Teknologi AI Mengubah Rantai Nilai di Industri Telekomunikasi
Dalam ekonomi digital, penyedia layanan komunikasi berbasis AI tidak hanya jadi penyedia infrastruktur tapi juga jadi pelaku inovasi utama.
Editor:
Choirul Arifin
AI Mengubah Rantai Nilai Industri Telekomunikasi
Oleh Juvanus Tjandra, Managing Partner, IBM Consulting Indonesia
- Penulis saat ini memimpin pengembangan solusi AI dan transformasi digital di sektor Financial Services, Sovereign Wealth Fund (SWF), private equity, serta Technology, Media and Telecommunications (TMT).
- Penulis pernah berkarier sebagai Partner Advisory di KPMG Singapore dan Indonesia dan pernah bekerja di KPMG Australia dan Amerika Serikat, serta di Telstra dan AMP Capital Investors Australia.
Riwayat pendidikan:
• Master of Finance, Corporate and Quantitative Finance - University of Technology Sydney
• Bachelor Business, Accounting and Finance - University of Technology Sydney
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri telekomunikasi global sedang mengalami perubahan besar. Penyedia layanan komunikasi (Communication Service Provider/CSP) yang mengadopsi AI secara menyeluruh dalam operasionalnya tidak hanya mampu meningkatkan efisiensi biaya, tetapi juga memperoleh keunggulan awal dalam membuka sumber pendapatan baru.
Pergeseran ini menggeser peran CSP dalam ekonomi digital, dari sekedar sebagai “hanya” penyedia infrastruktur menjadi pelaku inovasi utama.
Menurut hasil studi terbaru IBM Institute for Business Value (IBV) bertajuk “Telecommunications in the AI Era,” sebanyak 77 persen eksekutif telekomunikasi yang disurvei mencatat bahwa AI sudah meningkatkan daya tanggap mereka terhadap disrupsi pasar.
Sebanyak 75 persen melaporkan bahwa AI memberikan keunggulan kompetitif yang jelas, namun terdapat kesenjangan yang menonjol dan 65 persen mengakui inisiatif AI mereka belum menghasilkan nilai yang diharapkan.
Studi yang sama juga menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen eksekutif telekomunikasi percaya bahwa AI generatif akan mendefinisikan ulang peran organisasi mereka dalam tiga tahun ke depan.
Perkembangan ini bukanlah sekedar keuntungan kecil, namun juga menandakan pergeseran mendasar dalam cara perusahaan telekomunikasi beroperasi dan bersaing.
Sejalan dengan banyak perusahaan di sektor lain, CSP mulai meninggalkan pendekatan uji coba yang terpisah-pisah dan bergerak menuju transformasi berskala perusahaan. AI kini ditanamkan seluruh rantai nilai, mulai dari layanan pelanggan hingga optimasi jaringan.
Sebanyak 44 persen CSP telah menerapkan AI otonom dalam chatbot pelanggan untuk meningkatkan layanan dan mengurangi hambatan interaksi.
Namun perbedaan sesungguhnya terlihat pada seberapa cepat dan efektif CSP dapat meningkatkan upaya ini melampaui kasus penggunaan individual untuk mentransformasi seluruh model bisnis.
Baca juga: Kolaborasi Strategis Dorong Peran Rupiah di Ekosistem Ekonomi Digital
Meski tingkat adopsi AI terus meningkat, kesenjangan nilai tambah yang didapat masih terlihat. Studi IBV yang sama mencatat 55 persen investasi AI di sektor telekomunikasi masih difokuskan pada inisiatif efisiensi, seperti optimasi kinerja jaringan dan layanan pelanggan otomatis.
Proporsi tersebut diproyeksikan menurun menjadi 46 persen di 2027. Sementara itu, investasi dalam inovasi model bisnis meningkat, dari 14 persen saat ini menjadi 19 persen di 2027 yang menandakan pergeseran mendasar dalam cara CSP memanfaatkan teknologi AI untuk menciptakan manfaat tambah dan memperkuat daya saing.
Namun, banyak organisasi masih kekurangan infrastruktur data, tata kelola, dan keselarasan lintas fungsi yang diperlukan untuk meningkatkan skala adopsi AI secara efektif. Kunci keberhasilan terletak pada mengintegrasikan hal-hal tersebut ke dalam model operasional.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan