Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Diam Adalah Bentuk Keterlibatan

Opini untuk memperingati 2 November, Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas atas Kejahatan terhadap Jurnalis

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Tiara Shelavie
zoom-in Diam Adalah Bentuk Keterlibatan
Al Jazeera
TRIBUNNERS - Dima Khatib, jurnalis Palestina / Direktur Pelaksana AJ+ 

Oleh Dima Khatib, jurnalis Palestina / Direktur Pelaksana AJ+

TRIBUNNEWS.COM - Ini adalah pembantaian terbesar terhadap jurnalis dalam sejarah manusia. Di Gaza, 253 jurnalis dan pekerja media Palestina telah terbunuh sejak Oktober 2023 — lebih banyak daripada jumlah yang tewas dalam perang Afghanistan, Vietnam, Balkan, Perang Dunia I, dan Perang Dunia II digabungkan. Namun, pembunuhan-pembunuhan ini sebagian besar tetap tidak diselidiki, tidak dihukum, dan tidak diakui oleh pihak yang bertanggung jawab — contoh nyata dari impunitas yang memungkinkan serangan terhadap jurnalis terus berlangsung.

Sepuluh dari 253 orang itu adalah rekan saya di Al Jazeera Media Network. Saya masih merindukan suara rekan saya, Anas Al-Sharif, setiap pagi dari Kota Gaza — melaporkan situasi kemanusiaan, berbicara dengan warga setiap hari. Ia terbunuh dalam serangan terarah terhadap jurnalis di dekat Rumah Sakit Al Shifa pada 10 Agustus 2025. Ia meninggalkan keluarga yang selamanya akan kehilangan seorang ayah, serta surat perpisahan yang menjadi viral — tradisi memilukan yang kini lazim di kalangan jurnalis Gaza, yang meninggalkan kata-kata terakhir mereka di rumah sakit untuk disampaikan kepada orang-orang tercinta setelah mereka wafat.

Tidak ada organisasi media lain yang pernah kehilangan begitu banyak jurnalis dalam waktu sesingkat ini, dalam satu konflik pun. Mereka adalah reporter dan juru kamera yang telah bekerja di bawah kondisi tidak manusiawi dalam waktu lama: dibombardir, kelaparan, mengungsi, diburu, dan diancam. Pembunuhan mereka bukan kecelakaan perang, melainkan kebijakan negara yang disengaja — dan seluruh dunia menyaksikannya secara langsung melalui ponsel mereka. Pekerjaan mereka seharusnya dipuji sebagai tindakan heroik. Tanpa mereka, dunia mungkin tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di Gaza, karena Israel tidak mengizinkan jurnalis asing masuk kecuali yang bergabung dengan tentara Israel dan melapor di bawah pengawasannya. Situasi itu masih berlaku hingga hari ini, bahkan setelah perjanjian gencatan senjata diberlakukan.

Para jurnalis di sana saling mewarisi perlengkapan satu sama lain. Ketika satu orang terbunuh, yang lain mengambil rompi miliknya dan melanjutkan pekerjaan itu — terkadang di hari yang sama, melaporkan kematian rekan mereka sambil mengenakan rompi yang sama. Satu rompi tertentu kini dipakai oleh jurnalis ketiga, setelah dua orang sebelumnya tewas berturut-turut mengenakannya. Mereka tahu risiko yang mereka hadapi, namun mereka terus bekerja — digerakkan oleh rasa tanggung jawab untuk menceritakan kisah rakyat mereka kepada dunia, dan oleh keyakinan bahwa hidup mereka sebagai orang Palestina sudah berada dalam ancaman, sehingga lebih baik menggunakan waktu yang tersisa untuk membuat perbedaan.

Saya masih ingat kehilangan pertama kami di Gaza pada Desember 2023: Samer Abu Daqqa. Ia terbunuh saat mendokumentasikan dampak serangan udara. Terluka dan terjebak, ia berdarah selama berjam-jam karena petugas medis dihalangi untuk menolongnya. Kami terus memohon kepada dunia di semua platform agar menyelamatkannya. Kami tahu ia masih hidup. Ketika rekan-rekan kemudian menemukan kameranya, kamera itu masih merekam — asap dan keheningan memenuhi bingkai terakhir. Kematian Samer mengubah ruang redaksi Al Jazeera menjadi ruang duka dan mengirim pesan yang jelas: jurnalis di Gaza kini menjadi sasaran yang disengaja, persis seperti 8 April 2003 ketika ruang redaksi kami juga menjadi ruang duka setelah kehilangan rekan kami, Tarek Ayyoub, yang tewas akibat serangan udara AS di Baghdad, Irak. Tujuannya selalu sama: membungkam suara kebenaran.

Di Palestina, impunitas ini sudah dimulai jauh sebelum perang genosida di Gaza — ketika rekan dan sahabat saya, Shireen Abu Akleh, dibunuh oleh penembak jitu pada Mei 2022 saat meliput di kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat yang diduduki. Ia merupakan warga negara ganda Palestina-Amerika. Puluhan investigasi membuktikan berulang kali bahwa ia memang menjadi target — namun tidak ada konsekuensi. Ketidakbertanggungjawaban ini memungkinkan Israel untuk terus dan semakin intens membunuh jurnalis tanpa takut akan akibat. Bahkan lebih jauh lagi, Israel melabeli para jurnalis sebagai “teroris” untuk membenarkan pembunuhan mereka. Ironisnya, beberapa organisasi media justru mengulang propaganda ini, mengkhianati profesinya sendiri dengan gagal memverifikasi klaim Israel. Dehumanisasi terhadap rakyat Palestina oleh media juga meluas kepada para jurnalis Palestina, yang dianggap tidak cukup “putih” untuk dibela atas nama “hak asasi manusia universal.”

Rekomendasi Untuk Anda

Jika komunitas jurnalis tidak membela sesamanya — tanpa memandang warna kulit, ras, kebangsaan, etnis, atau agama — maka perang Israel terhadap jurnalis pada akhirnya akan menjadi perang terhadap jurnalisme itu sendiri. Jika pembantaian ini dibiarkan berlanjut di Gaza hari ini, tanpa hukuman dan tanpa pertanggungjawaban, maka hal ini bisa terjadi lagi di mana saja, kapan saja.

Diam adalah bentuk keterlibatan.

Diam adalah bentuk keterlibatan.

Artikel ini diterbitkan dalam rangka memperingati Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas atas Kejahatan terhadap Jurnalis. Pandangan yang diungkapkan sepenuhnya merupakan milik penulis.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas