Menuju Status Negara Maju di Tengah Ketidakpastian Global
Prabowo soroti risiko geopolitik global dan defisit fiskal yang menekan ekonomi nasional dalam taklimat di Istana Negara.
Editor:
Glery Lazuardi
Hasil simulasi Fitch Rating tahun 2023, memperkirakan bahwa terhambatnya produksi minyak dunia dan gangguan pada rantai distribusi akibat meluasnya perang Timteng dapat membuat harga minyak dunia naik menjadi 120 dollar AS per barrel. Atau, naik kurang lebih 88,12 persen dari harga minyak saat ini, sekitar 63,788 dollar AS per barrel pada Kamis, 15 Januari 2026.
Di mana, setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 10 persen akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,4 persen dan mendongkrak inflasi secara global sebesar 0,1 – 0,8 persen. Efek kenaikan harga minyak dunia relatif kecil di AS dibandingkan UE. Sementara, inflasi di Emerging Market Economies (EMEs) Asia kurang sensitif terhadap kenaikan harga minyak dunia (Fitch Rating, 2023).
Agenda Jangka Panjang
Singkatnya, ketidakpastian geopolitik global menaikkan persepsi risiko terhadap perekonomian global dan nasional. Risiko perekonomian nasional bertambah karena secara domestik juga terjadi peningkatan defisit fiskal hingga mendekati batas aman 3,0 persen. Di mana, hampir setengah dari pendapatan negara digunakan untuk membayar cicilan utang dan bunganya.
Jika perekonomian nasional terperangkap pertumbuhan 5,0 persen yang telah terjadi selama satu dekade terakhir, maka pada tahun 2030, GDP riil hanya akan mencapai 1,871 trilyun dollar AS dan maksimum 3,889 trilyun dollar AS tahun 2045. Proyeksi ini didasarkan pada data Trading Economics tahun 2024, GDP Indonesia sekitar 1,396 trilyun dollar AS.
Pada saat yang sama, GDP per kapita Indonesia sebesar 4.924,510 dollar AS tahun 2024. Dengan pertumbuhan rata-rata 5,0 persen per tahun, pendapatan per kapita Indonesia hanya 6.034,574 dollar AS tahun 2030 dan 12.003,715 dollar AS tahun 2045. Masih jauh dari GDP riil dan GDP per kapita negara maju.
Lalu, apa langkah pemerintahan Prabowo Subianto agar tidak mengalami perangkap pertumbuhan 5,0 persen? Apa mitigasi risiko atas ketidakpastian global dan risiko fiskal sehingga tidak mengganggu agenda jangka panjang, menuju status negara maju tahun 2045? Bagaimana dalam 20 tahun ke depan, GDP riil menjadi 7,3 trilyun dollar AS dan GDP per kapita sebesar 25.000 dollar AS?
Terdapat dua langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk keluar dari perangkap pertumbuhan 5,0 persen, sekaligus memitigasi risiko ketidakpastian global dan risko fiskal, yaitu: langkah pertama, meningkatkan efisiensi perekonomian nasional dengan menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dari 6,3 saat ini menjadi 4,5 tahun 2030 dan 3,0 tahun 2045.
Langkah ini akan membantu mewujudkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 9,0 persen per tahun hingga tahun 2045. Hal ini didukung oleh realisasi investasi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA), pada tahun 2030 sekitar 40,50 persen GDP, dengan ICOR 4,5 dan 27,0 persen GDP dengan ICOR 3,0 tahun 2045.
Melanjutkan proses transformasi ekonomi nasional sehingga pada tahun 2030 nilai ICOR turun menjadi 4,5 sehingga kebutuhan investasi menjadi hanya 948,199 milyar dollar AS untuk mencapai pertumbuhan 9,0 persen. Hal ini lebih kecil dibandingkan kebutuhan investasi sebesar 1,325 trilyun dollar AS untuk mencapai pertumbuhan 9,0 persen dengan ICOR sebesar 6,3.
Tujuannya, mewujudkan GDP riil sebesar 2,341 trilyun dollar AS dengan pendapatam per kapita 7.552,361dollar AS tahun 2030. Dan selanjutnya, pada tahun 2045, GDP riil dan GDP per kapita setara negara maju, yaitu GDP riil sebesar 8,528 trilyun dollar AS dengan pendapatan per kapita 26.320,665 dollar AS tahun 2045.
Langkah kedua, status negara maju tidak cukup hanya berdasarkan GDP per kapita tetapi juga dapat dilihat pada The Economic Complexity Index (ECI). ECI mengukur produktifitas pengetahun yang tercermin pada diversifikasi dan sopistikasi produk-produk ekspor suatu negara. Di mana, dalam 26 tahun terakhir, sejak tahun 2000, peringkat ECI Indonesia justru semakin buruk, dari peringkat 49 tahun 2000 menjadi 72 tahun 2023.
Hal ini, mencerminkan bahwa produk ekspor Indonesia semakin bergantung pada hasil eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) non olahan bernilai tambah rendah. Kondisi ini sejalan dengan peran sektor manufaktur dalam pembentukan GDP Indonesia yang menurun dari 32 persen tahun 2000 menjadi hanya 18,98 persen.
Sebaliknya dengan Vietnam yang mencatat rekor pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 8,02 persen secara global tahun 2025, mengalami kenaikan peringkat ECI dari 86 tahun 2000 menjadi 48 tahun 2023. Hal ini, mencerminkan bahwa ekspor Vietnam semakin bergeser dari labor-intensive industry ke medium to high-tech industry, seperti produk elektronik dan digital.
Mengakselerasi pengembangan integrated industrial estate berbasis komoditi unggulan di setiap propinsi. Di mana, industri berbasis SDA dengan medium-technology based industry dipusatkan di luar pulau Jawa dan high-tech industry yang membutuhkan tenaga kerja terampil, dukungan lembaga pelatihan, riset dan pengembangan dibangun di pulau Jawa.
Akhirnya, kembali ke taklimat presiden Prabowo Subianto kepada para guru besar yang mengutip fisikawan, Albert Einstein bahwa “insanity is doing the same thing over and over again and expecting the different result”. Ibarat mobil, saatnya kita berpindah dari “gigi tiga ke gigi lima”, mengubah cara berpikir dan bertindak menuju status negara maju tahun 2045.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan