Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Negara Preman? Moody's, MSCI, dan Bahaya Ekonomi ‘Jatah’

Moody’s turunkan outlook RI, MSCI beri peringatan. Ekonomi terancam jebakan rente, governance jadi kunci pemulihan.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Negara Preman? Moody's, MSCI, dan Bahaya Ekonomi ‘Jatah’
Business Standard
MSCI - Moody’s dan MSCI beri alarm bahaya bagi Indonesia, menyoroti tata kelola dan risiko ekonomi pemburu rente. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Dipo Satria Ramli
Penulis adalah seorang ekonom dan pengamat ekonomi UI yang tinggal di Jakarta

KENAPA seorang pemilik ruko di pasar mau membayar iuran keamanan ormas? Sederhana: karena biaya melawan lebih mahal daripada biaya membayar. Rasa aman adalah komoditas yang diperjualbelikan.

Kenapa pengusaha besar mau membeli Patriot Bond yang bunga pengembaliannya tidak masuk akal? Kemungkinan besar bukan karena patriotisme, tapi karena takut izin dipersulit atau kehilangan akses proyek.

Logika 'uang damai' yang sama kini menyandera ekonomi makro kita.

Alarm Bahaya dari Moody's dan MSCI

Kita mungkin sudah kebal dan menganggap "uang jago" atau "proyek titipan" sebagai kearifan lokal (cost of doing business). Namun, pasar global tidak punya toleransi yang sama.

Awal Februari ini, Moody’s memangkas outlook Indonesia dari Stabil menjadi Negatif. Jika dibedah, alasan utama penurunan ini bukanlah fundamental ekonomi makro, melainkan kualitas institusi. Dari tiga faktor risiko utama yang mereka sorot, dua di antaranya adalah tentang ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola (governance).

Mereka secara spesifik menyoroti risiko dari lembaga baru seperti Danantara. Dalam pandangan mereka, tanpa tata kelola yang jelas, lembaga ini berpotensi menjadi "kotak hitam" yang melahirkan kewajiban kontinjensi (contingent liabilities) bagi negara.

Rekomendasi Untuk Anda

Di saat yang sama, MSCI memberi peringatan keras: Indonesia terancam turun kasta kembali ke Frontier Market, setara dengan Bangladesh atau Nigeria. Alasannya? Struktur kepemilikan yang buram dan perlindungan investor minoritas yang lemah.

Pesan mereka tegas: Pasar kita mulai terlihat seperti permainan yang sudah diatur (rigged game). Investor tidak akan menaruh uang di meja di mana wasitnya merangkap pemain, dan aturan main bisa berubah sewaktu-waktu sesuai pesanan politik.

Ekonomi Pemburu Rente: Jebakan Rasio Benalu

Bahaya terbesar dari ekonomi pemburu rente bukanlah korupsi itu sendiri, melainkan distorsi insentif yang mematikan inovasi.

Mari sederhanakan ekonomi kita menjadi sebuah desa dengan hanya 3 penduduk: 2 Pengusaha (Pencipta Nilai) dan 1 Pemburu Rente (Preman/Calo).

Dalam kondisi ini, ekonomi masih bisa berjalan. Sebagian keuntungan pengusaha memang tersedot untuk membayar "uang keamanan" atau membeli "surat sakti", sehingga modal yang seharusnya dipakai untuk ekspansi pabrik atau riset (R&D) berkurang. Tapi, 2 Pengusaha ini masih cukup kuat untuk "menggendong" beban biaya 1 Pemburu Rente tersebut.

Masalah fatal muncul ketika insentif berubah. Lama-kelamaan, salah satu Pengusaha berpikir: "Wah, kok lebih enak jadi Pemburu Rente? Tidak perlu modal, tidak perlu pusing inovasi, tapi uang datang terus."

Ketika logika ini menang, satu pengusaha akhirnya banting setir. Rasio pun berbalik: kini ada 1 Pengusaha yang harus menghidupi 2 Pemburu Rente.

Di titik inilah ekonomi mandek. Si Pengusaha terakhir mungkin akan bangkrut, atau ikut-ikutan berhenti berproduksi karena beban "upeti" sudah tidak masuk akal.

Kita tidak miskin, tapi kita jalan di tempat karena energi bangsa habis untuk saling memalak, bukan saling bersaing menciptakan produk terbaik.

Sinyal Pemulihan: Governance adalah Kunci

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas