Ego Elit dan Dampak Perang: Dari Hitler hingga Donald Trump
Perang lahir dari ambisi elit, membawa derita rakyat dari Perang Dunia hingga konflik modern.
Editor:
Glery Lazuardi
Tudingan bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir dan berpotensi mengancam perdamaian dunia adalah ilusi keamanan yang dibangun oleh Trump sendiri, sementara di sisi lain AS dan juga Israel masih memiliki senjata nuklir dan tidak pernah melucutinya sebagaimana mandat kesepakatan global mengenai perlucutan senjata nuklir (nuclear dismarmament).
Dalam konteks ini, AS berlaku sebagai kekuatan hipokrit global yang dikendarai oleh elit-elit agresor dan hegemon.
Dampak buruk terhadap warga negara
Persepsi elit yang kental mewarnai AS di bawah Donald Trump ini telah memberikan dampak yang buruk terhadap warga AS sendiri, termasuk mereka yang memanggul mandat untuk terjun ke palagan peperangan.
Hampir 5 ribu prajurit AS yang berada di kapal induk USS Gerald R. Ford yang saat ini bergerak menuju Iran mengalami kelelahan dan depresi berat karena tugas yang panjang di kawasan Timur Tengah- sebelumnya mereka ditugaskan di Suriah.
Yang membuat mereka mengalami kelelahan akut dan tekanan mental di dalam kapal bukan saja karena banyak fasilitas kapal yang rusak karena periode tugas yang sangat panjang, tapi juga ketidakpastian untuk turun ke medan tempur karena kebijakan elit yang tidak memiliki basis argumentasi yang jelas dan rasional.
Jika menilik kasus perang Afghanistan dan Irak yang juga melibatkan AS di dalamnya, banyak prajurit militer AS yang menolak kedua perang tersebut. Mereka bertempur untuk tujuan yang tidak pasti dan perang yang tidak akan mereka menangkan. Pasca perang, banyak prajurit AS yang menderita cacat fisik dan trauma mental berat, bahkan tak sedikit yang melakukan bunuh diri.
Situasi jelang perang juga menimbulkan tekanan mental yang besar kepada warga Iran. Hal ini memicu panic buying, yang mana warga Iran melakukan penimbunan makanan dan obat-obatan dalam jumlah besar jikalau benar akan ada perang dahsyat antara negara mereka dengan AS.
Mayoritas warga Iran juga dibebat oleh paranoia karena perang dapat pecah sewaktu-waktu tanpa adanya kesiapan dari mereka. Situasi ini merupakan gambaran nyata bahwa peperangan akan selalu memberikan penderitaan yang besar kepada rakyat.
Dalam kasus Iran, tekanan mental yang mereka alami diperparah oleh situasi dan kondisi ekonomi yang sedang tidak kondusif, dalam hal mana inflasi merajalela, dan daya beli masyarakat mengalami penurunan. Harus diakui, Iran tidak siap untuk masuk dalam peperangan apabila menilik dari kondisi warga negaranya.
Pemahaman doktrin dan keinginan kolektif
Perang adalah pilihan kebijakan yang harus dihindari karena selalu membawa konsekuensi buruk terhadap sebuah negara. Doktrin perang Si Vis Pacem Para
Bellum bahwa perdamaian adalah masa bersiap untuk perang harus dimaknai secara hati-hati dan bijaksana.
Doktrin ini kerap disalahgunakan oleh elit politik dan militer negara-negara besar untuk terus membangun kekuatan militernya sehingga menimbulkan dilema keamanan (security dillema) terhadap negara lain, sehingga pada ujungnya memantik konflik dan peperangan. Pemaknaan yang bijak dan hati-hati juga perlu diberlakukan terhadap pandangan-pandangan geopolitik dunia seperti penguasaan dunia berbasis kontinen, maritim, jantung dunia, tepi dunia, dan sebagainya.
Doktrin-doktrin tersebut apabila dipahami tanpa dicerna secara bijak akan berpotensi mendorong suatu negara untuk berlaku homo homini lupus dan animus dominandi terhadap negara lainnya.
Kebijakan luar negeri suatu negara harus diformulasi secara ketat dan dilambari oleh mekanisme checks and balances yang kuat dari seluruh elemen di level domestik, terutama aspirasi warga negara. Kebijakan untuk berperang dengan negara lain tidak bisa sekadar dimotivasi oleh persepsi dan kepentingan elit secara sepihak.
Harus ada persetujuan dari parlemen dengan ambang batas suara tertentu. Mekanisme perang juga harus memiliki objektif yang jelas, rentang waktu, deployment personel dan alutsista, serta anggaran yang jelas. Dengan demikian, adanya persetujuan dari parlemen yang merupakan representasi rakyat akan mencerminkan keinginan kolektif suatu negara, bukan bias persepsi elit.
Rasa- rasanya apabila menengok bagaimana Mahkamah Agung (MA) AS menganulir kebijakan tarif Trump, begitu juga dengan kekalahan AS di palagan Afghanistan dan Irak setelah dua dekade lamanya bertempur, dapatlah dikatakan bahwa kebijakan perang AS adalah cermin ego elit, prematur, dan tidak mencerminkan keinginan kolektif warga AS sendiri.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.