Jejak ‘Menari’ Romo Mudji: Sang Maestro Estetika dan Kegelisahan Intelektual
Indonesia berduka, Romo F.X. Mudji Sutrisno, Guru Besar STF Driyarkara, wafat 28 Desember 2025.
Editor:
Glery Lazuardi
Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada dan
Pemerhati Pendidikan
Imam Jesuit
Kandidat Doktor STF Driyarkara
Kolumnis
Cerpenis
Domisili di Jakarta
Dunia filsafat Indonesia baru saja -- tepatnya tanggal 28 Desember 2025 -- kehilangan salah satu putra terbaiknya.
Romo F.X. Mudji Sutrisno, SJ, Guru Besar STF Driyarkara, telah menuntaskan tugas mulianya hingga garis finis. Bagi mereka yang pernah duduk di ruang kelasnya—terutama pada tahun 1990-an hingga 2000-an—sosoknya bukan sekadar pengajar, melainkan seorang seniman gagasan yang menghidupkan ruang-ruang dingin akademis dengan napas kebudayaan.
Ruang Kelas sebagai Panggung Estetika
Mengikuti kuliah Romo Mudji tentang Filsafat Timur atau Alam Pikir Indonesia adalah sebuah pengalaman indrawi.
Beliau tidak sekadar berdiri di depan podium; beliau "menari" di antara gagasan. Papan tulis di kelasnya bukan sekadar media tulis, melainkan kanvas yang dipenuhi coretan mendalam yang menggores ingatan mahasiswanya.
Dua kata kunci yang selalu bergema adalah traces (jejak-jejak) dan ranah pemikiran. Melalui terminologi ini, ia mengajak kita mencari pola di balik kerumitan budaya, mencari jejak Tuhan dan kemanusiaan dalam setiap produk pemikiran.
Baginya, filsafat bukan hafalan teks kaku, melainkan upaya menangkap getaran jiwa sebuah bangsa.
Kegelisahan yang Tak Pernah Padam
Sebagai seorang Jesuit, harta karun Romo Mudji adalah buku dan pengetahuan. Namun, ia bukanlah intelektual menara gading. Hingga tahun 2024, di usia senjanya, ia masih produktif membagikan buah pikirannya, termasuk buku-buku kajian filsafat seni budaya yang ia berikan sebagai warisan terakhir bagi para muridnya.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan