indonesia sedang di persimpangan jalan yang krusial. Jika kekuasaan membiarkan intimidasi terhadap jurnalis terus berlanjut, maka ia melangkah ke jurang kehancuran demokrasi.

Tetapi jika Presiden bersedia membuka hati dan telinga, mendengar kritik tanpa amarah, dan menegakkan kebebasan pers, maka masih ada secercah harapan untuk bangsa ini.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas