Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

‘​Getaran Hati’ Presiden Prabowo di Sentul

Rakornas SICC jadi panggung Presiden Prabowo: seruan reformasi birokrasi, efisiensi anggaran, dan redefinisi demokrasi Indonesia.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in ‘​Getaran Hati’ Presiden Prabowo di Sentul
Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden
PRABOWO SUBIANTO - Rakornas SICC: Presiden Prabowo serukan efisiensi birokrasi, redefinisi demokrasi, dan kemandirian bangsa di tengah ketidakpastian global. 

​Definisi demokrasi yang terlalu menekankan pada "kekuatan" seringkali berisiko mengabaikan check and balances. Harus membuktikan bahwa kepemimpina kuat, memberikan ruang bagi kritik, karena demokrasi tanpa oposisi ibarat orkestra tanpa harmoni. Hanya ada satu nada mendominasi. Iramanya tidak seindah perpaduan berbagai nada yang tertata.

Begitu juga demokrasi, Ia tak dapat hidup dalam ruang hampa tanpa perbedaan. Demokrasi hanya akan berdenyut ketika ada pertengkaran ideologi dan gagasan untuk menghasilkan rumusan baru.

​Melawan "Banalitas Kejahatan"

Rakornas kali ini  penyatuan visi, dari suara seorang Presiden, untuk memangkas anggaran yang tidak efisien, menutup kebocoran dari anggaran perjalanan dinas, seminar, hingga honorarium pengelola keuangan yang jika dijumlahkan mencapai angka fantastis ratusan triliun rupiah.

​Ini serangan langsung yang disebut Hannah Arendt sebagai The Banality of Evil (Banalitas Kejahatan). Dimana praktik birokrasi, tidak mampu menjelaskan batasan antara korupsi dan pemborosan. Setiap kebocoran dianggap "normal" karena dilakukan kolektif kolegial.

Pejabat merasa tidak berdosa menghabiskan uang rakyat untuk perjalanan dinas yang tak perlu hanya karena "sudah ada aturannya." Presiden​ Prabowo ingin memutus "rantai banalitas" ini dengan pedang efisiensi.

Menuntut pertanggungjawaban moral di atas tanggung jawab administratif. 

Inilah kebijakan publik paling berisiko. Memangkas "kenikmatan" birokrasi di tengah struktur pemerintahan gemuk adalah paradoks. Secara substansi, ini langkah heroik, namun, secara politik, ia sedang menciptakan musuh dalam selimut di koridor-koridor kekuasaan baik di pusat dan daerah.

​"Penjaga Gawang" Sejarah

Rekomendasi Untuk Anda

Presiden ​Prabowo menutup pidatonya dengan narasi menggetarkan: "Mereka yang melupakan sejarah akan dihukum oleh sejarah." Kalimat ini mengingatkan kita pada filsuf George Santayana, bahwa pemimpin bukanlah sekadar numpang lewat dalam kecamuk perjuangan. Namun harus menjadi "penjaga gawang" sejarah Indonesia.

​Dari perspektif komunikasi publik, Prabowo sedang membangun narasi Urgency. Menciptakan rasa "darurat" agar seluruh mesin birokrasi bergerak cepat dan sinergi. 

Relasi antara pusat dan daerah bukan sekadar jargon, melainkan mandatory yang harus dijalankan dalam sistem terstruktur dan hierarkis.  Kepala daerah berhenti menjadi raja-raja kecil yang sibuk membangun dinasti. Harus bersedia menjadi pelayan publik, mengabdi secara ikhlas.

​Sentul hari ini bukan sekedar sentral kebangkitan dan semangat nasional dikemas dalam Rakornas. Tetapi panggung yang digunakan menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan presiden Prabowo, Indonesia tidak boleh menjadi bangsa cengeng.

Indonesia harus kuat, karena jika lemah hanya akan menjadi catatan kaki  dalam tulisan heroisme internasional. 

​Pertanyaannya; Apakah “getaran hati” presiden Prabowo hari ini benar-benar menjalar ke hati para hadirin di SICC? 

Ataukah para pejabat itu gemetar bukan karena patriotisme, melainkan takut "pundi-pundi" kenyamanan mereka terusik dengan pesan sang jenderal?

​Kepemimpinan Presiden Prabowo adalah aksioma tentang bagaimana otoritas kuat dipadukan dengan efisiensi radikal dalam bingkai demokrasi. Frasa ini akan dicatat sebagai perjuangan Indonesia dari ancaman kegagalan.

​ibarat "pedang" narasi ini siap menebas siapapun yang mencoba mencuri hak rakyat di balik meja-meja birokrasi. 

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas