Mengupas Tuntas Keberhasilan Operasi Militer Amerika Serikat dan Israel di Iran
Sebuah sinkronisasi apik antara Mossad dan CIA menjadi titik kunci serbuan gabungan AS-Israel ke Jantung Iran yang menewaskan Khamenei
Mengupas Tuntas Keberhasilan Operasi Militer Amerika Serikat dan Israel di Iran
Oleh: Jannus TH Siahaan
Pengamat Kebijakan Publik dan Peneliti
Doktor Sosiologi Alumni Universitas Padjadjaran
BENIH-benih kehancuran infrastruktur militer Iran sebenarnya telah disemai jauh sebelum bom pertama jatuh di pinggiran Teheran.
Banyak pengamat intelijen meyakini bahwa cetak biru operasi ini dimatangkan dalam sebuah pertemuan tertutup yang sangat krusial di Washington pada 24 Juli 2024, di saat kunjungan resmi Benjamin Netanyahu ke Amerika Serikat.
Saat itu, Benjamin Netanyahu dan Donald Trump tidak hanya bertukar sapa diplomatik, tapi sedang mengunci takdir salah satu penguasa kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Amerika Serikat dan Israel Punya Target Baru dalam Perang Melawan Iran, Apa Itu?
Di balik pintu kayu tebal di Gedung Putih, garis-garis merah terhadap Teheran digambar ulang menjadi sebuah target serangan mematikan.
Pertemuan musim panas tersebut diyakini menjadi hulu dari segala kehancuran yang terjadi kemudian di Teheran, sebuah sinkronisasi apik antara Mossad dan CIA demi memastikan bahwa ketika perintah eksekusi diberikan, baik oleh Donald Trump maupun Netanyahu, tidak akan ada satu pun jengkal tanah di Iran yang luput dari pantauan satelit maupun agen lapangan kedua negara.
Baca juga: CIA Suplai Info Detail ke Israel, Di Balik Layar Pembunuhan Khamenei dan Para Petinggi Iran
Rencana yang dirancang dengan kerahasiaan tingkat tinggi tersebut akhirnya meledak menjadi fakta mengerikan tepat di fajar 28 Februari 2026.
Pagi itu, langit Teheran, alih-alih dihiasi cahaya matahari yang menyapa penduduk Iran di kaki Pegunungan Alborz, langit justru dibelah oleh kilatan jingga dan dentuman supersonik yang menandai berakhirnya sebuah era yang dipimpin oleh seorang pemimpin teokratik di Timur Tengah.
Di hari itu, sejarah mencatat bagaimana kesepakatan tertutup di Washington DC sebelumnya termanifestasi menjadi operasi militer paling ambisius dan mematikan yang pernah ada sejauh ini.
Dengan kode "Roaring Lion" bagi Israel dan "Epic Fury" bagi Amerika Serikat, kedua kekuatan bergerak serentak melakukan bedah militer untuk mencabut jantung kepemimpinan Republik Islam Iran hingga ke akar-akarnya.
Keberhasilan operasi tentu didukung oleh perencanaan yang matang, kalkulatif, dan tentunya penuh dengan tipu muslihat teknologi.
Di bawah kendali politik Trump dan Netanyahu, doktrin "dekapitasi total" dijalankan dengan sangat hati-hati.
Fokusnya jelas, bukan lagi sekadar memberi peringatan pada fasilitas nuklir di Natanz atau Isfahan, tapi menghapus seluruh struktur komando yang menjadi tulang punggung perlawanan Iran di kawasan selama empat dekade.
Di balik layar, nama-nama seperti Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Laksamana Brad Cooper dari CENTCOM bekerja bahu-membahu dengan Panglima IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir.
Mereka menyusun sebuah simfoni “penghancuran” yang melibatkan koordinasi lintas benua, lintas matra, hingga dimensi siber yang tidak kasat mata.
Jet Tempur Siluman Menyusup, Radar Pertahanan Bungkam
Kronologi serangan dimulai tepat pada pukul 09.45 waktu Teheran.
Tanpa ada deklarasi perang formal, gelombang pertama jet tempur siluman F-35I "Adir" milik Angkatan Udara Israel menyusup jauh di dalam ruang udara Iran.
Keberadaan mereka bak hantu, sehingga sistem radar S-300 dan S-400 kebanggaan Teheran dibuat bungkam, terbutakan oleh serangan siber masif yang dilancarkan Unit 8200 dan NSA beberapa menit sebelumnya.
Jet-jet ini didukung oleh armada "Scorpion Strike", kawanan drone bunuh diri berbiaya rendah yang berfungsi sebagai pengalih perhatian sekaligus penghancur sensor-sensor radar di sepanjang perbatasan. Para pilot Israel terbang dalam formasi sunyi, menggunakan celah geografis di pegunungan Zagros untuk tetap berada di bawah garis deteksi visual lawan.
Hanya dalam waktu lima belas menit, tirai pertahanan udara Iran robek berkeping-keping.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan