Penguatan dan Diaspora Rusia-Indonesia
Kunjungan berulang Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pada desember lalu bukan sekadar agenda kenegaraan.
Editor:
Hasanudin Aco
Oleh: Achmad Firdaus H.
Mahasiswa Doktor Hubungan Internasional dari University People’s Friendship of Russia
TRIBUNNEWS.COM - Dalam kesunyian ruang diplomatik yang seringkali dipenuhi protokol kaku, ada sebuah bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka yang berani membaca arus di balik gelombang.
Kunjungan berulang Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pada desember lalu bukan sekadar agenda kenegaraan.
Ia adalah sebuah puisi panjang yang ditulis dengan langkah di atas kanvas geopolitik yang retak.
Setiap penerbangannya ke Moskow, dalam jeda waktu yang relatif singkat, ibarat satu bait dari syair yang sama sebuah syair tentang pencarian posisi Indonesia di dunia yang tak lagi hitam-putih.
Sebelumnya, hubungan dengan Rusia sering dilihat sebagai hubungan transaksional terutama dalam bidang pertahanan yang berdenyut pelan dan reaktif.
Bermula kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007 atau bahkan kunjungan kerja Presiden Joko Widodo, meski penting, lebih menyerupai titik-titik yang terpisah dalam sebuah garis waktu.
Mereka mempertahankan hubungan, namun kurang dalam membangun sebuah grand narrative atau narasi besar yang strategis dan berkelanjutan.
Apa yang dilakukan Prabowo berbeda secara kualitatif.
Ia mengubah titik-titik itu menjadi sebuah garis yang tegas dan naik, sebuah lintasan yang disengaja.
Kunjungan pada Juni dan Desember 2025, misalnya, bukanlah dua peristiwa yang terpisah, melainkan dua babak dalam satu lakon yang sama.
Babak penjajakan dan babak pendalaman. Ini menunjukkan sebuah diplomasi yang bersifat serial dan kumulatif, dimana setiap pertemuan membangun fondasi untuk pertemuan berikutnya, menciptakan momentum yang sulit dihentikan.
Mengapa pola ini signifikan?
Dalam teori hubungan internasional memberikan kedalaman analitis yang luar biasa.
Pola diplomasi Prabowo ini merupakan kristalisasi dari sintesis antara Realisme yang dingin dan Konstruktivisme yang sangat visioner.
Dari sudut Realisme Struktural, langkah ini adalah manuver balancing yang canggih. Dalam tatanan dunia yang semakin bipolar, dimana ketegangan antara Blok Barat (dipimpin Amerika Serikat) dan Blok Timur (dengan China dan Rusia) mengeras, negara-negara menengah seperti Indonesia menghadapi dilema besar.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.