Ketika Antibiotik Tak Lagi Menyelamatkan
AMR tidak datang dengan lonjakan kasus yang dramatis, diam-diam hingga sampai antibiotik kehilangan daya
Editor:
Eko Sutriyanto

TRIBUNNERS - Saya duduk di kursi jejeran depan, menyimak pidato Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., pada Workshop Antimicrobial Resistance (AMR) Warrior di Padang, pada Sabtu, 7 Februari 2026, kemarin.
Yang membuat saya merinding bukan gaya bicara, melainkan isi peringatannya.
“Resistensi antimikroba adalah silent pandemic,” katanya.
Ia bergerak perlahan, nyaris tanpa suara, tetapi dampaknya bisa meruntuhkan sistem kesehatan.
Kalimat itu seperti mengetuk kesadaran: ancaman besar sedang tumbuh dari kebiasaan kecil kita sendiri.
Resistensi antimikroba (AMR) memang bukan isu masa depan; ia adalah krisis hari ini.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada 2019 AMR secara langsung berkontribusi terhadap sekitar 1,27 juta kematian global dan terkait dengan hampir 5 juta kematian lainnya.
Angka ini menempatkan AMR sejajar dengan ancaman kesehatan terbesar dunia.
Baca juga: BPOM Ingatkan Soal Regulasi Ketat untuk Pengembangan Jamu Nasional
Bedanya, AMR tidak datang dengan lonjakan kasus yang dramatis.
Ia bekerja diam-diam, hingga suatu saat antibiotik—penemuan yang menyelamatkan jutaan nyawa—kehilangan daya.
Dalam pidatonya, Prof. Taruna menegaskan bahwa AMR bukan semata persoalan ilmiah, melainkan krisis perilaku.
“Masalah terbesar kita adalah penggunaan antibiotik yang tidak rasional—tanpa resep, tidak dihabiskan, atau digunakan untuk penyakit yang tidak memerlukannya,” ujarnya.
Praktik swamedikasi, membeli antibiotik tanpa konsultasi dokter, disebutnya sebagai pemicu yang paling sering dijumpai di lapangan.
Data pengawasan BPOM menguatkan peringatan itu. Dalam periode 2021–2023, memang terjadi penurunan persentase penyerahan antibiotik tanpa resep dokter di apotek.
Namun, tren kenaikan kembali mulai tampak pada 2024.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan