Harapan Sekolah di Daerah 3T pada Program Relawan Pendidikan
Program relawan pendidikan di daerah 3T diharapkan jadi solusi adil, berkelanjutan, dan tepat sasaran.
Editor:
Glery Lazuardi
Dukungan dalam bentuk penguatan kompetensi relawan, ketersediaan sarana belajar, hingga kesinambungan proses pembelajaran membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Jika dirancang secara terpadu, program relawan pendidikan tidak hanya menjadi pengisi kekosongan guru sementara, tetapi benar-benar hadir untuk menjaga denyut pendidikan tetap hidup di daerah 3T.
Lebih jauh, program relawan pendidikan tidak seharusnya diposisikan sebagai solusi permanen. Dalam konteks daerah 3T yang memiliki karakteristik geografis, sosial, dan infrastruktur yang sangat menantang, penugasan guru maupun relawan pendidikan lebih realistis dipahami sebagai bentuk penugasan sipil di wilayah khusus dengan batas waktu tertentu.
Pendekatan ini sejalan dengan praktik penugasan di sektor lain, di mana masa tugas dibatasi demi menjaga keberlanjutan sumber daya manusia. Namun, pembatasan masa tugas tersebut harus diimbangi dengan sistem pemenuhan yang berkesinambungan dan terencana dengan baik.
Negara tidak dituntut menjadikan guru menetap secara permanen di daerah 3T, melainkan memastikan adanya kesinambungan penugasan secara adil, berkelanjutan, dan bermutu agar tidak terjadi kekosongan layanan pendidikan ketika satu masa tugas berakhir dan masa tugas berikutnya dimulai.
Dengan desain seperti ini, pemenuhan guru di daerah 3T tetap berjalan stabil, manusiawi, dan terjaga mutunya.
Pada akhirnya, menanti program relawan pendidikan berarti menanti keseriusan negara dalam belajar dari pengalaman. Program ini akan bermakna jika dirancang berbasis data, kolaboratif, terkoordinasi, serta berorientasi pada keberlanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, relawan pendidikan tidak hanya menjadi solusi sesaat, tetapi bagian dari upaya sistemik mewujudkan keadilan pendidikan di seluruh pelosok Indonesia.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan