Perang AS–Israel vs Iran dalam Timbangan Moralitas dan Hukum Humaniter
Serangan AS–Israel ke Iran buka perdebatan moralitas perang, diplomasi semu, dan martabat bangsa dalam konflik global.
Editor:
Glery Lazuardi

SERANGAN MILITER Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu menjadi objek telaah menarik untuk membaca secara mendalam moralitas perang yang dianut oleh para pemimpin AS dan Israel, termasuk moralitas perang yang dianut oleh kedua bangsa tersebut.
Moral dan perang adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan, meskipun bagi kalangan penganut pasifisme-pecinta perdamaian dan penolak perang, perang adalah bentuk kegagalan moral dalam interaksi antarmanusia dan antarbangsa.
Moralitas perang menjadi lempeng penting dalam kebijakan sebuah negara untuk melancarkan peperangan terhadap negara lainnya atau subjek hubungan internasional lainnya.
Moralitas perang yang buruk hanya menuntun sebuah negara ke arah jurang kehancuran-menang jadi arang dan kalah jadi abu.
Sedangkan moralitas perang yang dibangun dari sebuah cara pandang dan objektif untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan muruah sebuah bangsa sebagaimana yang dipraktikkan oleh Bangsa Persia-Iran saat ini, akan menjadi legasi sejarah bahwa perang adalah rational choice dan pilihan yang tidak bisa dihindarkan dalam rangka merevisi sistem internasional yang hegemonik, anarkis, dan penuh kepentingan sempit pemimpin yang mengendalikan negara besar sebagaimana yang dipertontonkan secara telanjang oleh Donald Trump dan Benjamin Netanyahu saat ini.
Diplomasi Sebagai Moralitas Perang Pertama
Serangan pre-emptive yang dilakukan oleh AS dan Israel dengan menyasar Sayyid Ayatullah Rohullah Ali Khamenei dan para pejabat tinggi politik dan militer Iran pada akhir Februari lalu menunjukkan cacat besar dalam moralitas perang yang dibangun oleh AS dan Israel.
Keduanya berselubung dalam selimut diplomasi dan negosiasi melalui mediasi Oman di Muscatt dan Jenewa.
Namun, diplomasi dan negosiasi yang mereka jalankan terhadap Iran bersifat semu karena sejak lama mereka telah merancang sebuah serangan militer kolektif terhadap Iran untuk melumpuhkan negara yang terkenal sengit dalam menentang zionis dan praktik hegemonik AS di Timur Tengah.
Dalam moralitas perang AS dan Israel, perang bukan terjadi karena kegagalan diplomasi, melainkan diplomasi hanya menjadi basa-basi untuk melegitimasi intensi perang yang sudah mereka miliki.
Dalam merespons manipulasi politik tingkat tinggi yang dimainkan oleh AS dan Israel, Iran membangun moralitas perangnya dengan berbasis martabat dan kemanusiaan yang tinggi.
Iran menaruh hormat pada otoritas global seperti Badan Energi Atom Internasional untuk melakukan inspeksi terhadap fasilitas nuklirnya dalam rangka membuktikan bahwa klaim AS dan Israel hanyalah tuduhan keji belaka.
Iran mematuhi proses diplomasi dan negosiasi yang dijalankan oleh Oman untuk mencari titik temu dan keseimbangan perdamaian. Namun Iran dengan rekam jejak superioritas imperium besar di masa lalu tidak bersifat naif.
Iran paham manipulasi yang kerap dilakukan oleh baik AS maupun Israel. Iran tidak menafikan opsi peperangan dengan berpijak pada moralitas menjaga kedaulatan nasional dan martabat mereka sebagai bangsa merdeka dan berdaulat.
Moralitas Perang dalam Timbangan Hukum Humaniter
Moralitas peperangan secara legal formal diatur dalam kaidah hukum perang atau hukum humaniter internasional.
Adanya hukum perang bertujuan untuk membatasi dampak konflik bersenjata dan memberikan perlindungan bagi mereka yang berstatus sebagai non-kombatan.
Secara sederhana, asas yang termaktub dalam hukum perang mencakupi pembedaan secara tegas antara kombatan dan non-kombatan, asas proporsionalitas yang mengatur bobot serangan dan dampak yang ditimbulkan, esensi kepentingan dan objektif militer, serta potensi terjadinya penderitaan yang tidak perlu yang diderita oleh pihak-pihak yang melakoni peperangan tersebut. Dengan berpijak pada asas-asas hukum perang tersebut, mari kita periksa satu-satu moralitas perang pihak-pihak yang terlibat.
Serangan rudal balistik AS dan Israel ke kediaman Sayyid Ali Khamanei dan keluarganya ditujukan untuk menghilangkan nyawa pemimpin negara.
Di sini, terlihat intensi AS dan Israel untuk menggulingkan rezim pemerintahan yang berkuasa, bukan intensi untuk mencari titik temu jangka panjang. Yang lebih fatal, serangan militer yang dilakukan oleh kedua negara menewaskan warga sipil yang tidak berdosa.
Lebih dari 100 orang siswi sebuah madrasah di Iran menjadi korban dari kekejian perang yang dilakukan oleh kedua negara. Baik AS dan Israel menghujani 26 dari total 28 provinsi yang ada di Iran dengan rudal-rudal balistik penghancur.
Tergambar jelas intensi buruk keduanya untuk menjadikan Iran rata tanah, tidak peduli apakah serangan tersebut menyasar kombatan atau non-kombatan, tidak peduli pada asas proporsionalitas perang, apalagi asas penderitaan yang tidak perlu.
Hal ini berbanding terbalik dengan moralitas peperangan yang dipegang teguh oleh Iran. Iran melakukan serangan balasan secara terhormat dengan menyerang ibukota Israel yang menjadi pusat pertahanan dan pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di Timur Tengah.
Iran juga melancarkan gelombang serangan terhadap kapal induk yang menjadi episentrum serangan AS di Kawasan Teluk.
Merespons serangan balasan Iran, lagi-lagi AS menunjukkan moralitas perang yang buruk tanpa malu-malu dengan mengagitasi dan mempropaganda negara-negara sekutunya di Timur Tengah seperti UEA, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Bahrain untuk turut serta membela kepentingan nasional AS dan Israel.
Buruknya moralitas perang AS juga ditunjukkan kepada negara-negara sekutunya di NATO. AS memaksakan kehendak kepada negara-negara sekutu seperti Kanada dan Spanyol untuk memberikan pangkalan militernya dalam mendukung serangan AS yang mulai terdesak oleh rudal-rudal tempur Iran.
Menyikapi respons sekutu yang menolak, AS mengancam akan menerapkan tarif resiprokal yang tinggi.
Cacat Formulasi Kebijakan Perang
Keputusan Trump untuk membantu Israel dalam menyerang Iran sejatinya lahir dari sebuah formulasi kebijakan luar negeri yang cacat. Dalam hal ini, masyarakat AS menolak cacat moral dalam peperangan ditujukan kepada AS sebagai sebuah negara.
Cacat moral peperangan adalah milik Trump yang mengatasnamakan AS sebagai subjek peperangan. Selaku kepala negara, Trump tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan kongres yang menjadi representasi suara masyarakat domestik AS.
Kebijakan Trump juga mendapat penolakan keras dari kekuatan politik yang ada di AS, bukan saja dari Partai Demokrat yang menjadi musuh alami Donald Trump, tapi juga para politisi Partai Republik tempat Trump bernaung. Pandangan yang sama juga muncul dari aliansi AS di NATO.
Keputusan Trump yang membawa AS ke zona perang tidak dikonsultasikan terlebih dahulu ke aliansi. Negara-negara anggota NATO merasa difait-accompli oleh AS dan “dijebak” untuk mematuhi klausul perang yang mereka sepakati bersama di NATO-ketika satu negara diserang, maka dianggap serangan terhadap negara lain.
Iran Pemenang
Peperangan yang terjadi antara AS-Israel dan Iran saat ini telah memasuki hari ketujuh atau kurang lebih satu pekan lamanya.
Sikap Trump yang terus menyerang Iran dengan menumbalkan nyawa para prajurit AS dan “membakar” triliunan dolar AS terus mendapatkan kritik baik dari level domestik maupun komunitas global.
Cepat atau lambat, moralitas perang yang buruk yang dipraktikkan oleh Trump dan Netanyahu akan mendegradasi semangat dan moral tempur para prajurit di lapangan.
Sedangkan di sisi Iran, peperangan yang dilandasi oleh moralitas perang yang konstruktif dan bermartabat akan menuntun Bangsa Persia untuk berperang sampai titik darah penghabisan.
Iran bahkan menolak tawaran mediasi yang diinisiasi oleh banyak negara dengan berpegang pada pandangan bahwa AS telah menodai proses diplomasi yang telah dilakukan sebelumnya.
Bandul kemenangan peperangan belum bisa diprediksi ke arah mana, termasuk opsi-opsi perdamaian di antara pihak yang bertikai.
Namun satu hal yang patut dicatat, bahwa moralitas peperangan yang dibangun Iran sejak perang pecah mendudukkan Iran sebagai bangsa terhormat dan negara pemenang perang yang sesungguhnya.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.