Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Transformasi Pesantren Ala KH Wahid Hasyim dan Masa Depannya

BULAN Ramadan setiap tahun selalu menyuguhkan fenomena unik dan antik di dalam pesantren.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dodi Esvandi
zoom-in Transformasi Pesantren Ala KH Wahid Hasyim dan Masa Depannya
HO/IST
KH. Abdussalam Shohib, Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar Jombang Jawa Timur 

Oleh: KH Abdussalam Shohib

BULAN Ramadan setiap tahun selalu menyuguhkan fenomena unik dan antik di dalam pesantren. Tidak tergerus waktu; kiai, santri, dan alumni semua berburu ngaji posoan (pengajian khusus bulan Ramadan) dengan sistem bandongan.

Inilah salah satu warisan tradisi pendidikan pesantren yang telah berjalan berabad-abad. Bandongan tetap hidup di tengah laju pesantren yang makin modern.

Akar Sejarah dan Perlawanan

Pesantren menjadi lembaga pendidikan tertua di Nusantara sejak abad ke-15 Masehi. Ia mewariskan sistem pendidikan, ideologi, filosofi, dan tradisi yang mengakar di dalam kehidupan masyarakat. Dalam sejarahnya, pesantren tidak pernah dijajah oleh sistem kolonial. Sebaliknya, ia menjadi perintis dan basis perlawanan masyarakat terhadap penjajahan.

Sejarah juga mencatat bahwa sebagian besar tokoh besar Nusantara ditempa dan dipengaruhi oleh kehidupan pesantren. Termasuk para tokoh di masa pergerakan nasional, masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, hingga saat menghadapi pemberontakan PKI. Fakta ini dapat diidentifikasi dari perjalanan bangsa dari Sabang hingga Merauke.

Dalam konteks tersebut, kontribusi pesantren tidak hanya fenomenal, tetapi juga monumental yang memiliki dimensi di tingkat komunal, bangsa, dan negara. Pesantren tidak hanya menyebarkan ajaran Islam universal ke seluruh Nusantara, tetapi telah menyatu dengan denyut nadi masyarakat beserta rasa nasionalisme melalui hubungan timbal balik dalam merespons perubahan sosial yang dinamis.

Sesuai dasar kehidupannya, pesantren menjadi lembaga ta’lim wa ta’allum li tafaqquh fi al-din (belajar mengajar untuk mendalami ilmu agama) dan tarbiyah (mendidik kepribadian muslim yang mulia). Semua dilakukan sesuai tradisi pengajaran dan pendidikan santri secara turun-temurun berdasarkan sanad guru dan pendahulunya.

Transformasi Pesantren Berbasis Tradisi

Rekomendasi Untuk Anda

KH Abdul Wahid Hasyim (Gus Wahid), putra Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari—pendiri Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Tebuireng, Jombang—adalah sosok ulama muda yang mendobrak tradisi pengajaran di pesantren. Berdasarkan keluasan ilmu, pengalaman, dan wawasan global, Gus Wahid melakukan terobosan-terobosan dalam sistem pembelajaran pesantren.

Ia berangkat dari fakta bahwa meski kontribusi pesantren luar biasa, di sisi lain model persekolahan yang diselenggarakan melalui kebijakan "Politik Etis" Hindia Belanda telah menghasilkan tokoh pergerakan dan teknokrat sebagai pamong praja di pemerintahan.

Ada kesenjangan kualitas antara lulusan pesantren berbasis agama dan sekolah umum di tengah pergerakan nasional. Kala itu, terdapat kebutuhan literasi tambahan untuk meningkatkan kecakapan komunitas pesantren dalam memahami dan mengelola situasi di tengah pergolakan melawan kolonialisme.

Dalam kesadaran Gus Wahid, lulusan pesantren tidak semuanya harus menjadi ulama, ustadz, atau pendakwah. Tanggung jawab sosial di luar pesantren harus diisi oleh mereka yang cakap sekaligus memiliki kepribadian pesantren. Karenanya, santri tidak hanya harus menguasai ilmu agama berbasis kitab kuning, tetapi juga ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pada titik ini, Gus Wahid muda—setelah menyelesaikan pendidikan di Makkah dan menyerap dinamika sosial-politik di Jazirah Arab—pada tahun 1934 mengusulkan kepada ayahandanya untuk merombak sistem pembelajaran di Pesantren Tebuireng. Ia mengusulkan transisi dari tradisi sorogan dan bandongan menjadi sistem klasikal dengan tambahan kurikulum ala sekolah Barat yang saat itu dinilai tabu.

Lompatan besar yang terkesan tiba-tiba ini mengagetkan sistem tradisional di Tebuireng. Mbah Hasyim Asy’ari tidak langsung setuju, namun beliau bijak dengan memberi izin kepada Wahid Hasyim untuk mendirikan madrasah sendiri bernama "Nidzamiyah" yang terpisah dari sistem pengajaran mapan di Tebuireng.

Bersama sahabatnya, Kiai M. Ilyas, Gus Wahid menerapkan 70 persen kurikulum berisi materi pelajaran umum, termasuk bahasa Inggris. Metode bandongan diganti dengan metode tutorial yang sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang konstruktif, kreatif, dan menyenangkan di dalam kelas.

Pengetahuan modern seperti ilmu politik, matematika, ekonomi, ilmu bumi, biologi, kebudayaan, dan sejarah menjadi materi pelajaran. Siswa didorong untuk belajar mandiri, optimis, dan diberikan ruang untuk merdeka dalam menggapai impian tanpa rasa takut salah.

Secara penampilan, santri Madrasah Nidzamiyah tetap bersarung dan berkopiah. Namun yang terpenting, mereka lebih disiplin dalam mengeksplorasi ilmu dan kaya literasi melalui kitab kuning, buku, majalah, hingga surat kabar dari berbagai bahasa.

Lambat laun, Tebuireng mulai mengakomodasi materi pelajaran umum dalam sistem Madrasah Salafiyah namun tetap mempertahankan sistem lama seperti bandongan, sorogan, wetonan, dan munadharah. Tebuireng pun menjadi model (kiblat) bagi banyak pesantren dalam mengembangkan sistem pendidikan.

Baca juga: Pesantren Darul Falah Ponorogo Siapkan Santri untuk Era Digital

Pelajaran dari Transformasi Gus Wahid

Langkah berani Gus Wahid menandai perubahan orientasi pesantren tanpa menggeser dasar ideologinya. Dari aspek kurikulum, ia menghindari dikotomi antara ilmu agama dan umum, melainkan membuatnya saling melengkapi.

Ketika menjabat sebagai Menteri Agama RI, Gus Wahid mengintegrasikan gagasan ini melalui kebijakan pemerintah, sehingga pesantren dan madrasah berada di bawah naungan Kementerian Agama. Dampaknya terasa hingga saat ini; mayoritas pesantren mengelola empat jenis pendidikan: fokus tafaffuh fi al-din, madrasah, sekolah umum, dan keterampilan/vokasi.

Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah menganalisa bahwa universitas besar di Barat bermula dari perguruan berorientasi keagamaan. Ia menyadari, “Mungkin saja, seandainya kita tidak dijajah, pesantren-pesantren itu akan tumbuh sebagaimana universitas-universitas tersebut.”

Masa Depan Transformasi Pesantren

Lahirnya UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren memberikan pengakuan dan jaminan kemandirian dari pemerintah. Namun, tantangan teknologi digital dan dinamika sosial menuntut pesantren untuk terus memperkuat literasi agar mampu mengelola peluang masa depan.

Beberapa rekomendasi untuk masa depan pesantren antara lain:

  • Hati-hati dan Terkoordinasi: Transformasi harus dilakukan tanpa merusak karakteristik, kepribadian, dan sanad keilmuan.
  • Peran Nahdlatul Ulama: Sebagai "akar", NU harus menjadikan pesantren sebagai fokus utama kebijakan. NU perlu merumuskan roadmap transformasi secara holistik agar tidak cacat secara akidah dan ideologi.
  • Kemandirian Ekonomi dan Kesehatan: Terobosan tidak boleh hanya berhenti di kurikulum, tapi juga menyentuh aspek kesejahteraan dan fasilitas kesehatan pesantren.

Transformasi pesantren adalah keniscayaan, namun ia harus tetap berpijak pada nilai-nilai salafus sholihin agar ruh jihad dan pengabdiannya tidak hilang ditelan zaman.

////////////////

Profil Penulis:

  • Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
  • Katib PBNU (2015-2018).
  • Wakil Ketua PWNU Jawa Timur (2018-2023).
  • Ketua Yayasan GPSI (Gerak Pengabdian Santri Indonesia).
Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas