Menjawab Pengangguran Usia Muda Lewat Pembelajaran Inklusif
GoTeach DHL dorong pembelajaran inklusif, bekali generasi muda keterampilan kerja, kurangi pengangguran 16,16%.
Editor:
Glery Lazuardi
Ahmad Mohamad
Senior Technical Advisor DHL Express Indonesia
Riwayat Pendidikan
Jurusan Teknik Elektro National University of Singapore
Pengalaman
- 1986–1987: System Analyst di Singapore Mass Rapid Transit Corporation (SMRTC),
- 1987–1991: Manajer di Singapore Airlines,
- 1991–1995: Sales Manager di Singapore Precision Industry (anak usaha Singapore Technology Engineering Ltd), menangani pasar Singapura, Malaysia, dan Brunei.
Menjawab tantangan pengangguran usia muda yang mencapai 16,16 persen, program pembelajaran inklusif hadir membuka akses setara, membekali generasi dengan keterampilan kerja, dan menyiapkan talenta Indonesia agar berdaya saing global.
Pembelajaran inklusif adalah sistem pendidikan yang memberi kesempatan semua anak, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus atau latar belakang berbeda, untuk belajar bersama dalam satu lingkungan tanpa diskriminasi.
Menurut Permendiknas No. 70 Tahun 2009, pendidikan inklusif adalah penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik, baik yang memiliki kelainan maupun potensi kecerdasan/bakat istimewa, untuk belajar bersama di satu kelas.
Pembelajaran inklusif berarti sistem layanan pendidikan yang terbuka bagi semua anak, tanpa memandang kondisi fisik, mental, sosial, ekonomi, atau budaya.
Pembelajaran inklusif bukan sekadar memasukkan anak berkebutuhan khusus ke sekolah umum, tetapi membangun sistem pendidikan yang adil, setara, dan ramah bagi semua anak.
Dengan pendekatan ini, sekolah menjadi ruang tumbuh bersama yang memperkuat nilai kebersamaan dan keberagaman.
Memasuki tahun ke-11, GoTeach DHL di Indonesia mencatatkan pencapaian penting sepanjang 2025. Program ini melibatkan lebih dari 230 anak muda berusia 15 hingga 24 tahun dari Banda Aceh, Meulaboh, Medan, Jakarta, Lembang, Semarang, Yogyakarta, Bali, dan Flores, yang merupakan cakupan wilayah terluas sepanjang sejarah pelaksanaan program.
Lebih dari 40 relawan secara sukarela menyumbangkan lebih dari 2000 jam, mencakup kegiatan mengajar, fasilitasi, serta lokakarya perencanaan karier.
Kami bertujuan meningkatkan peluang kerja bagi generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi kurang beruntung. Program ini menjadi pilar utama dari tujuan “Connecting people, improving lives”.
DHL Group baru saja memperpanjang kemitraannya selama lima tahun ke depan hingga 2030 dengan Teach For All dan SOS Children’s Villages.
Di Indonesia, bermitra dengan SOS Children’s Villages dan menyelenggarakan berbagai lokakarya keterampilan serta program pendampingan bagi anak muda di lingkungan SOS Children’s Villages untuk membantu mereka mempersiapkan transisi menuju dunia kerja.
Program mulai diimplementasikan di Indonesia sejak 2014. Pada 2025, menggandeng berbagai perusahaan dan mitra lokal, termasuk Berkat Lentera Kecil, Dibimbing, Merck, Yayasan Berani Bermimpi, serta para profesional di bidang kesehatan mental dan perencanaan keuangan, untuk menyusun kurikulum yang komprehensif.
Materi yang diberikan berfokus pada pengembangan diri, kesiapan kerja, literasi digital, serta wawasan mengenai sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan tinggi.
Para peserta mengikuti delapan sesi virtual terstruktur untuk memastikan setiap anak muda mendapatkan materi pembelajaran yang sama, tanpa terbatas oleh lokasi geografis.
Dilengkapi dengan kegiatan mentoring, di mana para relawan berperan sebagai mentor guna memperdalam interaksi dan kolaborasi.
Untuk mendorong pembelajaran berkelanjutan, kami meluncurkan perpustakaan pembelajaran daring yang memungkinkan para peserta mengakses kembali materi pelatihan, mempelajari modul tambahan, serta mengembangkan keterampilan sesuai kebutuhan masing-masing.
Memberikan fleksibilitas bagi anak muda untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri, sehingga mendukung pertumbuhan kompetensi yang lebih efektif. Kami dapat membuka akses pembelajaran yang lebih setara. Tahun ini menunjukkan bahwa skala dan kedalaman kolaborasi mampu menghasilkan pembelajaran yang semakin relevan bagi generasi mendatang.
Kami berkomitmen untuk memberikan akses pembelajaran yang adil bagi generasi muda.
Sepanjang tahun lalu, koordinasi antara SOS Children’s Villages dan DHL membantu menjembatani berbagai keterbatasan akses di sejumlah wilayah, seperti tantangan konektivitas dan keterbatasan sumber daya pendidikan, sehingga memastikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta.
Banyak anak muda memiliki potensi besar namun belum memiliki akses untuk mengembangkan keterampilan komunikasi, disiplin kerja, dan kemampuan pemecahan masalah. Kami memberikan kesempatan tersebut, dan kami menyaksikan peningkatan keterampilan yang konsisten sepanjang program.
Tantangan ketenagakerjaan bagi generasi muda di Indonesia masih menjadi perhatian nasional di tengah meningkatnya kebutuhan industri akan talenta yang siap kerja.
Data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 16,16 persen, menjadikan kelompok usia ini sebagai yang tertinggi secara nasional.
Kondisi ini menegaskan pentingnya intervensi yang terarah untuk memperkuat kesiapan kerja serta memperluas akses pembelajaran yang setara bagi generasi muda.
Dengan fondasi pembelajaran yang semakin inklusif, kami bertujuan untuk terus memperluas jangkauan, memperdalam kolaborasi, serta mendukung pengembangan ekosistem talenta muda Indonesia yang adaptif dan berdaya saing global.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.