Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Bencana di Sumatera sebagai Ruang Pembelajaran

Banjir bukan kejutan, melainkan peringatan: hutan hilang, tanah rapuh, air berkah berubah jadi bencana.

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Bencana di Sumatera sebagai Ruang Pembelajaran
Tribun Jakarta/Dwi Putra Kesuma
KERUSAKAN AKIBAT BENCANA - Foto pantauan udara di Kecamatan Tuka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang mengalami kerusakan cukup parah pasca dilanda banjir dan longsor. Tumpukan potongan kayu berukuran yang terbawa banjir dari perbukitan sekitar pun masih ada di lokasi ini, Kamis (4/12/2025). Tribun Jakarta/Dwi Putra Kesuma 

Oleh Sr. M. Tarcisia Sembiring FSE

Kepala SD dan TK Santo Petrus Tuapejat, Mentawai, Sumatera Barat.

Banjir tidak pernah hadir sebagai kejutan. Ia tidak jatuh dari langit tanpa tanda. Banjir adalah suara peringatan yang perlahan dibentuk oleh serangkaian pilihan manusia pilihan yang kecil, pilihan yang besar, dan terutama pilihan yang diambil dengan tergesa.

Ia lahir dari kebiasaan-kebiasaan yang kita anggap sepele: membuang sampah sembarangan, menutup tanah dengan beton tanpa ruang resapan, atau membiarkan saluran air tersumbat karena “nanti saja”. Tetapi lebih dari itu, banjir adalah akibat dari kebijakan politik yang salah arah, keputusan yang terlalu sering mengorbankan alam demi keuntungan sesaat.

Pohon Hutan selalu punya cara berbicara, meski manusia sering kali tidak mendengarnya. Di setiap akar yang merayap masuk ke tanah, ada kisah tentang bagaimana bumi dijaga. Akar-akar itu bekerja seperti tangan-tangan tua yang sabar, mengikat butir tanah satu per satu agar tidak hanyut ketika hujan turun.

Dalam bahasa ilmiah, itu disebut stabilisasi tanah.

Dalam bahasa hati, itu adalah pelukan pohon kepada bumi, agar tidak mudah runtuh.

Rekomendasi Untuk Anda

Batang pohon berdiri tegak bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Ia menjadi tiang penyangga langit, memperlambat jatuhnya air, memecah angin, dan menahan aliran sebelum berubah menjadi amukan.

Daun-daunnya pula yang membuka payung alam. Mereka menahan setiap tetes hujan bukan untuk menolak, tetapi untuk menuntun air turun dengan lembut.

Namun ketika pohon-pohon itu hilang, bumi mulai kehilangan keseimbangannya. Tanah menjadi rapuh dan ringan, mudah goyah, mudah runtuh. Hujan yang dulu jatuh sebagai berkat, berubah menjadi beban yang tak tertahankan bagi tanah telanjang.

Dan itulah yang kini kita lihat pada bumi di sebelah barat negeri ini.

Di Sibolga, sungai yang biasanya bersahabat tiba-tiba berubah menjadi ular air yang mengamuk. Air membawa batang, lumpur, batu seakan membawa cerita tentang bukit-bukit yang kehilangan pelindungnya.

Di Medan, banjir menyerbu kota seperti tamu yang tak mengenal pintu. Rumah-rumah terendam, jalan-jalan menjadi lautan, dan keluarga-keluarga berjuang menyelamatkan yang tersisa. Di balik itu semua, ada bagian hutan yang menipis, lereng yang dikosongkan, dan tanah yang tak lagi punya pegangan.

Di Aceh, tanah longsor turun seperti tirai berat yang menutup panggung kehidupan. Tak ada peringatan selain suara bumi yang retak pertanda bahwa akar-akar penjaga sudah terlalu sedikit untuk menahan tubuh bumi yang berat.

Sementara di Padang, hujan jatuh seperti palu besar, menghantam bukit-bukit yang sejak lama sunyi dari pohon. Tanah yang lemah tak mampu lagi berdiri; ia menyerah, lalu turun, membawa serta rumah-rumah yang dibangun di bawahnya.

Secara ilmiah, semua ini dapat dijelaskan: hujan ekstrem, hutan berkurang, struktur tanah melemah, dan aliran air kehilangan kendali. Namun di balik penjelasan itu, ada metafora yang lebih dalam: bumi sedang sakit karena kehilangan penjaganya.

Bencana-bencana itu bukan sekadar peristiwa alam mereka adalah pesan, sebuah panggilan yang tidak bisa lagi kita abaikan.

Narasi ini ingin mengingatkan kita bahwa setiap pohon bukan hanya sebatang kayu. Ia adalah penopang tanah, penyaring air, penenang aliran sungai, dan perisai manusia. Ketika satu pohon tumbang, mungkin bencana tidak langsung terjadi. Namun ketika ribuan hilang, bumi mulai runtuh dan manusia yang pertama merasakan luka itu.

Semoga kisah dari Sibolga, Medan, Aceh, dan Padang menjadi pengingat yang menggugah: bahwa menanam pohon adalah tindakan kecil, tetapi dengan dampak yang panjang; bahwa merawat hutan adalah bentuk kasih yang tak banyak kata, tetapi menyelamatkan banyak nyawa; bahwa menjaga bumi sama halnya menjaga diri kita sendiri.

Hutan yang dulu menjadi penyangga kini habis dibabat dengan berbagai alasan kemajuan, pembangunan, investasi. Padahal, setiap pohon yang hilang adalah satu tiang penopang kehidupan yang tumbang. Sistem drainase yang buruk dibiarkan terus memburuk, alih fungsi lahan terjadi tanpa perhitungan, dan pemukiman tumbuh tanpa visi masa depan.

Dan akhirnya, ketika hujan turun, tanah tak lagi sanggup menampung, sungai tak lagi mampu menahan, dan air yang semestinya menjadi berkah justru menjadi malapetaka.

Namun di tengah semua ini, kita punya kesempatan untuk belajar. Belajar untuk lebih peduli. Belajar untuk berhenti menunda. Belajar untuk kembali mencintai bumi yang setiap hari menopang hidup kita. Bumi yang semakin tua ini terus menghela napas panjang, memohon agar anak-anaknya lebih sadar, lebih lembut, dan lebih bijaksana dalam memperlakukannya.

Kita pun dipanggil untuk lebih membuka mata terhadap kebijakan-kebijakan yang mengatur hidup bersama. Tidak cukup hanya peduli, kita harus peka, bertanya, mengawasi, dan berani menyuarakan kebenaran ketika alam terancam. Karena bencana bukan hanya urusan pemerintah atau para ahli; bencana adalah urusan kita semua manusia yang hidup, tumbuh, dan berharap di bumi yang sama.

Semoga hati kita tetap terbuka, tangan kita tetap terulur, dan sikap kita tetap rendah hati dalam merawat ciptaan.

Agar generasi yang datang setelah kita menemukan bumi yang masih bisa ditinggali, bukan hanya dikenang dalam cerita.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas