Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribunners
LIVE ●
tag populer

Tribunners / Citizen Journalism

Standar Keberlanjutan Startup Zebra

Masa-masa pertumbuhan eksponensial startup sudah berakhir. Era spekulasi industri startup berganti menjadi fase show me the money

Editor: Sanusi
zoom-in Standar Keberlanjutan Startup Zebra
ist
Status sebagai raksasa startup di Asia Tenggara hanya dapat dipertahankan jika inovasi teknologi seiring dengan profitabilitas dan efisiensi operasional 

 

Oleh: Roberto Surya Negara, Praktisi Industri Telekomunikasi/Mahasiswa Doktoral Perbanas Institute

TRIBUNNERS - Masa-masa pertumbuhan eksponensial startup sudah berakhir. Era spekulasi industri startup berganti menjadi fase show me the money. Gelombang kegagalan startup AI memang merupakan konsekuensi dari ketergantungan kronis pada model bisnis "kulit luar" (wrapper) yang tidak memiliki nilai tambah fundamental. 

Tekanan bursa global terhadap emiten software AI, menunjukkan bahwa pasar tidak bisa lagi dibius janji algoritmik. Mereka menuntut bukti konkret pengembalian investasi yang dapat diverifikasi secara finansial. 

Baca juga: Bukan Startup Biasa: eDental Resmi Lulus Program Stanford, Ini Dampaknya untuk Indonesia

Di Indonesia, tekanan ini diperparah audit integritas yang semakin ketat. Investor global kini menggunakan lensa mikroskopis untuk memeriksa tata kelola perusahaan rintisan pasca-rentetan skandal manajemen di tahun-tahun sebelumnya. Kini, kesuksesan tidak lagi diukur dari valuasi di atas kertas, melainkan dari seberapa tangguh neraca keuangan perusahaan menghadapi "musim dingin" likuiditas di Asia Tenggara.

Pergeseran paradigma dari model "Unicorn" yang agresif menuju model "Zebra" telah menjadi konsensus di kalangan modal ventura (VC). Startup Zebra fokus pada pertumbuhan organik dan profitabilitas yang berkeadilan. 

Berbeda dengan model "Unicorn" yang mengejar pertumbuhan eksponensial dengan membakar modal, Startup Zebra didefinisikan sebagai entitas bisnis yang mengejar profitabilitas sekaligus keberlanjutan sosial secara seimbang. Istilah ini dipopulerkan Mara Zepeda sebagai antitesis terhadap anomali pasar. 

Rekomendasi Untuk Anda

Karakteristik utama zebra adalah hitam dan putih. Mereka nyata (memiliki arus kas positif) dan kolektif (berdampak pada komunitas). Zhang & Li (2025) dalam Technological Forecasting and Social Change menegaskan bahwa model Zebra jauh lebih resilien dalam menghadapi krisis likuiditas karena struktur modalnya yang organik. 

Contohnya adalah Patagonia, yang mengintegrasikan seluruh labanya untuk pelestarian lingkungan, atau Etsy pada fase awal yang memberdayakan perajin lokal. Model Zebra menjadi tulang punggung ekonomi sirkular, dengan rancangan bisnis yang tumbuh bersama ekosistem alih-alih mengeksploitasinya demi valuasi semu.

Ketangguhan prinsip Zebra ini menemukan relevansinya pada lanskap startup Indonesia. Data Juli 2025 menunjukkan Indonesia menempati peringkat ke-6 dunia dengan total 3.161 startup aktif, melampaui negara seperti Jerman, Prancis, dan Spanyol. Keunggulan kuantitatif tersebut lahir dari biaya operasional yang kompetitif serta penetrasi teknologi yang masif di pasar domestik. 

Namun, sebagaimana filosofi Zebra menekankan nilai riil dan keberlanjutan, kuantitas startup Indonesia tetap harus melewati ujian validasi pasar. Tangan dingin pasar akan membedah unit usaha digital untuk memisahkan entitas yang benar-benar berkontribusi pada ekonomi dari mereka yang sekadar menjadi “zombie startup”.

Baca juga: MDI Ventures Rilis Impact Report 2025, 8 Startup Buktikan Dampak Nyata Lintas Sektor

Zhang & Li (2025) dalam Technological Forecasting and Social Change menekankan, perusahaan rintisan yang memprioritaskan keberlanjutan operasional memiliki daya tahan yang jauh lebih tinggi.  Investasi mulai bergeser ke sektor-sektor strategis yang menyentuh masalah struktural kemanusiaan. Layanan pengembangan perangkat lunak otonom dan teknologi pangan menjadi primadona baru karena mampu menyajikan arus kas yang stabil meskipun di tengah volatilitas ekonomi.

Kriteria pendanaan Modal Ventura (VC) di awal 2026 telah bergeser secara radikal menuju "Keunggulan Pendiri" dan "Ekonomi Unit Sehat". Investor tidak lagi tertarik pada ide mentah. Mereka kini memburu pendiri startup dengan rekam jejak industri yang dalam dan kemampuan kepemimpinan yang mampu mengelola konflik internal. Model bisnis harus berupa mesin penjualan yang teruji, mampu direplikasi, dan menghasilkan arus kas positif tanpa ketergantungan abadi pada suntikan modal eksternal. 

Di sektor AI juga terjadi seleksi alam. Platform yang hanya menawarkan chatbot atau dasbor visual yang menarik mulai ditinggalkan. Fokus beralih pada Agen AI Otonom yang berperan sebagai "pekerja digital" yang mampu mengelola alur kerja kompleks di industri manufaktur, logistik, dan keuangan secara mandiri. Startup yang memiliki akses data eksklusif atau wawasan unik yang sulit ditiru memiliki diferensiasi kuat yang menjadi benteng terhadap serangan kompetitor global.

Baca juga: Hadapi Tantangan Global, Kementerian Ekraf Dorong 10 Startup Terbaik Buka Lapangan Kerja

Buang Mentalitas Hacker

Sektor prospektif di tahun ini pun mengerucut pada tiga pilar utama: AI & Otomasi, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur Pendukung AI. Fokus pada pusat data (data center) dan infrastruktur energi menjadi krusial seiring dengan meningkatnya kebutuhan daya komputasi AI. Para investor global menyatakan bahwa integritas manajemen dan keberlanjutan tata kelola data merupakan variabel penentu utama dalam alokasi modal mereka. 

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas