Menjaga Nadi Negeri: Catatan dari Obrolan Kopi Medan
Menjaga negeri bukan kerja sesaat, melainkan kesetiaan panjang pada denyut kehidupan bersama.
Editor:
Malvyandie Haryadi
Penulis: Ilham Mendrofa
- Ketua Badan Saksi Nasional (BSN) DPP Partai Demokrat
- Mantan Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Provinsi Lampung
TRIBUNNERS - Orang Medan selalu punya ukuran sendiri soal kualitas obrolan kalau sudah duduk di kedai kopi.
Jika ceritanya tak juga kunjung panas, biasanya bukan topiknya yang salah melainkan kopinya yang kurang keras.
Minggu lalu di Medan saya ngobrol dengan Bang Hinca Panjaitan, tepatnya saat Rakerda Partai Demokrat Sumatera Utara
Di Cafe Violet Lobby Lounge Hotel Mercure yang menunjukkan foto-foto kebun arennya di Simalingkar.
Kami bercerita tentang alam yang punya hukumnya sendiri, sebelum melanjutkan kisah kunjungannya ke daerah terdampak banjir dan longsor.
Minggu pagi ia kemudian mengirimkan tautan youtube.
Saya menontonnya sampai selesai.
Rasanya sayang jika kegelisahannya dalam podcast itu berhenti di kepala saya saja
Maka saya sarikan sebagai cerita dari perbincangannya dengan Pimred Tribun Medan dalam acara Jumpa Tengah yang sekaligus menjadi momen peluncuran buku terbarunya, Menjaga Nadi Negeri.
Menulis buku bagi politisi senior seperti Hinca adalah kekayaan politik yang langka.
Tidak banyak yang mau mendokumentasikan perjuangan sebagai refleksi.
Buku ini berisi kumpulan esai kebangsaan. Bukan teori berat.
Ini adalah catatan yang lahir dari pengalaman langsung di dunia politik, hukum dan kehidupan bernegara
Ia berbicara tentang demokrasi yang tak boleh berhenti pada prosedur tentang konstitusi yang harus dijaga rohnya
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.