Ridwan Hisjam, Politik yang Terus Berlari dan Regenerasi Kepemimpinan Bangsa
Perubahan yang tidak disertai dengan orientasi nilai berisiko menjelma sekadar manuver.Demokrasi kemudian dipersempit menjadi urusan menang dan kalah.
Editor:
willy Widianto
Ringkasan Berita:
- Demokrasi elektoral memang menuntut kecepatan dan keluwesan. Namun tanpa fondasi nilai, keluwesan mudah berubah menjadi oportunisme.
- Indonesia hari ini tidak kekurangan aktor politik. Yang sering langka justru penjaga arah.
- Pengalaman panjang di parlemen juga membentuk cara pandangnya tentang fungsi wakil rakyat. Kursi legislatif bukan sekadar hasil kontestasi elektoral
Oleh Mohammad Ilyas. Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI)
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Politik Indonesia hari ini bergerak cepat. Terlalu cepat, bahkan. Ia berlari mengikuti kalender elektoral, survei popularitas, dan percakapan media sosial yang mudah berubah arah.
Dalam kecepatan itu, politik sering lupa berhenti sejenak untuk bertanya: ke mana sebenarnya ia menuju.
Baca juga: Ridwan Hisjam Dukung Munaslub Golkar, Ini Alasannya
Perubahan tentu bukan hal baru. Politik, sejak awal, selalu bergerak. Namun perubahan yang tidak disertai orientasi nilai berisiko menjelma sekadar manuver. Demokrasi kemudian dipersempit menjadi urusan menang dan kalah, bukan soal arah bersama. Di sinilah problem mendasar politik Indonesia kontemporer: prosedur berjalan, tetapi makna kerap tertinggal.
Demokrasi Sibuk
Secara prosedural, demokrasi Indonesia relatif sehat. Pemilu berlangsung rutin, pergantian kekuasaan terjadi tanpa gejolak besar, dan partisipasi publik masih terjaga.
Tetapi dibalik kerapian prosedur itu, politik semakin menyerupai pasar: transaksional, pragmatis, dan berumur pendek.
Kekuasaan sering dipahami sebagai tujuan, bukan alat. Jabatan menjadi titik akhir, bukan sarana memperjuangkan kepentingan publik. Akibatnya, demokrasi kehilangan dimensi etiknya. Ia tetap hidup secara administratif, tetapi miskin refleksi. Sejarah, yang seharusnya menjadi cermin, justru disingkirkan sebagai beban masa lalu.
Ilmuwan politik Miriam Budiardjo pernah mengingatkan bahwa sistem politik tidak hanya bertumpu pada institusi formal, tetapi juga pada nilai dan kesadaran historis.
Robert A. Dahl pun menegaskan bahwa demokrasi bukan sekadar mekanisme pemilihan, melainkan proses deliberatif yang berorientasi pada kepentingan bersama. Ketika dimensi ini absen, demokrasi mudah tergelincir menjadi rutinitas tanpa arah.
Ingatan Panjang
Dalam lanskap politik yang serba cepat itu, figur dengan memori panjang menjadi anomali sekaligus relevan.
Ridwan Hisjam termasuk di antaranya. Ia mengalami langsung tiga fase penting perjalanan politik Indonesia: Orde Baru, Reformasi, dan demokrasi elektoral pasca-pemilu langsung.
Karier politiknya bermula di penghujung Orde Baru sebagai anggota MPR RI, lalu berlanjut sebagai anggota DPR RI dalam beberapa periode setelah Reformasi. Ia berada di dalam sistem ketika Indonesia mengubah hampir seluruh fondasi politiknya—dari sentralisme kekuasaan menuju kompetisi terbuka. Transisi semacam ini, seperti ditulis Samuel P. Huntington, selalu menyimpan ketegangan antara tuntutan perubahan dan kebutuhan akan keteraturan.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.